<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544</id><updated>2012-02-15T01:10:00.506-08:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Resensi'/><category term='Cerpen'/><category term='Catatan'/><category term='Jurnal'/><category term='Aphorisma'/><title type='text'>Langit Mularto Putra</title><subtitle type='html'>"Aku Penulis, itu tak baik untuk masa-depanmu"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-3775775097828855869</id><published>2012-02-15T01:10:00.000-08:00</published><updated>2012-02-15T01:10:00.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>SAYAP-SAYAP PATAH</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="text_exposed_root text_exposed"&gt;By: Khalil Gibran&lt;/div&gt;&lt;div class="text_exposed_root text_exposed"&gt;&lt;br /&gt;Hidupku dalam keadaan koma, kosong seperti hidup Adam di Surga, ketika aku melihat Selma berdiri di hadapanku seperti berkas cahaya. Perempuan itu adalah Hawa hatiku yang memenuhinya dengan rahasia dan keajaiban dan membuatku paham akan makna hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki dan aku kewaji&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;ban seorang perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya, dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar, dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur? Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati, tempat dua jiwa kita menyatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelap sayap-sayap kita, lalu sekarang kita turun ke dalam jurang? Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka? Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerangi jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang murka. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran; sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fbPhotoTagList hidden_elem" id="fbPhotoSnowliftTagList"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fbPhotoPagesTagList" id="fbPhotoSnowliftPagesTagList"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-3775775097828855869?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/3775775097828855869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/02/sayap-sayap-patah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3775775097828855869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3775775097828855869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/02/sayap-sayap-patah.html' title='SAYAP-SAYAP PATAH'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-1450810266670949720</id><published>2012-02-07T03:07:00.000-08:00</published><updated>2012-02-08T20:28:45.176-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>KUL DESAK</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Z-QK8CqqZMg/TzDugnVYWlI/AAAAAAAAANI/IcWsmTPCpoI/s1600/harap-dalam-kebodohan1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://3.bp.blogspot.com/-Z-QK8CqqZMg/TzDugnVYWlI/AAAAAAAAANI/IcWsmTPCpoI/s400/harap-dalam-kebodohan1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;By: Langit Mularto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari langit gelap dan mendung menggelayuti serupa gumpalan-gumpalan nan hitam dengan pawana yang menderu menakutkan. Aku duduk mematung di sisi jendela menanti curahan pertamanya yang tertumpah bagai selendang bidadari yang jatuh dari langit. Sepertinya malam ini hujan akan turun lebat. Seperti biasa, aku sudah bersiap untuk berdiri di tengah hujan, bukan untuk menaklukannya. Aku hanya ingin berdiam dalam hujan tanpa argumen atau banyak tanya tentang hujan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepertinya, hanya hujan yang menerima aku dalam peluk derasnya. Bukan dia, engkau, mereka atau siapapun juga. Bahkan, aku pun sulit menerima keberadaan ku sendiri.&amp;nbsp;Aku masih sulit memastikan jumlah titik-titik hujan itu, apakah sama banyaknya dengan jumlah harapanku, atau malah sama banyaknya dengan jumlah keputusasaanku.&amp;nbsp;Entah apa yang akan dikatakan hujan kepadaku. Ini tahun&amp;nbsp; ke-sembilan di 29 Desember&amp;nbsp;aku menggaulinya tanpa Audra.&amp;nbsp;Ya, 29 Desember, 9 tahun lalu, tanggal dimana aku mengutarakan rasa cinta pada Audra pada&amp;nbsp;waktu hujan di dini hari. &amp;nbsp;Mungkin hujan ini pun telah terlalu lelah untukku, hingga tiga tahun belakangan intensitasnya mulai berkurang untuk memeluk kerapuhanku .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini, hujan bagiku adalah peristiwa yang mesti dinikmati bersama. Tak mampu lagi aku menikmati hujan dalam kesunyian dan memandangi hujan seorang diri. Tak ada yang lebih damai selain bercengkrama di tengah rintik hujan bersama seseorang yang aku cintai. Audra. Aku sungguh mencintai wanita itu. Seseorang wanita yang entah sekarang di mana. Mestikah aku kehilangan impian yang justru paling penting bagiku?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku telah menjadi tahanan cintanya dan aku tak sanggup lagi berkompromi pada diriku sendiri. Aku bahagia saat itu, meski kumerasa tak mampu lagi lebih dekat. Sempat berpikir, kelak aku mungkin akan bisa melihatnya, merasakan cinta itu setiap hari, tapi ku tahu Audra tidak pernah di dekatku. Rasa sakit menyerap ke hati. Aku tak bisa membayangkan diriku dapat mencintai orang lain seperti cintaku pada Audra.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika itu, Audra datang dimana aku memang membutuhkannya. Saat ia tak ada, aku selalu membayangkan dengannya. Sebelum kehadirannya, aku membiarkan hidupku seperti apa adanya karena memang aku rasa sudah tak ada harganya. Teman-teman se-angkatanku semakin sukses menapaki hidup, sedangkan aku hanya bisa diam tak bergerak, seperti tersudut pada suatu jalan buntu. Berkali-kali aku jatuh dan terperosok.&amp;nbsp;Tinggal waktu yang akan bicara akan kemanakah aku.&amp;nbsp;Ketempat yang entah akan berakhir di mana.&amp;nbsp;Berharap memang selalu menyiksa dan membuatku sekali lagi rapuh. Banyak yang kurasa setelah itu ; sepi, kosong, sedih dan semuanya pergi. Aku kalah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengenal&amp;nbsp;Audra&amp;nbsp;tak cukup lama. Namun, begitu banyak pelajaran yang aku terima. Audra mengajarkan aku mengerti tentang hidup. Salah satunya untuk memaafkan diriku sendiri atas kegagalan-kegagalan dan kesalahan masa lalu, dan jangan sekali-kali coba menolehnya. Sebenarnya, bisa saja ia membuangku ke masa lalu yang tidak aku sukai, namun ia lebih memilih menyia-nyiakan hidupnya bersamaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Audra adalah mahasiswi program master di Universitas Tekhnik Delft, Belanda. Ia menyapaku terlebih dahulu di akun jejaring sosial yang ternama pada masa itu. Awalnya ia tertarik dengan tulisan-tulisanku yang bernada elegi. Setelah itu kami sering mendiskusikannya, dan mendiskusikan banyak hal lagi. Perbedaan waktu antara siang dan malam membuat kami tak leluasa berkomunikasi. Audra sangat disiplin menggunakan waktunya. &lt;em&gt;Week-end&lt;/em&gt; waktu yang dapat membuat kami begitu intens mengusik malam atau siang di sana. Di luar &lt;em&gt;week-end&lt;/em&gt; kami hanya mengandalkan &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt; untuk saling bercerita.&lt;br /&gt;Hingga tiba di Minggu ke tiga di Januari yang dingin yang tak pernah aku lupakan. Audra mengirimkan e-mail untukku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dear Damar,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Damar, Minggu ini aku di Praha. Ada seminar yang harus aku ikuti. Musim dingin yang menyedihkan, tapi aku harus pergi. Damar, kelak aku ingin kamu menemaniku keliling tempat-tempat indah ini. Aku ingin engkau ada di sini. Mendampingi aku dari satu kota ke kota lain. Hingga kita bisa melihat dunia yang indah ini dan mengerti banyak hal.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Damar, ada yang ingin aku katakan padamu. Ada impian yang hendak kutitipkan padamu. Hanya padamu, Damar. Lelaki yang begitu aku cintai. Aku tahu pada dasarnya kamu begitu tangguh. Kelak, tak ada satu pun&amp;nbsp; yang akan menyulitkanmu. Damar, aku telah menemukan sosok lelaki impianku. Kamu, Damar. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya aku hanya berpura-pura berani, tegar dan terbuka. Sebenarnya aku pun tak berani menghadapi kehilangan, karena itu banyak cerita yang aku suka darimu adalah cerita elegi. Aku suka tulisan-tulisanmu; Kehilangan nyawa, kematian orang terkasih, kepergian orang tua dan banyak lagi. Terkadang aku bertanya apa arti semua ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Damar, Aku mencoba meraba mengapa Tuhan melibatkanku ke dalam kisahmu. Jadi Tuhan ingin aku dan engkau belajar ketegaran dan keberanian. Itulah yang selalu ku harapkan. Aku mendadak mengerti dan paham.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelak kau harus mendapat apa yang kau impikan. Tak sekedar dapat, namun kau juga harus memperebutkannya. Ingatlah, banyak orang ingin kamu berubah. Banyak orang yang mendoakanmu. Jangan pernah lemah. Jangan pernah kau biarkan hidupmu pergi sedikit demi sedikit. Kau tak boleh begitu. Aku menyukai semua yang diatur Tuhan ini. Karena aku tahu dengan memiliki keseriusanmu terhadap hidup kau bisa memberi bahagia pada orang-orang di sekitarmu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Damar, saat membaca tulisanku, mohon jangan menangis. Kelak dengan keyakinanmu, Tuhan akan tersentuh. Aku titip kebahagiaanku di dirimu. Aku tahu kau takkan mengecewakanku. Sekarang aku tinggalkan kenangan kita untukmu dan kenangan itu takkan pergi lagi. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Damar, Aku telah jatuh cinta pada seseorang pria "tersesat" yang sedang mencari jalannya bernama Ade Damar. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku mencintaimu, Damar.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di selimuti Cinta,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Audra.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah e-mail itu, tak lagi ku dapati sapa Audra.&amp;nbsp;Gadis itu&amp;nbsp;pergi lebih cepat meninggalkan bayang-bayangnya yang masih kupeluk. Serasa gelembung kegembiraan telah usai seiring kepergiaannya. Kenangan akan Audra terus berkelebat dalam kepalaku.&amp;nbsp;Aku seolah takut menghadapi pagi, dan mengahadapi kesadaran bahwa tak ada lagi Audra di sisiku. Bagiku lebih nyaman dalam keadaan tertidur dibanding ketika terjaga dan pikiranku tersiksa memikirkannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;Wanita itu selalu mengusik pikiranku, tak pernah pikiran ini dapat beralih dari Audra, berharap ia ada di sisiku. Aku merindukan Audra, merindukan kelembutan dan perhatian yang dicurahkan terus menerus kepadaku. Ia membuatku merasa amat dicintai dengan cara yang belum pernah dilakukan wanita lain yang pernah singgah di hatiku.&lt;br /&gt;Aku selalu berharap pada Audra. Berharap kehadirannya, dengan harapan itu, aku bermimpi suatu saat kita bersama menjalani hari. Mimpi-mimpi yang membuatku terus berusaha memantaskan diri jika kelak ia hadir di dunia nyataku. Aku bekerja keras untuk itu. Untuk perubahanku. Aku tahu Audra tidak begitu mementingkan hasil apa yang akan aku dapat dari perubahan itu. Ia hanya ingin aku menikmati proses dan perjuangannya. Dan aku melakukan semua itu hingga kini, hingga perubahan itu menjadi buah yang aku nikmati. Namun tetap perubahan yang tak lengkap tanpanya. Kebahagiaan yang kosong tanpa hadirnya. Aku tahu&amp;nbsp;kelak Audra akan datang. Itu janjinya, "Damar, walau aku tak tahu seperti apa akhir kisah kita nanti, namun aku pastikan, kita akan bersama-sama di akhir cerita ini."&lt;br /&gt;Titik-titik air yang jatuh di atap membuatku terjaga dari pikiranku tentang Audra dan menyadari turun hujan. Lumayan deras. Kaca-kaca jendela seolah dipukul-pukul oleh butiran-butiran air yang menimpa tanpa ampun, dan ujung-ujung atap rumah meneteskan air dengan bunyi gemericik berulang-ulang. Kamarku semakin temaram dan nyaman. &lt;br /&gt;Titik pertama hujan turun mengetuk jendela kamarku. Oh, tunggu . Sepertinya hujan itu bersuara. Ya, hujan itu bergumam padaku, "Sampai kapan kamu terus menunggu Audra?"&lt;br /&gt;Lalu titik berikutnya menyusul, "Audra telah pergi.&lt;br /&gt;Dan datang gerombolan jarum-jarum hujan menusuk-nusuk atap, jendela, dinding dan semua berujar bersamaan, "Audra sedih melihatmu begini."&lt;br /&gt;Aku berhambur keluar menyambut hujan,&amp;nbsp;meresapi fatamorgana suara itu. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;Kegelapan semakin pekat menyelimuti meski suasana tetap tak sepi. Dentuman-dentuman amarah guntur bersahut silih berganti.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;Hujan turun makin lama makin deras. Taufan meraung-raung menghantamkan diri pada pohon akasia dan semak belukar seperti segerombolan setan yang sedang berang. Dan setiap terkena hantaman, pohon itu terguncang seolah-olah detik berikutnya pucuk-pucuknya akan mencium tanah. Terjungkal.&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;Dalam sekejap saja&amp;nbsp;aku telah basah kuyub mulai dari kepala sampai kaki, rambut, pakaian dan segalanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;Sesosok wanita hadir dalam badai yang mengacak alam.Aku terkejut menatapnya. Postur tubuhnya menampakkan keanggunan, caranya menggerakkan tubuh, atau caranya menatapku. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;wajahnya sangat cantik, benar-benar merona.   &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kami saling menatap beberapa saat, sama sekali tanpa mengucapkan sepatah kata. Dunia terasa diam, dan di saat yang sama&amp;nbsp;kami bisa merasakannya terkuak. Ruang dan waktu melebur pada momen itu. Kesunyian dalam diam merupakan tekanan yang tak tertahankan bagiku.&amp;nbsp;Aku pun mulai memecah kesunyian.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;Audra, aku merindukanmu." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;"Aku juga, Damar."&amp;nbsp;Audra bergerak maju memelukku. "Damar, maukah kau ikut aku."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;"Aku akan bersamamu kemanapun, Audra. Bukankah dulu kamu berjanji bahwa kita akan bersama-sama di akhir cerita. Aku tagih janjimu, Audra."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;"&gt;"Iya, Aku penuhi janjiku padamu Damar." Audra mengapit tanganku dan melangkah dengan ringan seperti melayang. Semakin jauh kami melayang meninggalkan hujan yang sama sekali belum reda. Aku menoleh ke belakang, ke sebuah pohon akasia yang terjungkal karena badai tepat di depan rumahku. Batang dan pucuknya yang kokoh benar-benar nampak tak berdaya diayun angin hingga mencium bumi, menindih sosok tubuh kurus yang telah putus asa. Lelaki yang mirip sekali aku. Ia sedang bersimbah darah terjepit batang akasia yang kokoh itu. Ya, itu jasadku sedang meregang nyawa. Dan ruhku melayang bersama Audra.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-1450810266670949720?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/1450810266670949720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/02/kul-desak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1450810266670949720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1450810266670949720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/02/kul-desak.html' title='KUL DESAK'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Z-QK8CqqZMg/TzDugnVYWlI/AAAAAAAAANI/IcWsmTPCpoI/s72-c/harap-dalam-kebodohan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-3525737874289079621</id><published>2012-02-06T20:33:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T20:33:12.236-08:00</updated><title type='text'>PECI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-T87u-m1u5jA/TzCpR-9wT9I/AAAAAAAAANA/W-dXXm-p9cI/s1600/sufi+dance+painting+with+mark.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="234" src="http://4.bp.blogspot.com/-T87u-m1u5jA/TzCpR-9wT9I/AAAAAAAAANA/W-dXXm-p9cI/s320/sufi+dance+painting+with+mark.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia bukan gunung, ini pepatah Rusia artinya manusia bisa berubah, begitu juga Kakek. Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya, desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun&amp;nbsp;di sore hari&amp;nbsp;Muhammadiyah. Maka jadilah saya Muhammadiyah walau saya begitu mengidolakan Gus-Dur dengan mengambil gagasan-gagasan besarnya&amp;nbsp;dan mengabaikan renik-renik kecilnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakek&amp;nbsp;beda lagi. Ia sudah&amp;nbsp;ada sebelum&amp;nbsp;unsur pembaru&amp;nbsp;datang ke desa kami.&amp;nbsp; Dia abangan, apa boleh buat abangan, dia memang tidak mendefinisikan seperti itu. Maka, baiknya kita perjelas, dia tidak shalat lima waktu, tapi dia pernah bertapa seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu kenabiannya. Kakek juga mengajari saya berhenti makan sebelum kenyang seperti teladan Kanjeng Nabi. Dan ia pun suka tirakat seperti teman-teman saya di NU. Makan hanya umbi-umbian, cegah daging, cegah garam dan melek malam. Wisdomnya, jangan sebut keburukan orang, lupakan kebaikanmu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baginya agama itu hidup kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama. Menurutnya, jaman susah akan berakhir segera setelah datang ratu adil pada suatu hari nanti.&amp;nbsp; Goro-goro menurut orang jawa pertanda akan datangnya perubahan alam beserta jaman. Dalam dunia wayang setelah goro-goro di tengah malam keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong. Mereka simbol kerakyatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;G 30 S PKI, yang bikin bumi indonesia ini gunjang-ganjing barangkali bagian dari goro-goro itu.Pemerintahan diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah, Pancasila dan UUD'45 di kedepankan, partai politik disederhanakan dan ketakwaan terhadap Tuhan menjadi syarat seorang menteri. Wajah Indonesia berubah cepat dan Kakek kini sembahyang, ke sana- ke mari bersafari dan berpeci, seolah takut jika tidak berpeci dianggap tidak islam. "Dari dulu sebenarnya saya juga islam," katanya. "Dari dulu saya Islam, hanya hidup belum melakoni, belum menjalankan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari dulu Islam? saya tidak mengerti. Dalam pikiran saya terekam rumusan yang shalat itu santri yang tidak berarti abangan. Tetapi, belakangan saya kembali menemukan maksud Kakek, Ke Islaman bukan &lt;em&gt;status being&lt;/em&gt;, Islam adalah &lt;em&gt;status becoming&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-3525737874289079621?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/3525737874289079621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/02/peci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3525737874289079621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3525737874289079621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/02/peci.html' title='PECI'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-T87u-m1u5jA/TzCpR-9wT9I/AAAAAAAAANA/W-dXXm-p9cI/s72-c/sufi+dance+painting+with+mark.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-1504211401223783864</id><published>2012-01-12T15:01:00.000-08:00</published><updated>2012-01-12T15:01:13.351-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnal'/><title type='text'>Dari Tempatku Berdiri</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nhc1T9Q6ToA/Tw9lxM0B_XI/AAAAAAAAAMc/a7Xka4tp-Ck/s1600/CBZ+RSCM.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://1.bp.blogspot.com/-nhc1T9Q6ToA/Tw9lxM0B_XI/AAAAAAAAAMc/a7Xka4tp-Ck/s400/CBZ+RSCM.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;By: Langit Mularto Putra&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langit berada di dalam rumah sakit tersibuk di Jakarta dengan segala bunyi dan aromanya. Meskipun semua keadaan Unit Gawat Darurat selalu sama saja, apapun rumah sakitnya. Selalu sibuk. Udara di dalam begitu sesak karena ketegangan, kekhawatiran, keputusasaan dan darah segar. Bau antiseptik, alkohol, disinfektan, darah, keringat dan amoniak bersatu memekatkan udara bergabung dengan suara sepatu bersol para perawat dan decitan roda-roda emergency stretcher. Setiap lima menit – bahkan mungkin kurang- selalu terdengar suara sirene yang melengking dan menjerit putus asa dengan kerlap-kerlip lampu merah berputar menyilaukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pintu Instalasi Gawat Darurat terbuka, menuju ruang lobi berbentuk oval dengan interior yag mewah. Ada sepasang pintu kaca dan tulisan yang mempersilakan pengunjung masuk yang langsung terhubung dengan ruang tunggu dan loket penerimaan pasien. Ruang itu berbentuk persegi dan terang benderang. Di samping pintu ada seorang resepsionis berjas putih. Ia sudah separuh baya, tidak cantik &lt;span class="text_exposed_show"&gt;dan wajahnya terlihat tenang tanpa senyum. Sepertinya resepsionis itu dipilihnya dengan tidak begitu teliti, karena keluarga pasien selalu memasang muka masam dan bingung setelah bertanya padanya. Lorong-lorong gawat darurat dipenuhi aktivitas pekerja rumah sakit yang tiada hentinya memasukkan pasien ke ruang gawat darurat, sedangkan pekerja yang lain mengeluarkan pasien yang telah mendapatkan pertolongan pertama di ruang itu untuk dipindahkan ke ruang perawatan lainya. Udara di penuhi semerbak bau antiseptik yang menerpa hidung Langit saat ia memasuki rumah sakit itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Ruang gawat darurat itu mempunyai jendela utama yang lebar, serta sepasang jendela lain yang berukuran lebih kecil di kanan-kirinya, yang menghadap ke taman berumput dan menyajikan pemandangan ke lorong-lorong menuju ke ruangan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Dokter yang sedang bertugas masih muda, cantik dan ramah. Wajahnya putih, mata gelap di balik kacamata berbingkai mika. Rambutnya tergerai keriting, tapi matanya terlihat lelah. Bibirnya yang tipis tidak dipoles dengan lipstik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;div class="text_exposed_root text_exposed" style="text-align: justify;"&gt;Di tengah malam rumah sakit ini sunyi. Di bawah penerangan lampu jalan, jalan di bawah sana nampak hitam kelam di antara deretan mobil yang terparkir secara paralel. Walau jendelanya tertutup, Langit dapat mendengar deru lalu lintas malam di jalan Diponegoro.&lt;/div&gt;&lt;div class="text_exposed_root text_exposed" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Malam itu berawan, dan rona merah di angkasa terbias oleh sinar kota yang tak pernah tidur itu. Di sebelah kiri sana, bagi bayang-bay&lt;span class="text_exposed_show"&gt;ang siluet yang gelap berlatar belakang cahaya lampu jalan yang kuning kusam itu, nampak gedung Universitas Indonesia yang berarsitektur gaya eropa awal abad dua puluh-an. Lalu lintas terdengar lebih bising di jalan di hadapannya itu. Konon di tempat inilah dapur pergerakan reformasi diperjuangkan. Jalan Salemba dipenuhi lautan manusia waktu itu, hingga pemerintah terasa sesak dan sulit bernafas sampai akkhirnya memutuskan diri untuk menyerah pada tuntutan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="text_exposed_root text_exposed" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Langit meneguk sedikit kopi dengan nikmat, lalu membuka kunci jendela yang menghubungkn ruangan itu dengan dunia luar. Udara malam menyeruak masuk, bersih, dan segar. Ditutupnya jendela, lalu ia bersandar termangu menatap malamnya Jakarta. Awan rendah dan berat telah membias cahaya rembulan, dan kini tergantung bagai kapas kemerahan yang disusun diatas lembaran kelamnya malam. Angin berembus sepoi-sepoi, menggoyang dedunan di pohon-pohon. Tepat di seberang rumah sakit ini, gedung sebuah universitas akuntasi tinggi menjulang, mungkin hingga belasan lantai, memandangnya bagi bayang-bayang raksasa nan hitam. Menyaksikan lalu lintas malam merupakan keasyikan tersendiri. Terkadang jalan itu tampak begitu lengang, hingga seakan kita dapat melakukan kegiatan apapun di tengah jalan itu, termasuk berbaring. Terkadang lagi, seperti saat ini, nampak begitu ramai, seperti barisan tentara yang ber-devile tanpa putusnya, hingga sepertinya menyebrang saja begitu sulit. Memandang dari tempat Langit berdiri sekarang seperti menikmati pertunjukan cahaya lampu yang bervariasi, dengan latar belakang lengkung lampu jalan yang mendominasi, silih berganti kita melihat kerjapan-kerjapan berikutnya dari kendaraan lain yang tiada putusnya; motor, mobil mewah, bis-bis usang. Tampak jalanan seperti sungai yang terus mengalirkan arus kendaraan tanpa lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-1504211401223783864?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/1504211401223783864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/01/dari-tempatku-berdiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1504211401223783864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1504211401223783864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/01/dari-tempatku-berdiri.html' title='Dari Tempatku Berdiri'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nhc1T9Q6ToA/Tw9lxM0B_XI/AAAAAAAAAMc/a7Xka4tp-Ck/s72-c/CBZ+RSCM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7680414165458780341</id><published>2012-01-01T01:19:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T19:44:31.215-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aphorisma'/><title type='text'>Aku Ingin Ada, Menjadi Imammu</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3EOtL8VXXeQ/TwAlA2Ew-RI/AAAAAAAAAMU/3GTlE4bhSLE/s1600/sujud-dihadapan-mu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-3EOtL8VXXeQ/TwAlA2Ew-RI/AAAAAAAAAMU/3GTlE4bhSLE/s200/sujud-dihadapan-mu.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;By : Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ada di saat Shubuhmu&lt;br /&gt;Menaruh bunga matahari di setiap pagi di sisi ranjangmu&lt;br /&gt;Mengumandangkan tasbih melihat parasmu&lt;br /&gt;Berwudhu dan menjadi Imammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ada di saat Dzuhurmu&lt;br /&gt;Bahu membahu menaklukkan dunia&lt;br /&gt;Berucap basmalah memulai kerja&lt;br /&gt;Lalu bertakbiratul ihram menjadi Imammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ada di saat Asharmu&lt;br /&gt;Saling mengusap peluh dari lelahnya raga&lt;br /&gt;Bersyukur tahmid setelah usaha&lt;br /&gt;Hingga ru'ku menjadi Imammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ada di saat Maghribmu&lt;br /&gt;Membebaskan diri dari tuntutan dunia&lt;br /&gt;Mengalun takbir di penghujung senja&lt;br /&gt;Tertunduk sujud menjadi Imammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ada di saat Isyamu&lt;br /&gt;Mengecup kening, mengulas senyum, menderai tawa&lt;br /&gt;Bersesal istigfar di malam yang tua&lt;br /&gt;Bersalam menjadi Imammu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7680414165458780341?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7680414165458780341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/01/aku-ingin-ada-menjadi-imammu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7680414165458780341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7680414165458780341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2012/01/aku-ingin-ada-menjadi-imammu.html' title='Aku Ingin Ada, Menjadi Imammu'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3EOtL8VXXeQ/TwAlA2Ew-RI/AAAAAAAAAMU/3GTlE4bhSLE/s72-c/sujud-dihadapan-mu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-198155647794081374</id><published>2011-12-30T20:57:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T23:01:29.570-08:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Memelukmu.</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-U0kwcoAq9Ew/Tv6V4Vc6NQI/AAAAAAAAAMI/Ce7MNrSevN8/s1600/hug.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-U0kwcoAq9Ew/Tv6V4Vc6NQI/AAAAAAAAAMI/Ce7MNrSevN8/s320/hug.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;By : Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memelukmu dalam diam &lt;br /&gt;Yang menyenandungkan lagu shalawat terpendam&lt;br /&gt;Hingga kita lemah di ujung senja yang padam&lt;br /&gt;Namun cinta tetap mengalun menganyam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memelukmu dalam tawa&lt;br /&gt;Yang menggelembungkan bahagia kita&lt;br /&gt;HIngga kita terkekeh dalam kerapuhan masa tua&lt;br /&gt;Namun cinta kan tetap ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memelukmu di kala sepi&lt;br /&gt;Bersenandung Alif, Ba,Ta sambil mengaji&lt;br /&gt;Hingga kita ringkih menatap pelangi&lt;br /&gt;Namun cinta tetap di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memelukmu dalam angkara&lt;br /&gt;Yang melumat dan meluluh-lantakkan jasad kita&lt;br /&gt;Hingga nyawa terberai dari raga&lt;br /&gt;Namun cinta kan tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-198155647794081374?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/198155647794081374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/12/aku-ingin-memelukmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/198155647794081374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/198155647794081374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/12/aku-ingin-memelukmu.html' title='Aku Ingin Memelukmu.'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-U0kwcoAq9Ew/Tv6V4Vc6NQI/AAAAAAAAAMI/Ce7MNrSevN8/s72-c/hug.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-615738176426080862</id><published>2011-12-12T00:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T03:12:49.005-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>DEMOKRATISASI ROKOK</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-o4mleFj5CPc/TuW0goaYIbI/AAAAAAAAALc/ocM3M4dB8Sc/s1600/last-cigarette-eugene-ivanov.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-o4mleFj5CPc/TuW0goaYIbI/AAAAAAAAALc/ocM3M4dB8Sc/s320/last-cigarette-eugene-ivanov.jpg" width="221" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;By : Langit Mularto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wak Haji Abdullah, seorang kiai desa yang namanya tak setenar A'a Gym dan hanya berkecimpung sebagai marbot masjid -entah masjid NU atau Muhammadiyah- ternyata mempunyai pengalaman spritual yang mungkin sama dengan Gus Dur. Ketika seorang keponakannya mengaji dan mengajak berdiskusi tentang berbagai masalah sepele sampai rumit, Wak Haji dengan enteng menjawab seraya berseloroh gaya Gus Dur kiai panutannya itu "Begitu aja kok repot."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontar seperti ; hukum pacaran, melihat gadis tetangga sebelah dengan pakaian minim, sampai mencuri sesuatu demi anak yang lapar tidak luput ditanyakan keponakan itu. Tak lupa Wak Haji menjawabnya dengan diakhiri kalimat sakti tadi. Mungkin Wak Haji tadi ingin mengikuti jejak idolanyaitu sebagai kiai yang sulit dipahami, sehingga jawabannya pun nyaris tak dipahami orang sekelilingnya apalagi keponakannya yang masih bau kencur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada suatu hari sang keponakan bertandang ke rumah Wak haji sambil mengumpat, mengutuk dan &lt;em&gt;ngegerundel&lt;/em&gt;. Wak haji tentu bingung, "&lt;em&gt;wong&lt;/em&gt; ga &lt;em&gt;ngerti&lt;/em&gt; masalahnya kok digerundeli."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hingga sang keponakan bercerita menumpahkan kekesalannya. "Begini Wak, masak tadi di mobil orang merokok seenaknya, padahal dia sudah tahu ada tanda dilarang merokok di depan matanya." Ujar sang keponakan berapi-api seperti sedang menyaingi pidato Bung Tomo dan Bung Karno itu. "&lt;em&gt;Emang&lt;/em&gt; di dunia ini dia hidup sendiri? &lt;em&gt;emang&lt;/em&gt; asap rokoknya ditelan sendiri? atau jangan dia sudah tidak punya jantung ya, Wak?" sambung sang ponakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diberondong pertanyaan seperti itu, Wak Haji dengan santai menjawab. "Orang merokok dengan duitnya sendiri, mulutnya sendiri kok dimarahi. Merokok itukan bagi sebagaian orang nikmat. Kata iklan bikin hidup lebih hidup, meskipun tanpa merokok kita bisa hidup melebihi orang yang merokok."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Katanya merokok itu makruh, kok masih banyak yang mendekati bahkan menghisap rokok ya Wak?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kata siapa merokok makruh? apakah dengan merokok dapat mengganggu imanmu, lantas kamu lupa untuk syahadat? lupa dengan shalat? emoh naik haji kalo kaya raya nanti? jangankan saking asyiknya merokok kamu bisa lupa sama penciptamu Yang Maha Gede dan Maha tidak butuh rokok itu. Kalau sudah sampai tahap ini merokok itu haram, mungkin sama haramnya dengan syirik, karena jika merokok sudah sampai tahap ini, kita merasa kenikmatan hanya datang dari rokok dan tidak ada yang nikmat selain rokok. Ini bahaya nanti Dji Sam soe kita anggap sebagai tuhan. Marlboro bisa dianggap Djibrilnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kalau merokok hanya mengganggu&amp;nbsp; stabilitas fungsi hidung sebelahmu duduk hingga khawatir akan berjalannya fungsi jantung, ini masih agak ringan karena berarti rokok hanya tidak demokratis. Rokok memasung kebebasan dalam urusan hisap menghisap, berarti rokok masih perlu penataran ala orde baru agar menyadari hak dan kewajiban sebatang rokok."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Memangnya ada rokok yang demokratis, wak?" potong sang keponakan ditengah arus deras pernyataan Wak Haji Abdullah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Wah ada itu, kalau saja asap rokok dengan bijaksana memilih hidung siapa saja yang harus dimasuki, atau yang tak perlu dimasuki, hingga asap rokok tak mengganggu stabilitas fungsi hidung, tak mengganggu pertahanan dan kenyamanan jantung yang benci merokok. Namun mungkin saja ia sedanag memaknai fungsi hidung sebagai indera pencium yang dapat mubazir jika tidak ada yang dicium, sehingga ia dapat menyalurkan rezeki yang berupa asap rokok itu ke hidung masuk melalui kerongkongan dan berhenti di jantung, sehingga merokok dapat bermakna. Jadi, jenis orang ini mempunyai rasa syukur sehingga fungsi organ tubuh tertentunya bisa bergerak disaat organ tubuh yang lain hanya menunggu rezeki dalam bidang lain." Ucapan Wak Haji terus mengalir sebelum dipotong keponakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tunggu-tunggu, Uwak sedang membicarakan asap rokok, bukan? atau sedang membicarakan orang yang sedang memaksakan pendapat?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Memang kamu pikir tentang apa?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ah, Uwak selalu saja metafor...."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-615738176426080862?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/615738176426080862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/12/demokratisasi-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/615738176426080862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/615738176426080862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/12/demokratisasi-rokok.html' title='DEMOKRATISASI ROKOK'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-o4mleFj5CPc/TuW0goaYIbI/AAAAAAAAALc/ocM3M4dB8Sc/s72-c/last-cigarette-eugene-ivanov.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-3981924795591281978</id><published>2011-12-01T22:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T22:28:22.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>7 PINTU</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CM7KipsQnqM/Tthtjf6EvVI/AAAAAAAAAI0/b3qOV51hb-c/s1600/ABSTRAK.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-CM7KipsQnqM/Tthtjf6EvVI/AAAAAAAAAI0/b3qOV51hb-c/s320/ABSTRAK.jpg" width="216" /&gt;&lt;/a&gt;By : Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendirian musafir berjalan merenungi nasibnya. Baru saja ia tertolak memasuki pintu pertama dari tujuh pintu yang harus dilaluinya. Niatnya untuk mengantarkan setetes air dalam jambangan kepada Sang Raja terpaksa tertunda. Sang penjaga pintu pertama terlebih dahulu mencegah dan menghardiknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"Raja tak akan menerima airmu yang berwarna keruh itu,"&lt;/em&gt; bentak sang penjaga pintu itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"Airmu terlalu sering berubah warna. Kadang emas, esok hitam, lusa abu-abu. Kembalilah jika kualitas airmu sudah baik,"&lt;/em&gt; usirnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musafir gontai melangkah sambil bergumam, &lt;em&gt;"oh Raja, aku yang tidak mengetahui, tetapi mengira bahwa aku mengetahui."&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum tiba di jalan ini, selama bertahun-tahun ia berkelana mencari Sang Raja. Daerah yang pertama di kunjungi adalah Hejaz dan Cordova. Ia pandangi semua penjuru tempat, di gunung, di bukit atau di lembah, tak dijumpainya Sang Raja. Ditempat pemujaan Hindu, ke Pagoda kuno, tiada tanda-tanda keberadaannya. Ia coba bertanya di setiap orang yang dijumpainya, tetapi tak ada seorangpun yang mampu memberi keterangan baginya. Jalan yang ia temukan saat ini dipelajarinya dari tabib Cina yang memeberikan resep berbeda bagi orang yang berbeda pada penyakit yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baginya yang dibawa adalah setetes air dari laut yang tak terbatas yang menunjukkan individualitas yang sekarang sebagai sebuah tetes, kepada semua individualitas yang lampau sebagai tetes-tetes dan gelombang-gelombang yang berurutan dan juga pada ikatan yang lebih besar yang mempersatukan semua tahap dengan semua tetes lainnya yang bergabung dengan keseluruhan yang lebih besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah menukar tetes air dari laut yang maha luas, musafir dengan tegak berjalan menuju pintu pertama. Kali ini yang didapatnya sambutan ramah dan hangat. "Silahkan masuk kawan. Air ini sangat pantas untuk hadiah sang Raja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya saat ini aalah menuju pintu kedua. Sementara ia terus berusaha menjaga air dari sengatan api yang dapat mengurangi kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dari mana asalmu?" &lt;/em&gt;Tanya penjaga ketika ia tiba di pintu kedua.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Aku dari penginapan anak-anak."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apa yang kau bawa dalam jambangan itu?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Air. Ini untuk hadiah Rajaku."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apa mungkin Raja hendak menerima, sedangkan jambanganmu hitam, kusam dan buruk seperti itu?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jangan memandang bentuk luarku, tetapi akaan kuserahkan apa yang ada di dalamnya. Lagipula, apakah Raja masih bisa tertipu dengan kemasan ini?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tidak,"&lt;/em&gt; sergah sang penjaga pintu.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Apakah dia tidak mengetahui isi di dalam jambangan ini?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dia paling mengetahui, bahkan melebihi dirimu."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kalau begitu aku tak akan menipunya dengan kemasan bagus."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Cukuplah penjelasanmu, masuklah! Kau diterima dengan ramah di sini."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraannya meluap hingga hampir membanjiri rasa sombongnya. Sesaat kemudian lumpur kesenangan itu surut atas kesadarannya. Perjalanan ini menguras segala komponen dalam dirinya. Peperangan dalam dirinya mengisyaratkan kehati-hatian langkah. Perjalanan kali ini berbeda, karena tubuhnya tak lagi muda dan banyaknya pengalaman tak selalu menguntungkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pintu kedua dimana rahasia-rahasia terjawab membuatnya semakin yakin melangkah kepintu berikutnya. Penjaga pintu ketiga sudah menanti. Di tangannya tergenggam buku yang berisi nama calon tamu Sang Raja.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Hai penjaga pintu, apa yang kau genggam?"&lt;/em&gt; Seru musafir sebelum disapa.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Aku membawa buku,"&lt;/em&gt; seraya menunjukkan buku yang tidak terlalu tebal. "Dalam buku ini, aku menulis nama-nama sahabat Raja," sambungnya.&lt;br /&gt;Musafir bertanya, &lt;em&gt;"Apakah namaku ada di sana?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Engkau bukan bagian dari sahabat Raja."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tetapi aku adalah teman dari sahabat Raja."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penjaga terdiam sejenak dan kemudian mengangguk. &lt;em&gt;"Baiklah, baru saja aku menerima perintah untuk menuliskan namamu paling atas dari daftar ini, sebab kau tulus memintanya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Di depan pintu keempat musafir mengetuk pintu perlahan. Pintu belum terbuka, namun suara sudah menyambut dari dalam. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Siapa itu?"&lt;/em&gt; Nada berat terlantun dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Inilah aku."&lt;/em&gt; Jawab musafir.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Raja berpesan, tidak ada ruangan di sini untukNya dan untukmu."&lt;/em&gt; Suara kemudian menghilang.&lt;br /&gt;Musafir sedikit jengkel, diperiksa air dalam kendi. Air masih jernih. Kembali ia bergumam, &lt;em&gt;"oh Raja, aku yang tidak mengetahui tetapi mengira bahwa aku mengetahui, bebaskan aku dari kebingungan ketidaktahuan ini."&lt;/em&gt; Ia mulai ragu atas perjalanan ini. Ia sadar ia tak punya kehendak apapun atas semua ini. Sesaat kemudian ia meloncat kegirangan. Teriakannya mengguncang diri. &lt;em&gt;"Aku tak berarti. Seharusnya sejak semula aku tidak mengatakan ; untukku, denganku dan milikku,"&lt;/em&gt; gumamnya. Begitulah akhirnya ia melewati pintu keempat dengan menjawab, &lt;em&gt;"inilah Engkau,"&lt;/em&gt; maka pintu dapat dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga pintu kelima menyapa dari kejauhan, &lt;em&gt;"apa yang kau inginkan musafir yang bodoh?"&lt;/em&gt; Setengah berteriak sambutan itu.&lt;em&gt; "Raja mengetahui bahwa Dialah yang kau inginkan. Keinginan bertemu Raja sangat berbahaya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Saya akan dengan senang hati mengalami apapun demi berada bersama Raja, dan dengan senang hati kehilangan apapun yang kami punya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pintu ke-enam, musafir ditanya tujuan pemberian hadiah tersebut. &lt;em&gt;"Hai tuan, sepertinya kau punya keinginan dari pemberian itu. Apakah kau ingin merayu Raja agar kau dapat menikmati hidangan Raja, ataukah kau terlalu takut dengan kesengsaraan yang diberikan raja jika upetimu tidak mencukupi?"&lt;/em&gt; Tanya penjaga pintu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apakah jika aku melihat cahaya Raja, aku masih merasa butuh hidangannya?"&lt;/em&gt; Musafir balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tentu saja tidak, karena kau akan lupa dengan semua hidangan itu."&lt;/em&gt; Jawab penjaga pintu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apakah ketika aku melihat cahaya Raja, dibalik penjara kesusahannya, aku masih merasa sengsara?"&lt;/em&gt; Kembali musafir bertanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jelas tidak, karena Raja kami adalah pusat segala kesenangan. Kau bahkan takkan butuh apapun lagi jika telah bertemu dengannya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kalau begitu tujuanku hanya ingin bertemu denganNya, karena aku tak ingin selain diriNya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir terus melaju dipersilahkan penjaga pintu. Inilah akhir sebuah jalan yang dijanjikan. Di depan pintu ke tujuh berkali-kali pintu diketuk, tetapi tak kunjung dibuka. Tekadnya sedikit susut merembesi jiwa dan hatinya. Perjalanan telah sejauh ini, tak mungkin ia menyerah. Duduk ia terpengkur di depan pintu. Seperti seorang pengemis sejati yang mengharapkan belas kasih dari si pemilik rumah. Nafasnya mulai tersengal-sengal, tercampur sesak di dada dan lelahnya perjalanan yang menguras tenaga. Musafir tak habi pikir, seharusnya petunjuk yang diterimanya dahulu sangat jelas. 7 pintu, rahasia dan singgasana Raja. Ia tak mungkin menggerutu, mengumpat dan mempertanyakan kebijakan Sang Raja. Karena hal itu semua dapat membuatnya tercampak dan tertolak dari jalan ini. Baginya Sang Raja punya otoritas penuh pada air ini. Kadang air ini memang dikoyak teraduk-aduk. Raja melakukan ini untuk menguji kualitasnya. Tetapi kadang air juga dijaga tenang, meskipun jambang terguncang. Pada beberapa waktu ia merasa butuh akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, namun pada saat lain pertanyaan ini dibiarkan menjadi rahasia Raja yang tidak diketahui karena keterbatasannya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Berapa lama engkau akan mengetuk pintu dan menunggu pintu terbuka? Pintu itu tidak pernah ditutup."&lt;/em&gt; Musafir kaget atas teguran itu. Di sekelilingnya tak ada seorangpun. Pintu berderit terbuka. Jalan dan pintu tak lagi berarti begitu tujuan telah terlihat. Ketakjuban luar biasa menyelimutinya. Sebuah singgasana yang dijaga delapan pengawal. Para panglima perang ditempatkan di sebelah kiri. Menteri-menteri berada di sebelah kanan untuk mengesahkan keputusan Raja. Sedangkan musafir disediakan tempat berhadapan langsung dengan Raja, karena ia adalah cermin dari setetes air itu, bahkan lebih baik dari air itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspiried : Rumi, Juzjani, Rabiah el-Adawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Kusir, Iedul Fitri 2005&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-3981924795591281978?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/3981924795591281978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/12/7-pintu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3981924795591281978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3981924795591281978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/12/7-pintu.html' title='7 PINTU'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CM7KipsQnqM/Tthtjf6EvVI/AAAAAAAAAI0/b3qOV51hb-c/s72-c/ABSTRAK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-3025164290107017531</id><published>2011-10-27T23:56:00.000-07:00</published><updated>2012-01-05T07:15:57.365-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Sebuah Surat Untuk Serena</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;By: Langit Mularto&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pmsfMOgmTlE/TqpRolSHIhI/AAAAAAAAAGc/lEMzHv5wHKk/s1600/Masa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://1.bp.blogspot.com/-pmsfMOgmTlE/TqpRolSHIhI/AAAAAAAAAGc/lEMzHv5wHKk/s320/Masa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Dear Serena,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak dulu aku memang tak pandai menulis surat, jadi kuharap kau bersedia memaafkanku apabila aku tak sanggup menyatakan perasaanku dengan jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tiba pagi ini dan menemukan tempat yang akan aku tinggali selama beberapa waktu ke depan. Tempat ini lebih baik dari yang kubayangkan. Sulit rasanya untuk tidak membayangkanmu berada di sini bersamaku mengarungi jalanan seindah ini. Hunian bergaya Renaissance yang luar biasa, lukisan-lukisan dinding warna-warni dan rumah-rumah petak bersejarah melebur menjadi campuran marmer dan emas sepanjang tepi jalan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Venesia selalu menjadi tempat yang akan selalu kita kenang, Serena. Ketika kita mengapung di atas gondola tradisional (&lt;em&gt;traghetto&lt;/em&gt;) di Grand Canal, mendengarkan dengungan suara tenor sang perakit, mengabadikan setiap sudut dan permukaan lengkungan yang Gothic. Terlalu banyak yang akan terlintasi nantinya yang akan mengingatkan aku akan dirimu ; Jembatan Rialto, Basilika Santa Maria della Salute Palazzo Dario atau indahnya Ca'd'oro.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku terus menerus memikirkanmu sejak berangkat, dan tak habis pikir mengapa perjalanan yang kutempuh sepertinya menuntunku bertemu denganmu. Aku tahu perjalananku belum selesai, dan bahwa hidup adalah jalan yang berkelok-kelok, tapi aku hanya bisa berharap, entah bagaimana, jalan hidupku akan memutar kembali ke tempat seharusnya kuberada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah yang ada di pikiranku sekarang. Tempatku adalah bersamamu. Sewaktu di mobil, dan ketika pesawatku mengudara, aku membayangkan, jika aku mendarat di Fuimicino aku akan melihatmu di antara kerumunan orang-orang, menungguku. Aku sadar itu sesuatu yang tak mungkin, tapi entah mengapa bayangan itu membuat perasaan meninggalkanmu sedikit lebih mudah. Seolah-olah aku ke sini memang untuk bertemu denganmu, bukan pergi meninggalkanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Serena, sebelum kita berjumpa, aku bagaikan orang tersesat, namun kau melihat sesuatu dalam diriku yang entah bagaimana memberiku arah serta tujuan lagi. Kita berdua tahu alasanku pergi ke Italia. Aku pergi untuk menutup sebuah episode dalam hidupku, berharap hal itu bisa membantu menemukan jalanku. Tapi menurutku, justru kaulah yang aku cari selama ini. Sekarang kaulah yang bersamaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita berdua tahu aku harus berada di sini untuk beberapa waktu. Aku tak tahu pasti kapan aku akan kembali, dan meskipun kita belum lama bertemu, aku merindukanmu lebih daripada aku merindukan seseorang. Sebagian diriku begitu ingin melompat naik pesawat dan datang menemuimu sekarang, tapi kalau semua ini sungguh nyata seperti yang kubayangkan, aku yakin kita sanggup melampuinya. Aku akan kembali, aku janji. Dalam waktu singkat yang kita lewati bersama, kita memiliki sesuatu yang hanya bisa diimpikan banyak orang, dan aku menghitung hari sampai bisa bertemu kau lagi. Jangan pernah lupa betapa aku mencintaimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;RESTU&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-3025164290107017531?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/3025164290107017531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/sebuah-surat-untuk-serena.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3025164290107017531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3025164290107017531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/sebuah-surat-untuk-serena.html' title='Sebuah Surat Untuk Serena'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pmsfMOgmTlE/TqpRolSHIhI/AAAAAAAAAGc/lEMzHv5wHKk/s72-c/Masa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-2685689423415494505</id><published>2011-10-12T20:10:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T02:53:37.539-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Semalam Mimpi di Paris</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8IrDgNc0kdU/TuSLcMD78rI/AAAAAAAAAJE/AOmJTEuzkro/s1600/FrancePostcard.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-8IrDgNc0kdU/TuSLcMD78rI/AAAAAAAAAJE/AOmJTEuzkro/s320/FrancePostcard.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;By : Langit Mularto&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mobilku membelah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Champs-Elysees&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Paris, melesat keluar tepi jalan dan berbelok ke kanan, lalu kembali ke jalan utama &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Champs-Elysees&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dan berkelak-kelok melintasi lalu lintas yang masih sepi. Tatapanku memicing pada deretan toko mewah di tepi jalan legendaris itu. Pada ujung jalan berdiri &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Arc de Trriomphe&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; -&lt;strong&gt;tugu kemenangan&lt;/strong&gt;- setinggi 49 meter yang di kelilingi oleh putaran dengan sembilan jalur. konon ini adalah putaran terbesar di &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Prancis&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Laju mobil kearahkan ke utara, menjauh dari pusat kota. Melewati dua buah traffic lamp, aku membelok ke kanan masuk ke &lt;strong&gt;Boulevard Malesherbes&lt;/strong&gt;&amp;nbsp; lalu ke daerah yang lebih gelap di &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gare Saint- Lazare&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, sebuah stasiun kereta api. Di depanku, stasiun kereta beratap kaca mirip sebuah hanggar pesawat dan rumah kaca. Enam buah taksi berderet di dekat pintu masuk, menunggu kedatangan kereta berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah rangkaian kereta api menuju &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Lille&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; sudah mendengus-dengus dan mendesah, bersiap untuk berangkat. lalu aku kembali melintasi lobi da keluar dari pintu samping ke jalan kecil yang sunyi di sebelh barat stasiun itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali mobil aku pacu ke arah utara menuju&lt;em&gt;&lt;strong&gt; Rue de Clichy&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Terhampar di depan mata&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Montmarte&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan sebuah kubah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sacre-Coeur&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang indah. Melewati Bios de Boulogne dan perjalananku berhenti di &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Rue haxo&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; nomor 24, sebuah gereja....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-2685689423415494505?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/2685689423415494505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/semalam-mimpi-di-paris.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2685689423415494505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2685689423415494505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/semalam-mimpi-di-paris.html' title='Semalam Mimpi di Paris'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-8IrDgNc0kdU/TuSLcMD78rI/AAAAAAAAAJE/AOmJTEuzkro/s72-c/FrancePostcard.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-3308798474001889356</id><published>2011-10-10T21:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T11:24:06.508-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>SENYUM ITU MASIH DIINGAT</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;By : Langit Mularto&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_csyihNGhSE/TpPELU-7uXI/AAAAAAAAAFE/gaWEwCpzdy8/s1600/lonely.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="221" src="http://4.bp.blogspot.com/-_csyihNGhSE/TpPELU-7uXI/AAAAAAAAAFE/gaWEwCpzdy8/s320/lonely.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah malam yang pekat itu, Kelana belum juga mampu melepaskan bayangan masa lalunya. Kantuk tak mampu mengusirnya- bahkan sebaliknya- bayangan itu yang mengusir kantuknya. Bayangan ibu dan ayahnya selalu mengawang-awang di atas langit-langit ruangan. Mereka seolah tersenyum menghibur di balik kecut dan masam penyesalan yang tersirat di wajahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah pada suatu hari, sekitar tengah hari, di masa kecilnya, ia membuka peti kayu milik ayahnya. ia melakukannya dengan sangat hati-hati sekali, hingga mencegah bunyi berdecit dari pintu peti. Peti itu sudah sangat usang, terbuat dari kayu jati yang kokoh dan sudah tua. Peti itu padat oleh buku dan di dalam salah satu buku itulah ia menemukan sebuah catatan yang sangat mengagumkan. Kelana kecil sangat senang membaca, bukan main senangnya anak itu membaca. Apabila ia sedang sendirian di rumah, ia menyuruk ke dalam peti di kamar ayahnya untuk mendapatkan sesuatu buku.&amp;nbsp;Ia tahu waktu itu masih tengah hari karena bayangan rumpun bambu belum menyilang pekarangan, panjang dari timur ke barat -orang desa memang masih mengukur waktu dengan melihat panjangnya bayangan pohon yang tumbuh di sekitar halaman rumahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pada hari yang lain daripada yang lain ayahnya sedang pergi ke sawah, Langit masuk ke dalam kamar, pelan-pelan menutup pintu di belakangnya dan berhasil membuka peti kayu itu tanpa diketahui orang. Ia merasa sangat gembira. Dibukanya buku-buku itu satu persatu, lalu dibalik-baliknya halaman-halamannya untuk mengetahui apakah ada gambar-gambar yang bisa dilihat atau adakah ceritanya. Sebuah buku di antaranya berjudul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Manusia Menurut Al-Ghazali&lt;/i&gt;. Ia sama sekali tak mengerti apa maksud judul itu dan tentang apa isi buku itu. Sampul buku itu pun telah memudar dan tanpa motif apapun di atasnya, hanya hitam memudar dimakan usia, ketika dibalikkannya buku itu, segerombolan ngengat merayap di atas halaman-halamannya dan menghilang selekas-lekasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelana mengangkat buku itu ke hidung. Baunya sangat khas. Halamannya cukup tebal dan menguning karena usang. Hingga kini ia mampu mengingat baunya. Bau itu mengingatkan akan ayahnya. Ia tak tahu mengapa begitu, tetapi memang selalu demikianlah yang terjadi. Sampulnya yang tebal sudah rusak, karena itu, cepat-cepatlah ia menymbunyikannya di bawah bantal, lalu dikembalikan buku yang lain ke dalam kotak. Ia membaca buku itu ketika sedang sendirian, dan pada suatu hari kembali berjalan mengendap ke dalam kamar ayahnya untuk menukarnya dengan buku lain ketika ia sudah menyerah untuk memahaminya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayahnya selalu dapat mengetahui bahwa ada orang yang telah memegang petinya karena tampak sesuatu yang tidak rapi. Kelana kecil tidak tahu bagaimana menyusun buku-buku itu, maka ia mengaduk-aduk saja sampai ia menemukan yang dicarinya. Tak sukar bagi ayahnya untuk mengetahui siapa pencuri itu dan betapa suka pencuri yang khusus itu kepada bacaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini, keduanya telah tiada. Tuhan telah berbaik hati kepada mereka, dipeluknya mereka dalam ketenangan, selamanya. Di hari kepergian ibunya, Kelana&amp;nbsp;-yang beranjak&amp;nbsp;dewasa-&amp;nbsp;duduk di sisi ibunya yang sedang berbaring melekapkan kain basah ke kepalanya. Lebih dari dua kali dokter dipanggil untuk melihat perkembangan ibunya, tetapi demamnya masih jauh tinggi dan dokter tak dapat berbuat sesuatu untuk menurunkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesekali ia berbicara pada ibunya, "Ibu dengar aku? Oh, Ibu, coba katakan sesuatu padaku. Katakan bagaimana keadaan ibu." Seolah-olah ada tabir di antara mereka berdua. Ibunya seakan-akan sedang bicara. Kelana dapat melihat bibir ibunya bergerak-gerak, tetapi ketika ia membungkuk hendak mendengarkan, tidak didengarnya sesuatu, setidak-tidaknya tak ada yang dimengerti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika petang hari demam itu meninggalkannya, dan untuk pertama kalinya sesudah berjam-jam ibunya membuka mata dan memandang ke sekitar. Ia sangat lemah. Ketika ia berbicara, kata-katanya hanya terdengar sebagai bisikan yang lemah sekali, sehingga Kelana hampir tidak dapat mengerti apa yang hendak dikatakannya. Kakak perempuannya sedang mengerjakan sesuatu di dapur, sementara ayahnya sedang pergi merantau ke Jakarta sebagai upaya memperbaiki nasibnya sebagai &lt;em&gt;petani derep. &lt;/em&gt;Tak ada kabar dari ayahnya berminggu-minggu, komunikasi pada waktu itu sangat sulit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelana tetap duduk di samping ibunya. Hari beranjak senja, tetapi matahari masih menampakkan cahayanya di pucuk pohon kelapa. Ia melongok ke luar jendela. Senang sekali ia melihat matahari senja setelahdua hari hujan tak berhenti dan berdirilah ia di sana sambil mengawasi sinarnya yang terakhir di pucuk pohon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari dan malam berikutnya berlalu. Kelana keluar sebentar membeli bubur nasi untuk ibunya. Ketika kembali, di rumahnya banyak orang telah berkumpul. Ia pun berlari. Kakaknya sedang membungkuk di atas wajah ibunya. "Ibu, lihatlah kami, bukalah mata ibu."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, kak?" Kata Kelana segera sesudah masuk. "Cobalah menyingkir. Kamu mesti emberinya udara segar. Menggeserlah, biar aku lihat." Kakaknya barangkali tidak mendengar kata-katanya dan hanya terus menratap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibunya tidak membuka matanya lagi. Berkali-kali tangan keabadian menerobos tabir surga yang biru dan memberikan isyaratnya kepada seorang wanita tua. Wanita renta itu melepaskan diri dari dada bumi pertiwi, dan hilanglah untuk selama-lamanya di jalan yang tidak kenal kembali. Pada senja hari yang gelap dalam hidupnya yang sakit dan gelisah, ibunya mendengar panggilan itu dan sesudah meninggalkan jalan-jalan yang dicintainya ia pun memulai perjalanan yang baru, menuruni jalan raya yang belum pernah diinjaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayahnya belum sampai mengetahui kabar itu. Tempat pertama yang ditujunya ketika ia meninggalkan rumah adalah Bandung. Ia tidak kenal siapapun di situ, tapi ia merasa yakin bahwa karena kota itu kota besar yang ramai, maka kemungkinan akan mendapatkan pekerjaan. Mula-mula harapannya sangat besar karena seseorang yang dijumpainya di jalan mengatakan bahwa para pedagang dan tuan tanah banyak membutuhkan karyawan dengan upah harian atau mingguan. Giranglah ia menghadapi harapan yang demikian baiknya, dan ia pun tinggal tiga minggu lamanya. Namun, harapan yang ditunggu tidak juga datang, sedangkan sedikit uang yang dibawanya sudah habis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini ayahnya berada dalam keadaan sulit yang mengerikan. Ia berada di tempat yang tiada seorangpun dapat membantunya, lebih dari itu, ia pun tidak lagi mampu membayar sewa tempat tinggalnya dan harus mengosongkannya saat itu. Sampai langkah kaki membawanya ke Jakarta dan tidurlah ia secara serampangan di serambi masjid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang hari berikutnya ia habiskan detik demi detik waktunya dengan berkeliling dari rumah ke rumah mengunjungi para penduduk yang kaya. Ketika petang hari ia kembali ke Masjid. Bermalam-malam ia melewati hari-hari beratnya, hingga ia di usir dari masjid dengan alasan ketertiban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ke mana pun ia tidak dapat pergi dan mengembara tanpa tujuan, sampe akhirnya menemukan suatu tempat yang sesak di tepi Sungai Ciliwung. Di situ ia menghamparkan alas tidurnya, dan terlelap dengan perut kosong.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayahnya selalu bangun dengan ketakutannya menghadapi pagi. Ia merasa khawatir sekali mengingat istrinya di rumah. Ia telah meninggalkannya dengan uang yang hanya cukup untuk dua minggu saja, sedangkan ia telah pergi dari rumah selama hampir tiga bulan. Tentunya istrinya sekarang kelaparan, yang semua itu karena dirinya, suami yang tidak dapat berbuat banyak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah dua minggu kematian istrinya, ia baru pulang. Sudah tak didapatinya Kelana di sana, hanya kakak perempuan Kelana yang menceritakan semua tragedi takdir itu. Ia menangis, menyesali nasib sulitnya, hingga beberapa tahun kemudian ia menyusul kekasih sejatinya itu menghadap Ilahi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mata Kelana membasah, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Dalam hatinya ia menyalahkan dirinya sendiri karena semua nasib sial itu. Jiwanya merintih, terekspresi dalam tangisan kering yang menysakkan napas dan membuat nyeri ulu hatinya. Ia mencoba sedapat mungkin mengusir semua rasa bersalah itu. Penyesalan itu dan rasa pedih yang selalu membuatnya tersedu meratapi masa lalunya. Butir-butir matanya yang bening berjatuhan dari sudut mata yang basah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Badai yang kejam mulai melemah daya upayanya, seperti ribuan amunisi yang telah habis dimuntahkan menerpa bumi. Dentuman-dentuman air hujan yang riuh menerpa atap berubah menjadi rintik-rintik syahdu mengisi dini hari yang gelisah. air yang jatuh dari atap ke pelimbahan masih gemericik menyerupai &lt;em&gt;symphoni, &lt;/em&gt;dengan tempo yang semakin melambat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam lirih itu tak mampu dilewatinya dengan terpejamnya mata, hingga hanya kegelisahan tubuhnya terdekap dinginnya dini hari. Kelana mulai bangun, menyandarkan tubuhnya di dinding, merasakan betapa lemahnya ia sebagai lelaki. Keringat dingin di pagi yang dingin membintik di kening dan lehernya, lalu ia mulai bangkit seraya menyambar dua buh buku di sampingnya. Notebook dibuka dan diaktifkan. Energinya ingin dicurahkan ke tugasnya yang tertunda.&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-3308798474001889356?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/3308798474001889356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/senyum-itu-masih-diingat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3308798474001889356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/3308798474001889356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/senyum-itu-masih-diingat.html' title='SENYUM ITU MASIH DIINGAT'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_csyihNGhSE/TpPELU-7uXI/AAAAAAAAAFE/gaWEwCpzdy8/s72-c/lonely.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-548267551840932049</id><published>2011-10-09T20:36:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T03:05:05.109-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Antologi Kata (belum ada judul)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-M9CaEsKvZJ8/TuSN94cPeqI/AAAAAAAAAJM/DSjBXvR2rBQ/s1600/mashurii.blogspot.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-M9CaEsKvZJ8/TuSN94cPeqI/AAAAAAAAAJM/DSjBXvR2rBQ/s1600/mashurii.blogspot.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mungkin hidup memang tak selalu sesempurna lingkaran, karena hidup adalah kumpulan garis-garis perjalanan. Coretannya kadang membentuk sudut yang sering menyiku atau kadang membentuk sudut yang halus. Mungkin hidup memang tak selalu sesuai pengharapan, karena hidup memang bukan sekumpulan imajinasi dan khayalan dimana lamunannya kadang menawarka keindahan menghempas sedih menolak duka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan dimulai ketika kita telah membalikkan pasir waktu, tak bisa dihentikan dan terus berjalan. Tidak bisa lagi kembali kepada yang sangat jauh kugapai yaitu kemarin. Kehidupan tak semestinya berisi umpulan sesal, lalu memutuskan mencari arah pulang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika kita sampai pada sebuah pantai kehidupan, maka kita memutuskan untuk membakar sampan kita, berharap dengan begitu kita tak punya niatan untuk kembali pada masa lalu. Hidup harus terus dijalani dengan atau tanpa teman di sisi. Hakekatnya kita memang sepi dalam menelusuri setangkai mawar, durunya kadang menyakitkan meski ujungnya buga indah yang menyenangkan. Tapi siapa yang tahu masa depan? siapa yang bisa merancangnya? Ketika satu persatu duri mawar telah kuinjak aku masih terus berkhayal tentang harumnya bunga. Namun, ketika pasir waktu terus menitik jatuh, sedangkan harum mawar tak kunjung menyapa, akupun memutuskan tak berani lagi berkhayal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sakitnya tusukan duri kadang terlupakan meski dilain waktu sering membekas. Lukanya menyadarkanku untuk tak kembali pulang mengendarai sampan sesal. Sakitnya luka itu juga menghentikan aku terlena dalam balutan khayal, imajinasi dan mimpi. perihnya membawaku pada sebuah kesadaran untuk mengikuti semilir angin dan terhanyut mengikuti sungai kehidupan membawaku ke sebuah tujuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikehingan Tanah Kusir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;01:15 AM&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Langit Mularto&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-548267551840932049?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/548267551840932049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/antologi-kata-belum-ada-judul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/548267551840932049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/548267551840932049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/antologi-kata-belum-ada-judul.html' title='Antologi Kata (belum ada judul)'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-M9CaEsKvZJ8/TuSN94cPeqI/AAAAAAAAAJM/DSjBXvR2rBQ/s72-c/mashurii.blogspot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-4326700514103863838</id><published>2011-10-06T21:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T21:09:58.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>MENGAMBIL HIKMAH DARI SEEKOR ANJING</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Wm0owgabsGc/To56dsabs_I/AAAAAAAAAEg/tROCBf2wmYU/s1600/berguru+pada+anjing.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-Wm0owgabsGc/To56dsabs_I/AAAAAAAAAEg/tROCBf2wmYU/s320/berguru+pada+anjing.jpg" width="185" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="readable"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;"&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;Buku ini saya dapatkan atas rekomendasi teman saya yang sangat ingin sekali mendapatkannya, cukup sulit memang mendapatkan buku karya Marhaeni Eva, dengan tebal sekitar 274 halaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;"&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;span class="readable"&gt;Buku ini berkisah tentang seorang (bernama) Srikandi. Dimana dia memiliki dua kepribadian. Di kala siang hari, dia dikenal oleh masyarakat sebagai orang gila yang menghibur. Di Pasar, di jalanan, di depan sekolahan di perkampungan semua orang mengenalnya. tapi di malam hari, dia menjadi seorang individu yang memiliki sisi komplekstivitas yang tinggi. Banyak melontarkan kisah-kisah sindiran pada negeri ini. dia berperilaku seperti orang gila yang senang mengomentari kinerja para petinggi pemerintahan dengan kritikan-kritikan humoris yang penuh makna. Namun, saat bulan mulai membuka mata, Srikandi berkepribadian layaknya manusia yang sedang mencari jati dirinya. Ia sangat rapuh, ia mencari serpihan-serpihan memori yang ada dalam masa lalu, mencari sebab yang membuatnya menjadi wanita yang hilang akal di pagi hari. diceritakan dengan alur yang gak mudah di tebak dan dengan tata bahasa yang agak susah dipahami pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="readable"&gt;Buku ini banyak menggunakan kosa kata berbahasa Jawa. Namun, pada halaman belakang telah dituliskan arti-arti dari kosakata tersebut sehingga pembaca tetap dapat memahami alur cerita dalam novel ini&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;"&gt;Membaca buku ini mengingatkan saya pada pernyataan Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Kasyifah al-Saja. Kitab ini barangkali tidak asing lagi di kalangan pesantren, khususnya pesantren salaf yang masih memegang tradisi kitab kuning (al-kutub al-shafra’) atau kitab klasik (al-kutub al-qadimah). Berikut ini pernyataan yang penuh makna tersebut: (lihat Kasyifah al-Saja hal. 103 versi Maktabah Syamilah al-Ishdar al-Tsani atau merujuk langsung ke kitabnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri seekor anjing terdapat sepuluh sifat mulia yang laik kita tiru. Mari kita baca satu per satu, lalu kita renungkan bersama. &lt;br /&gt;1. Anjing terus menerus hidup dalam kondisi lapar. Inilah sifat orang-orang yang saleh. Kita seyogianya tak terpanah akan kebutuhan perut. Jangan sampai predikat abd al-buthun (abdi perut) disematkan di pundak kita. Toh, sejatinya perut yang selalu dipenuhi makanan, lambat laun akan terjejali dengan berbagai penyakit.&lt;br /&gt;2. Pada malam hari anjing tidur dalam waktu yang singkat. Ini adalah sifat orang-orang yang suka bertahajjud. Malam bukan hanya hak kita semata sehingga kita bebas menghabiskan sepenuhnya untuk tidur dalam buaian mimpi. Tahajjud menjadi pembeda antara orang yang malas dan tidak. &lt;br /&gt;3. Bila anjing diusir ribuan kali, ia akan tetap menepi di ambang pintu rumah tuannya. Ini adalah sifat orang-orang yang benar. Ketaatan kepada Allah hendaknya bersemayam dalam diri kita dalam situasi genting sekalipun.&lt;br /&gt;4. Tatkala anjing mati, ia tidak meninggalkan banyak warisan. Ini adalah sifat orang-orang yang zuhud. Harta benda yang menjadi kenikmatan di dunia ini boleh kita miliki, namun hati kita tak boleh terhipnotis olehnya. Zuhud seperti inilah yang disebut dengan zuhud modern. Zuhud tidak selamanya dengan melepas diri dari harta, tapi zuhud juga bisa dilakukan dalam kondisi kaya. Yakni dengan mentasarrufkan harta tersebut ke wilayah amal yang baik.&lt;br /&gt;5. Anjing tidak mengeluh ditempatkan di belahan bumi yang paling hina sekalipun. Ini adalah sifat orang-orang yang rela. Karakter yang kelima ini hendaknya kita genggam. Sedikit atau banyak nikmat yang dilimpahkan Allah kepada kita, harus kita syukuri. Kita hendaknya senantiasa melatih jiwa dan raga kita untuk menerima ketentuan Allah.&lt;br /&gt;6. Anjing tidak henti-hentinya menatap mata orang lain hingga ia dilempari sepotong daging. Ini adalah sifat orang-orang yang miskin. Di hadapan Allah, kita tak ubahnya orang miskin papa yang tak pernah putus asa mengharap anugerah-Nya.&lt;br /&gt;7. Anjing tak marah meski menerima perlakuan kasar dan dilempari debu. Ini adalah sifat orang-orang yang rindu kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;8. Jika ada yang merebut tempatnya, ia rela bergeser/berpindah ke tempat lain. Ini adalah sifat orang-orang yang terpuji. &lt;br /&gt;9. Apabila diberi makanan seberapapun besarnya, ia akan memakannya dengan lahap. Ini adalah sifat orang-orang yang menerima. &lt;br /&gt;10. Ketika bepergian dari satu tempat ke tempat lain, ia tidak membawa bekal apapun. Ini adalah sifat orang-orang yang pasrah kepada Allah.&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa hikmah yang bisa kita petik dari seekor anjing. Jadi tepat kiranya jika saya mengatakan, “Mari berguru kepada anjing.” Tulisan ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri. Semoga juga bermanfaat bagi teman-teman. Amin....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-4326700514103863838?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/4326700514103863838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/mengambil-hikmah-dari-seekor-anjing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4326700514103863838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4326700514103863838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/10/mengambil-hikmah-dari-seekor-anjing.html' title='MENGAMBIL HIKMAH DARI SEEKOR ANJING'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Wm0owgabsGc/To56dsabs_I/AAAAAAAAAEg/tROCBf2wmYU/s72-c/berguru+pada+anjing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-5903225400476344445</id><published>2011-09-09T01:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T01:33:46.238-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>HUJAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;By: Mularto&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mPul894X4kg/TmnM_MymfRI/AAAAAAAAAEY/WIvV93DWwUM/s1600/girl-in-rain-jim-kuhlmann.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://4.bp.blogspot.com/-mPul894X4kg/TmnM_MymfRI/AAAAAAAAAEY/WIvV93DWwUM/s320/girl-in-rain-jim-kuhlmann.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sore sudah menjelang ketika Najma memutuskan ingin keluar mencari udara segar. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sita Resmi siang tadi memberinya petunjuk dimana saja ia dapat memperoleh kebutuhan sehari-hari, termasuk makan. Najma mengendarai mobil yang disewanya sejak tiba di Bali beberapa jam lalu, mobil sedan yang sudah cukup berumur meski tak terlalu tua untuk mengantar dirinya kemanapun ia mau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Karena pekerjaannya, Najma pernah pergi ke berbagai tempat. Tak ada yang setenang ini sebelumnya. Saat mobil Najma terus terlonjak-lonjak karena lubang jalan, ia mengamati pemandangan. Di sana-sini tumbuh pohon akasia dengan bunga-bunga kuningnya yang sedang berkembang. Ternak merumput di dekat pohon delima yang batangnya digelayuti benalu yang terlihat lebih subur dari inangnya. Di dataran itu juga berserak-serak rumpun semak ilalang yang berayun-ayun dalam angin senja yang lembut. Langit senja yang tua turun ke bumi di atas sederetan pohon. Jauh di sana, tinggi di langit sana, seekor burung camar sedang terbang. Sedikit demi sedikit burung itu menjadi makin kecil, kecil dan kecil, sampai akhirnya ia menghilang di balik sebatang pohon beringin tua yang sangat besar. Mata Najma mengikuti burung itu sampai ia menghilang dari pandangan, kemudian mata itu kembali ke bumi diikuti oleh satu hentakan karena lubang jalan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mobil meluncur pelan di jalan aspal yang sempit, di antara rumpun ilalang dan kanal irigasi di kanan-kiri jalan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Najma semakin jauh menyusuri jalan sebelum akhirnya telinganya menangkap irama laut yang memesona. Najma menghentikan mobilnya. Jauh di depannya hamparan samudera Indonesia terbentang. Ia tak mungkin lagi bisa membandingkan bagaimana bisa tanah ini terus menahan gempuran ombak detik demi detik, jam demi jam bahkan berabad-abad lamanya. Najma bersandar di badan mobilnya, menghirup sedalam-dalamnya udara bercampur angin garam yang mengempas. Bayangan tubuhnya terdorong semakin panjang ke timur oleh cahaya senja yang renta. Ada ceruk beberapa meter jauhnya dari jalan, angin tak lagi lembut saat arak-arakan awan kelam menutup angkasa. Najma mendengar desahan dan erangan angin yang semakin kasar saat ia mencoba berjalan lebih jauh menyusuri tanah tipis berbatu yang sudah aus. Ia mendapatkan apa yang diharapkannya di sini, kesunyian. Najma memeluk kesunyian itu, di tanah lapang bersemak dengan irama ilalang yang bergesek diaduk-aduk angin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sementara itu angin timur semakin mengencang bertiup menerobos rumpun bambu, kadang begitu hebat, sehingga pucuk-pucuk teratas merunduk ke tanah. Sekejap awan-awan berubah menjadi lebih gelap. Gundukan-gundukan awan itu seperti kapas hitam raksasa yang terlihat lembut namun kejam bergerak menyebrangi langit dari timur ke barat. Kelihatannya seolah-olah gerombolan-gerombolan besar demonstran&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sedang maju terdorong amarah menerima kekejian aparat yang dihadapinya. Dan sekonyong-konyong aparat-aparat yang tidak terhitung itu dengan kecepatan yang lebih tinggi mulai melancarkan serangan yang menggelegar dengan guntur-guntur dahsyat, hingga seluruh langit terbakarlah dari berbagai arah mata angin. Awan-awan tercabik berantakan, kekuatan pendemo terbelah dan tercerai- berai menjadi pecahan-pecahan ruang angkasa yang kecil, sebelum pemboman guntur yang mengerikan itu mereda. Namun, pertempuran jauh dari selesai karena segera setelah itu kekuatan-kekuatan yang tak kenal maut sekali lagi menyelubungi bumi dan langit dengan kegelapan yang pekat tak tertembus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan perasaan khawatir Najma kembali ke mobil. Ia memutar kunci mobil yang menyambutnya dengan raungan-raungan marah, ia mencoba lagi. Najma hanya disambut bunyi berderak kasar yang menambah kekhawatirannya. Seraya mengumpat geram, Najma keluar dari mobil dan membuka kap mesin itu, berharap satu sentakan keras dapat merubah tabiat mesin tua itu. Tapi tenyata, ini tidak seperti&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;televisi neneknya di desa yang dapat jernih gambarnya setelah digedor bagian atasnya. Ia tersenyum menyadari kekonyolannya. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Setelah menutup kap mobil, Najma mulai memandangi kanan-kiri jalan. Ia tersudut. Satu-satunya teman hanyalah geraman angin yang menerpa rambutnya. Tak ada lagi penawaran yang menarik yang datang dari kepalanya kecuali menunggu. Najma berharap sebuah tumpangan yang dapat mengantarkannya ke penginapan. Sepenggalnya waktu penantian tak berkunjung harapan. Najma mengambil senter dari laci dasbor dan mengikuti naluri. Ia berjalan setelah sebelumnya sempat membungkus dompetnya dalam kantong plastik hitam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Jalanan semakin rumit dilaluinya dengan kegulitaan musim hujan, tapi ia harus terus berjalan mengikutinya kecuali ia ingin terjerembab di daerah tak bertuan. Batu-batuan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang berserak tak beraturan semakin menyulitkan langkahnya. Kegelapan semakin pekat menyelimuti meski suasana tetap tak sepi. Dentuman-dentuman amarah guntur bersahut silih berganti. Kini tak lagi angin yang meniup rambut Najma, tetapi kegeraman badai mengoyak menyisiri rambutnya. Kabut tipis menjalar menutupi kakinya, sekarang ia hanya berharap kabut ini tidak menebal dan menutupi pandangan matanya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sebelum ia tiba di penginapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Badai terus mengamuk, menghebat dan keadaan yang menyiksa pun akan datang. Hujan turun makin lama makin deras. Taufan meraung-raung menghantamkan diri pada pohon akasia dan semak belukar seperti segerombolan setan yang sedang berang. Dan setiap terkena hantaman, pohon itu terguncang seolah-olah detik berikutnya pucuk-pucuknya akan mencium tanah. Terjungkal. Najma pun ketakutan dan meronta dalam ketiadaan daya. Apakah yang dapat diperbuat oleh seorang perempuan yang sendirian untuk menyelamatkan diri, sedangkan seorang pun tak ada yang dapat dimintai pertolongan, bahkan tak ada orang yang akan mendengarnya kalau ia memanggil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“O, Tuhan,” demikan doanya. “Apa yang dapat diperbuat pada hujan seperti ini?” Doa ini untuk sesaat lamanya dapat menenangkan syarafnya. Tiba-tiba jauh di sana terdengar bunyi memanjang berdecit, kemudian bunyi sesuatu terjatuh berdebam. Godam yang besar agaknya sudah menghantam pohon akasia dengan lebih kuat lagi dari sebelumnya. Sekali pun ketakutan dan seluruh anggota badannya menggigil, dia paksakan untuk terus berjalan, seolah-olah dengan terus berjalan ia yakin akan ada yang bisa diperbuat, dibanding diam menunggu tanpa harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam sekejap saja ia telah basah kuyub mulai dari kepala sampai kaki, rambut, pakaian dan segalanya. Menggunturnya hujan di atas pohon dapat didengar di tengah lolongan angin ribut yang sedang berpesta-pora. Mereka menderas saja tanpa kenal ampun dengan membawa kengerian menimpa bumi dengan diiringi bunyi-bunyian aneh yang galak, terkadang meraung, terkadang menjerit, terkadang mendesis, terkadang melengking dan seringkali mengguntur dengan bahana maut yang dalam tanpa ampun. Najma tak mampu lagi mengenali dimana ia berada sekarang, dengan hanya mengandalkan cahaya senter yang biasa dipakai di dalam rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Untuk mencegah agar tak tergelincir jatuh, Najma terpaksa bergerak perlahan dan terus memperhatikan jalan. Sedikit demi sedikit ketidaknyamanan menjadi kegelisahan, kegelisahan menjadi kekhawatiran dan kekhawatiran menjadi ketakutan. Sambil bersenandung tak jelas untuk mengusir kepanikan, Najma berkosentrasi pada cahaya senternya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mendadak matanya menangkap sesuatu yang tersamar di kejauhan. Najma mengusap matanya dari tetesan air hujan dan melihat lagi. Cahaya. Sebuah kenyamanan, pikirnya. Jika itu sebuah rumah, berarti kehangatan dan tempat berlindung. Najma melangkah tanpa ragu ke sumber cahaya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tempat itu cukup menguras energi Najma untuk ditempuh dalam keadaan payah seperti ini. Ingin rasanya ia menyerah dan kembali ke mobil menunggu badai reda. Tapi Najma coba berpikir, apa yang bisa dilakukannya di sana, menghabiskan malam yang basah, menggigil dan ketakutan. Cahaya di kejauhan tak berkedip, membantunya meyakinkan diri akan keselamatannya. Najma tak mau lagi gamang ditengah kondisi seperti ini, tetapi mempercepat langkahnya secepat yang bisa dilakukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ia mulai berkhayal tentang penghuni yang ramah pemilik cahaya itu. Seorang wanita paruh baya seperti Sita resmi yang menawarkan kehangatan teh dengan aksen bicara Bali&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang kental. Tepat ketika guntur kembali menggelegar, ia telah menaruh banyak harap pada wanita khayalannya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Bangunan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;rumah itu tak tampak seperti rumah Bali pada umumnya. Tak ada relief&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;atau ukiran Bali, tak ada bata merah yang tanpa acian, tak ada komboja Bali. Hanya berpagarkan pohon teh-tehan dan bercat putih yang mampu ia kenali lewat cahaya senternya saat ia mulai mencari-cari daun pintu. Najma menemukan pintu yang terbuat dari kayu nangka tanpa cat dan menggedornya. Gedoran pertama hanya tertelan oleh gemuruh hujan dan angin yang terus mengeluarkan amarahnya. Ia menggedor lagi, berharap perjalanan sejauh ini tak sia-sia. Wanita itu pasti ada di dalam, pikirnya sambil menggedor-gedor pintu, mungkin sedang menjahit, meyulam atau bermalas-malasan di atas kursi goyangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-dMAqRVjK6uk/TmnM4fWslHI/AAAAAAAAAEQ/E5IALyvz3X8/s1600/crying.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-dMAqRVjK6uk/TmnM4fWslHI/AAAAAAAAAEQ/E5IALyvz3X8/s320/crying.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pasrah, Najma tak tahu harus berbuat apa lagi kecuali tetap menggedor pintu itu. Hingga ia terjerembab duduk bersandar membelakangi pintu itu. Tetesan demi tetesan air yang membasahi rambut mampu ia rasakan mengalir membasahi punggungnya saat ia masih terus coba menggedor, meski saat ini hanya menjadi ketukan. Najma bersimpuh mendekap kakinya. Ketakutan, dan kePutusasaan membuatnya tak mampu lagi membendung air mata yang sedari tadi ditahannya. Ia menundukkan kepalanya bersandar pada kedua lutut kakinya sesaat sebelum tubuhnya terjungkal kebelakang bersamaan dengan berdecitnya bunyi engsel pintu. Pintu terbuka. Bahu Najma ditopang sepasang tangan kekar saat ia terhempas kebelakang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Syukurlah,”&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lontaran keterkejutan yang diucapkan Najma sebelum sempat dirinya berdiri. “Maaf aku mengganggumu,” Najma menghela napas, mencoba menenangkan diri setelah apa yang dilewati sebelumnya. Tangan, bahu, kaki dan seluruh tubuhnya bergetar menahan dingin yang seolah sudah meremukkan tulangnya. Bibir tipis yang terlihat selalu mengembang sekarang terlihat mencibir seolah merapalkan mantera yang berulang-ulang. Sweaternya luluh lepek dengan noda-noda tanah liat di sana-sini. Matanya yang teduh sekarang menatap lelaki pemilik tangan lembut itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ternyata lelaki, pikirnya dalam kedinginan yang amat sangat. Sempat Najma tersenyum ketika memikirkan kombinasi apa yang dipikirkan sebelumnya dengan kenyataan di hadapannya. Seorang lelaki muda berusia akhir dua puluhan yang sedang mendengar radio tua miliknya sedang duduk dikursi goyang sambil merajut sesuatu. Pasti sungguh aneh jika memang ada baginya. Pria ini tak terlalu tinggi, tak melebihi tinggi tubuhnya, meski juga tak kurang dari dirinya. Matanya tajam menatap penuh curiga, seperti ingin menginterogasi maksud kedatangan Najma. Air muka yang tenang dengan hidung yang tak terlalu menjorok ke depan, tapi tak berarti pesek. Kumis yang dicukur habis sehingga hanya terlihat arsiran abu-abu di bawah hidungnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pria itu membantu Najma yang masih gemetar untuk berdiri. “Ada apa nona mengganggu saya dimalam badai seperti ini?” Pria itu membuka bibirnya yang sedari tadi terkatup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Tidak bisakah anda lebih bersimpati sedikit melihat wanita yang sedang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;hypotermia&lt;/i&gt; di tengah badai?” gerutu Najma ketus. Ia kesal. Sendiri di tengah tempat asing yang sama sekali tak dikenalnya, dengan terdorong oleh angin yang mampu menjungkalkan apa saja yang tabraknya,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;amarah hujan yang tak kunjung reda, basah, gemetar dan terdampar di rumah seorang pria yang tak memiliki rasa simpati dan acuh seperti ini. Terbuat dari apa manusia ini, pikirnya. “Apa saya mengganggu tidur anda?” ucap Najma lebih ketus dari sebelumnya. “Aku tersesat, mobilku mogok di ujung pertigaan sana,” katanya coba meraih simpati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pria itu tak cepat menanggapi. Namun ia mengangguk sebab naluri menuntunnya begitu. “Bagaimana bisa?” sebutir kalimat itu membuat Najma bertambah jengkel. Dengan nada agak acuh Najma diam. Pria itu memandanginya beberapa saat sebelum mempersilahkan Najma duduk di kursi tamu sederhana berwarna marun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Sebentar !” pria itu masuk ke dalam meninggalkan Najma yang masih gemetar menahan dingin. Apa yang harus aku lakukan dengan wanita hypotermia ini? Pikirnya dalam hati sambil berjalan menuju kamarnya. Pintu lemari berdecit saat dibuka olehnya. Satu persatu pakaian dipilih dicari yang sekiranya pantas untuk dikenakan oleh wanita asing yang terdampar dirumahnya itu. Sulit juga mencarinya, sampai ia menemukan baju kakak wanitanya yang beberapa bulan lalu berkunjung ke rumah itu. Mungkin ini cocok, gumamnya dalam hati. Setelah menyambar handuk putih dari dalam lemari pria itu membawanya ke ruang tamu, melemparkannya ke sisi Najma. “Nona bisa menggantinya di kamar mandi di sudut dapur sebelah kanan, saya akan antar,” ucapnya tegas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Najma tak mengucapkan terimakasih untuk membalas perlakuan orang ini. Setelah menyambutnya dengan tidak ramah, pria ini melemparkan begitu saja pakaian di hadapannya. Jika tak sedang butuh sekali malas sekali rasanya bertemu dan meladeni orang seperti ini, gerutunya dalam hati. Dari sikapnya, mungkin ia tumbuh dari masyarakat yang terlainkan, dan karenanya menanggung juga ciri kepribadian yang khas, lebih tepatnya aneh, pikirnya. Najma mengikutinya langkah demi langkah pria itu dari belakang menuju tempat yang ingin ditunjukkan. Dari belakang pria ini seperti orang yang pernah dikenalnya, entah siapa. Rambutnya terlihat baru dipangkas beberapa hari lalu, potongannya rapi dan tak banyak macam-macam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lantai yang baru&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dilewati Najma basah tertetesi air dari sekujur tubuhnya, tak terkecuali kursi yang baru saja ditinggalinya. Najma sedikit melangkah berjingkat menghindari licin melewati ruang makan dan ruang bersantai. Kesan berantakan langsung terlihat, sendok yang sudah tersisih dari atas piring bekas makan malam terhampar begitu saja. Tumpukan kertas dan alat tulis saling berdampingan dengan gelas minum yang setengah terisi. Tiga buah buku tak seberapa tebal berserak di sudut meja makan itu dengan alas kaca yang buram. Hanya beberapa langkah sebelumnya Najma melewati ruang bersantai yang tidak berpartisi dengan ruang makan. Keadaanya tidak lebih baik dari ruang makan, bantal yang masih berserak di depan televisi yang masih menyala dengan suara rendah. Buku-buku lebih berserak di situ, didominasi oleh bacaan politik. Ada beberapa judul yang ditangkap mata Najma;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sosialisme religius, biografi politik Sukarno dan beberapa novel karya Dan Brown.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Namaku Najma,” celetuknya dalam langkah yang berjingkat di belakang pria itu. Ia tak habis pikir, ia telah menghabiskan sekitar sepuluh menit waktunya di rumah ini tanpa tahu siapa nama pemilik rumah. Sedari tadi ia berharap lelaki ini yang lebih dahulu mengeluarkan kata-kata yang diharapkannya, setidaknya sekedar menyebut nama. Najma sendiri ragu di awal penyebutan nama tadi, haruskah menyebut nama di depan - atau lebih tepatnya di belakang posisi berdirinya- orang yang kaku dan seolah tak perduli siapa lawan bicaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-AUohdrRZujs/TmnM72JlF9I/AAAAAAAAAEU/Oz7UlJ5jYdo/s1600/girl_in_rain__72dpi.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-AUohdrRZujs/TmnM72JlF9I/AAAAAAAAAEU/Oz7UlJ5jYdo/s1600/girl_in_rain__72dpi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Aku Langit,” jawab pria itu tanpa menoleh. “Ini kamar mandinya, silahkan” ujar langit sambil langsung berbalik arah meninggalkan Najma yang masih terheran-heran mendapat perlakuan tak biasa di malam yang tak biasa pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Najma memasuki kamar mandi setelah membuka pintunya terlebih dahulu. Warna biru mendominasi di sini. Porselen berukuran kecil di susun mozaik dan acak dengan gradasi biru menempel di separuh bagian dinding. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat bak mandi setinggi pinggang yang tak terlalu besar, berwarna biru langit. Tepat berhadap-hadapan dengan pintu masuk, sebuah kloset duduk berwarna biru laut yang terlihat terawat dengan baik. Meski tak terlalu besar, secara keseluruhan kamar mandi ini bersih dan tak mengecewakan baginya. Sebelumnya ada perasaan khawatir akan keadaan kamar mandi setelah melihat ruang bersantai dan meja makan tadi. Najma tipe yang cukup pemilih untuk memasuki kamar mandi, sesulit memilih jodoh baginya. Tapi, apakah ia punya pilihan dengan kondisi kamar mandi dalam keterisolasian badai ini? Ini semua melebihi bayangannya, meski tak ada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;bathtub &lt;/i&gt;dan air panas. Ini bukan hotel, gumamnya menghibur diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ia melepas pakaiannya, mengamatinya lagi sekilas lembar demi lembar pakaiannya yang sudah tertanggal, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilewatinya. Badai yang tak kenal ampun, guntur yang terus menyalak disertai petir yang membelah kegelapan, angin yang terus mengaduk-aduk rumpun semak, dentuman pohon yang terjungkal hingga ia terdampar di tempat manusia kaku tanpa senyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Originally By : Langit Mularto..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi ; berandahati.com&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; fineartamerica.com&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rumahhangat.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-5903225400476344445?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/5903225400476344445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/09/hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5903225400476344445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5903225400476344445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/09/hujan.html' title='HUJAN'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mPul894X4kg/TmnM_MymfRI/AAAAAAAAAEY/WIvV93DWwUM/s72-c/girl-in-rain-jim-kuhlmann.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-4388068041569557328</id><published>2011-08-03T07:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T11:24:54.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>PULANG</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;em&gt;BY: MULARTO&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muntamah, seorang janda, sedang duduk di beranda. Ia sedang sarapan pagi yang berupa nasi liwet, ditemani anak tetangganya yang berusia enam tahun, anak perempuan Harsono satu-satunya. Anak itu hanya diam termangu, dengan matanya yang cantik terbuka lebar penuh ingin, mengikuti gerakan tangan wanita tua itu menyuap sisa nasi yang tak seberapa. Ketika akhirnya nasi itu habis tak bersisa, perempuan itu memandang dan berseru kepadanya, “Oh Tuhan... Nak, tak ada lagi buat kamu! Sama sekali tak punya pikiran aku ini.”&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bZeFtkEqlxk/TmjrLBkdjaI/AAAAAAAAAEE/9rsjcw5gLkw/s1600/lonely.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="138" src="http://1.bp.blogspot.com/-bZeFtkEqlxk/TmjrLBkdjaI/AAAAAAAAAEE/9rsjcw5gLkw/s200/lonely.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Namun, tidak lama. Ibunya memanggil dari dalam rumah, “Buat apa kamu berlama-lama di situ? Masuk sini!”.&lt;br /&gt;Muntamah menjawab, “Tak apa, Ratih. Biarkan ia duduk-duduk di sini denganku. Desi sama sekali tak menggangguku.”&lt;br /&gt;“Jangan!” kata Ratih ketus. “Tidak baik seperti itu, Desi mengamatimu penuh ingin waktu makan. Saya tidak senang anak saya seperti itu. Ayo, cepat masuk, Desi.”&lt;br /&gt;Anak itu bangkit dengan takut dan bingung, lalu masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;Satu dasawarsa lalu, Harsono datang ke tanah ini membangun sebuah rumah kecil, di sisi bangunan reot Muntamah. Harsono bekerja di kota besar sebagai pesuruh dan hanya mampu pulang tiga bulan sekali. Ia mempunyai anak perempuan kecil, Desi. Muntamah senang sekali dengan anak itu. Ia tak menginginkan kegembiraan yang lain lagi dihidupnya yang miskin ini. Desi adalah jalan untuk membuatnya bahagia dan senang, di masa hidupnya yang tak tersisa banyak lagi. &lt;br /&gt;Tetapi jalan kebahagiannya itu tak selalu mudah terlaksana. Istri Harsono seorang yang cantik, dengan sikap yang tak pernah menentu. Ratih tidak begitu senang melihat perempuan tua itu. Muntamah adalah tetangga terdekat keluarga itu. Harsono selalu berbaik hati pada janda renta itu, namun tidak bagi Ratih. Baginya, Muntamah hanyalah seorang wanita tua yang sekedar biasa duduk di teras rumahnya dan menghabiskan sebagian makan keluarga mereka. Sebenarnya banyak tetangga yang silih berganti menanggung hidupnya, tapi Harsono merasa mempunyai tanggung jawab karena wanita itu hidup di depan matanya.&lt;br /&gt;Minggu-minggu ratih banyak dihabiskan bertengkar dengan nenek tua itu meski disebabkan oleh perkara yang sepele. Seringkali akibat pertengkaran itu Muntamah mengancam akan pergi dari rumahnya sendiri dan berkata “Nyonya Harsono, aku akan pergi. Entah apakah aku akan kembali atau tidak ke rumah ini lagi.” Meski setelah kata-kata itu terucap ia merasa sedih dan berat menggelayuti kakinya untuk melangkah.&lt;br /&gt;Biasanya, Muntamah hanya melewatkan sepanjang harinya di pos ronda di sudut desanya. Menjelang senja mengintip, Desi yang menyadari ketiadaan wanita tua itu mulai menjemputnya, menarik lengan wanita renta itu. “Nek, pulanglah. Nanti saya bilang Ibu untuk tidak bertengkar lagi dengan Nenek. Ayolah Nek, pulang!” Dalam temaram petang itu kembaliah ia ke rumah dalam cengkeraman lengan anak itu.&lt;br /&gt;Ratih dengan judes menolehnya jika Muntamah telah kembali dari pengembaraan sesaat itu. “Hmm... kembali juga si tua itu rupanya. Mungkin sudah tak ada lagi piring-piring yang tersedia di rumah tetangga untuknya. Dasar tak tahu malu.”&lt;br /&gt;Di sisi utara rumah Harsono itulah wanita tua itu tinggal. Di sebuah gubuk beratap seng yang lebih banyak titik bocornya di sana-sini. Hari-hari Muntamah dihabiskan di depan mesin jahit. Tak jelas apa yang dijahitnya, hanya gombalan sobek yang dibuatnya menjadi alas tidurnya. Sekali waktu dibongkarnya kembali jahitannya itu dan coba kembali disusunnya. Di satu sudut dari ruangan itu terhamparlah tikar plastik yang sudah usang dan sejumlah selimut wool yang kusam. Tempayan yang menjadi kebanggannya dipenuhi beras pemberian tetangga. Di sisi-sisi tempayan itu berturut-turut sebuah jambangan yang berisi minyak sayur dan kemudian garam serta gula.&lt;br /&gt;Hampir tak pernah Ratih menginjakkan kakinya di gubuk wanita tua itu, meski hampir setiap senja Desi hadir di sana dan duduk berjam-jam untuk mendengarkan dongeng-dongeng Muntamah. Sering Desi sudah mendengar cerita yang sama berulang-ulang tanpa rasa bosan. Tapi seringkali gadis kecil itu yang memaksa cerita yang berulang. &lt;br /&gt;Bagi Muntamah, bertahun-tahun ia tak menemukan lawan yang gigih untuk mendengar dongeng masa mudanya, dan sekarang ia bisa mengulang ingatannya yang berserak di tepi kepalanya, dengan cara inilah ia menjadi tidak pikun. Di tengah cerita, seringkali Muntamah menatap senyap kepada anak ini dengan senyum bahagia. Hingga menjelang malam Desi segera bangkit menyadari akan ada teriakan dari ibunya kalau ia tak segera bergegas.&lt;br /&gt;Suatu pagi di akhir bulan Juni yang ramah, seorang wanita bernama Titi yang memiliki warung kecil di pertigaan jalan desa itu datang menghampiri pekarangan Ratih yang sedang menyapu dan berseru kepadanya. “Ratih, kamu harus membayar aku dua puluh ribu rupiah.” Katanya ketus, “aku ke sini untuk menagih hutang wanita itu yang telah mengambil sejumlah barang dariku. Katanya, aku bisa menagihnya padamu.”&lt;br /&gt;Senyum yang semula bersahabat di bibir Ratih sekejap memudar berganti seringai kesal. Di hadapannya sekarang adalah Titi, seorang pemilik warung yang terkenal kikirnya. Ratih semakin menjadi kekesalannya ketika Titi makin mencibirnya, “Apa kamu kira aku bohong? Coba tanya ke wanita tua itu, kalau kamu tidak percaya padaku.”&lt;br /&gt;Ratih marah sekali, sehingga hanya dapat tercenung tanpa berkata-kata, lalu pergi ke gubuk itu melabrak Muntamah. “Nenek tua!” Kecamnya. “Apa kamu pikir mencari uang itu mudah? Titi bilang kamu membeli sejumlah barang darinya. Apa saja barang itu? Hari ini dua puluh ribu, kemaren lima ribu, minggu lalu dua belas ribu lima ratus. Apakah kamu pikir aku akan begitu mudah mendapat uang untuk membayar sesuatu yang kamu beli? Kamu tidak malu membeli bukan dengan uangmu sendiri?”&lt;br /&gt;Wajah tua Muntamah yang berkerut sekejap pasi dan semakin mengkerut. “Aku tak akan lama lagi di sini, tolonglah dibayar. Hanya untuk kali ini.”&lt;br /&gt;“Uang, uang dan uang. Selalu itu yang kamu kuras dariku. Tak pernahkah kamu berpikir yang menyenangkan kami? Bukankah kamu punya panci, piring, gelas yang bisa kamu tukarkan? Kenapa kamu tidak menjualnya?”&lt;br /&gt;Desi yang mendengar pertengkaran itu dengan segera berlari menuju warung Titi. “Nenek itu sudah sangat tua. Ia sudah merepotkan ibu Titi. Dengarlah bu, aku punya sepuluh ribu rupiah dalam kotak rahasiaku. Saya akan memberikannya kepada ibu jika semua sudah tidur. Tapi Ibu harus berjanji tidak mengatakan ini pada Mama, aku ambil uang itu malam nanti tanpa sepengatahuan Mama dan akan aku bawa ke Ibu.”&lt;br /&gt;Matahari belum tepat di atas kepala saat Muntamah meninggalkan rumah. Tangan kanannya yang renta memegang kantong plastik merah berisi selimut, sedangkan tangan satunya tampak tergopoh memegang jambangan yang entah apa isinya.&lt;br /&gt;Desi meneriakinya, “Nenek, jangan pergi meninggalkan kami. Jangan. Kemana Nenek akan pergi?” Anak itu berlari mengejar wanita tua itu dan menarik-narik lengannya. “Kalau Nenek pergi, aku akan menangis.” &lt;br /&gt;Ratih yang melihat semua itu berteriak dari beranda. “Pergilah jika itu inginmu. Tidak ada yang akan menahanmu.” Perempuan tua itu tiada menoleh sekalipun Desi berlari sepanjang jalan setapak itu dengan isak yang masih tersisa. “Tak usah kau kejar Nenek itu Desi. Jika ia tau berterimakasih tak seharusnya ia berbuat seperti itu. Hidupnya selama ini telah ditanggung ayahmu. Semestinya ia pertimbangkan itu semua.”&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ct9GOctSzhM/TmjrbFFK81I/AAAAAAAAAEM/kYE3zOo8aWI/s1600/pencil_barn001.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="203" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ct9GOctSzhM/TmjrbFFK81I/AAAAAAAAAEM/kYE3zOo8aWI/s320/pencil_barn001.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak tetangga yang bersimpati padanya dan ingin menampung di rumahnya. Sempat Muntamah tinggal seminggu  bersama keluarga Widodo, di barat desa, kemudian ia berpindah ke rumah Hartaji, dan sesudah itu ke rumah keluarga Putu. Mereka mula-mula menunjukkan kebaikan yang luar biasa, namun sambutan selalu berubah menjadi hambar setelah minggu demi minggu berlalu, hingga dengan berbagai cara, rasa bosan mulai ditunjukkan kepada wanita itu. Setiap awal minggu ia berharap Harsono datang menjemputnya dan memintanya pulang, tapi tak seorangpun datang, bahkan Desi pun tidak. Wanita tua itu coba meyakinkan dirinya bahwa tak mungkin anak seumurnya berjalan jauh dari rumahnya untuk mencarinya. Sekali-dua ia sengaja melintas di depan rumah keluarga Harsono dengan harapan anak itu melihatnya, namun, sekedipan matapun ia tak menjumpainya.&lt;br /&gt;Ia mulai sadar, tak ada yang dapat menampungnya lagi karena semua dari mereka tak ada hubungan kekerabatan yang dekat, tak ada yang mau menerima orang lain di rumahnya sepanjang hidupnya. Di desa tetangga ada sebuah pondok beratap ilalang di sudut utara desanya. Pondok di tengah ladang milik keluarga Warsidi, tetapi sekarang sudah kosong. Pondok itu kecil sekali. Dindingnya terbuat dari gedek bambu dan letaknya persis di tengah ladang dan terpisah dari rumah-rumah yang lain.&lt;br /&gt;Beberapa tetangga masih sesekali memberinya makan, meski tak serutin dulu. Tetangga yang lain coba merayu Ratih untuk mengajak wanita tua itu pulang. “Aku tak peduli. Apapun yang terjadi aku tak akan menerimanya kembali di sini.” Selalu ucapan nyinyir itu yang terucap di bibir Ratih. Hari-hari pertama, beberapa keluarga telah berniat baik mengiriminya segala sesuatu yang mungkin diperlukannya, tetapi sedkit demi sedikit minat mereka itu menyusut, dan mulailah perempuan tua itu kekurangan. Wanita tua itu mulai meratapi kesulitannya. “Tak ada yang menyuruhku pergi dan Desi pun menangis sambil menahanku.” Air mata menuruni pipinya yang cekung.&lt;br /&gt;Matahari menyengat di bulan Juli yang panas. Udara terasa pengap di dalam rumah, sekalipun menjelang sore angin mulai bertiup hanya sedikit saja menyingkirkan panas yang masih banyak tersisa. Muntamah telah berjalan keliling desanya berpanas-panas dengan pengembaraan yang berujung keputus-asaan dari rumah ke rumah, dan ketika ia kembali ke pondok senja hari, ia menderita demam. Ia menggelar tikarnya di halaman pondoknya yang teduh dengan tenang. Di dekatnya kepalanya terdapat poci tanah berisi air. Demam telah membuatnya begitu haus hingga ia beberapa kali meneguk air dari poci tersebut.&lt;br /&gt;“Nek!” Muntamah menoleh dan mengangkat kepalanya akibat seruan itu. Desi datang dengan membawa sesuatu terbungkus dalam kain. Lemah sekali sahutan Muntamah menjawab panggilan anak itu, tetapi ia masih sanggup mengulurkan tangannya yang kurus itu kepada Desi dan mendekapnya dengan kasih sayang. Desi membuka bungkusan kain itu. “Ini kue talam, nek. Aku membelinya di pasar dekat rumah pagi tadi.”&lt;br /&gt;Muntamah duduk tegak lalu mulai menyentuh kue yang dibawa Desi dengan tangannya yang lemah. “Coba nenek lihat,” katanya lemah. “Darimana kamu dapatkan semua ini, sayang.”&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RuJrWFRr3pI/TmjrOJ4MyBI/AAAAAAAAAEI/ROb0smApZMo/s1600/alone.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-RuJrWFRr3pI/TmjrOJ4MyBI/AAAAAAAAAEI/ROb0smApZMo/s320/alone.jpg" width="218" /&gt;&lt;/a&gt;“Aku menabung seminggu ini, Nek,” ucapnya lirih. “Nenek makanlah!” Ketika percakapan itu mengalir beberapa saat, Desi baru menyadari sesuatu, “Nek, badanmu panas sekali.”&lt;br /&gt;“Sepanjang hari ini aku berputar-putar keliling desa. Oleh karena itu badanku sedikit demam. Biarlah aku berbaring sebentar.”&lt;br /&gt;Desi hanya seorang anak, namun ia begitu tahu apa yang menyebabkan neneknya bepergian di bawah terik mentari. Ia membelai tubuh tua itu dengan penuh kecintaan yang kini mengkerut karena kesulitan dan kemiskinan. “Nenek pulang ya!” katanya, “tak ada lagi yang mendongeng di senja hari. Pulanglah Nek!”&lt;br /&gt;Muntamah gembira sekali mendengarnya. Memang itu yang diharapkannya selama ini, hingga ia tak dapat menyembunyikan gelembung bahagianya itu. “Ibumu telah memintaku pulang?” katanya bersemangat.&lt;br /&gt;“Tidak, Nek,” jawab Desi. “Tapi meski begitu, pulanglah Nek. Ia akan memaafkan semuanya. Nenek harus bicara padanya.” &lt;br /&gt;Desi pulang diiringi lembayung senja dengan kegembiraan menunggu esok hari yang dijanjikan Muntamah untuk kembali ke rumah. &lt;br /&gt;Malam itu seorang datang dari sisi lain dengan tergopoh-gopoh membawa pesan untuk Harsono. Namun tak dijumpainya Harsono di rumah itu, hanya Ratih yang memandangnya dengan penuh tanya. “Di mana suamimu? Apa dia tidak ada di rumah? Nenek itu... Ia sudah berkeliaran sepanjang hari di bawah panas matahari, kini ia hanya terbaring saja di luar pondok di tengah ladang Warsidi.”&lt;br /&gt;Beberapa tetangga sudah berada di pondok yang hanya diterangi sentir. Satu-dua orang duduk di dekat wanita tua itu dengan menggosokkan minyak pada dada dan punggungnya. Muntamah membuka mata, tetapi hanya tatapan kosong tanpa daya yang dihasilkannya ketika ia menoleh ke beberapa orang itu. Warsidi menuangkan sedikit air ke mulut wanita itu, tetapi tak sedikitpun terhisap ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;Wanita tua itu semakin tenggelam dengan cepat dalam ketiadaan. Warsidi menutupkan kelopak matanya yang mengalir sebutir air mata dari ceruk matanya yang cekung dan terus turun ke pipinya yang berkerut. Hingga kemudian Muntamah menuruni jalan yang belum pernah ia injak sebelumnya. Jalan kembali padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatinegara, 27- Juli- 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-4388068041569557328?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/4388068041569557328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/08/pulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4388068041569557328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4388068041569557328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/08/pulang.html' title='PULANG'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-bZeFtkEqlxk/TmjrLBkdjaI/AAAAAAAAAEE/9rsjcw5gLkw/s72-c/lonely.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-2017277561584792592</id><published>2011-03-04T09:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T05:18:19.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>PUAN dan TUAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mxUNfV-9Pis/TuSO2xGEPiI/AAAAAAAAAJc/GUksjMxSFqE/s1600/20091013120034_asian_lukisan_abstrak_%255B%255D.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-mxUNfV-9Pis/TuSO2xGEPiI/AAAAAAAAAJc/GUksjMxSFqE/s320/20091013120034_asian_lukisan_abstrak_%255B%255D.jpg" width="294" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;By; MULARTO&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sangat tidak gampang, dan sekali lagi sungguh sulit mempercayai apalagi mencintai partai politik di Indonesia. Meski di awal mereka-mereka sangat memberi harapan, membuat mimpi-mimpi kita bertambah menunya. Seluruh harapan dari yang termewah hingga tertinggi kita gagas dengan mempertaruhkan nasib kita. Ketika kemudian pada suatu hari harapan itu melambai terbawa angin, sebagian kita hanya mampu mengeluh dan sebagian lainnya mengumpat. Namun toh kepercayaan kita kepadanya tak kunjung surut. Maka betapapun memuakkan partai-partai, yang kita lakukan adalah justru memperbesar rasa percaya kita kepadanya.&lt;br /&gt;Saya hanya ingin memberi sebuah gambaran bahwa di semua bidang dan setiap pendidikan, sangat banyak di antara kita yang bermain-main dengan nasib bangsa kita sediri. Dan yang paling menjengkelkan adalah bahwa yang dipermainkan adalah nasib rakyat, dengan subjek utama adalah kekuasaan. Sangat tidak logis bahwa ada sejumput manusia yang meyakini bahwa ia memegang kekuasaan dan lantas memain-mainkan kekuasaan itu tanpa pernah puas. Termasuk mengutak-atik kue menteri hanya untuk transaksional politik.&lt;br /&gt;Reshuffle mungkin saja bukan penerapan kekesalan SBY. Peralihan jabatan menteri mestinya bukan sesuatu yang emosional, yang menyangkut like and dislike untuk menyingkirkan musuh dan merangkul calon kawan. Reshuffle seharusnya juga bukan bagaimana mendukung orang kita sendiri dan menumpas kelompok lain. Terkecuali kita ingin membentuk budaya kuasa yang dengan sengaja mempertahankan ketidakdewasaan dalam memahami hakiki kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Reshuffle yang dewasa adalah peralihan tugas yang berfokus pada objektivitas berpikir tentang apa yang terbaik bagi kesejahteraan seluruh bangsa. Reshuffle yang baik dilihat dari hasil-hasil kerja yang adil dari suatu mekanisme sistem demokrasi. Tidak berlatar-belakang dengan apakah si calon penerima jabatan yang baru nanti anak ketua umum partai, atau teman yang telah berjasa selama masa kampanye. Reshuffle yang arif adalah pemihakan terhadap kemungkinan kedepan yang terbaik bagi nasib seluruh bangsa.&lt;br /&gt;Bangsa ini sudah terbiasa selalu menengok sejarah, hingga kalau ada seseorang yang menonjol di masyarakat, yang pertama-tama ditilik adalah, siapa bapaknya? Sedemikian pentingnya sejarah asal usul dan ilmu asal usul. Mungkin karena setiap peran sejarah membutuhkan identifikasi yang mendasar dan lengkap. Siapakah Puan? O, beliau putri Megawati, presiden kelima Republik ini. Beliau juga cucu Bung Karno, presiden pertama Republik ini. Dalam artian silsilah kuasa Bung Karno belum selesai.&lt;br /&gt;Saya begitu yakin, bahwa PDIP yang paling menunjukkan identitasnya sebagai partai oposisi, yang memakai label demokrasi sebagai wajah utamanya, selalu ingin berkubang keringat bersama pendukungnya. Dan saya –sebagai rakyat non simpatisan- berharap bahwa Puan bukanlah Tuan. Meski kekuatan dan kelemahan Puan adalah bahwa ia putri Megawati dan cucu dari mendiang Bung Karno. Jika menilik ilmu ginekologi, kita akan berpikir justru karena ia anak Megawati dan cucu Bung Karno maka terdapat kapasitas dan kualitas yang bisa memenuhi harapan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.&lt;br /&gt;Partai seharusnya menetapkan benang merah komitmen oposisi atau koalisi. Kalau partai lain bicara muluk tentang angka statistik pendapatan perkapita dan angka kemiskinan, harus ada partai langsung mencium keringat buruh dan manusia-manusia bantaran sungai dan pinggir rel kereta sebagai muntahan-muntahan kebobrokan zaman. Setiap ada kesemrawutan sistem politik, atau berlangsung manipulasi angka dan pekikan dan desahan ketidakadilan sosial dan kultural selalu menjadi komoditas partai oposan untuk maju mengkritisi.&lt;br /&gt;Seharusnya partai bukan partai setengah-setengah, yang tak sunguh-sungguh melihat potret nasib rakyat yang selalu menjadi oposan terhadap pimpinannya sendiri. Partai seharusnya juga partai yang identitasnya jelas dan tegas yang mem”bantengi” dirinya dengan realitas budaya politik oposan. Memang kita punya idealitas bahwa acuan partai hendaknya bukan lagi baju dan latar belakang primordial, melainkan rasionalitas aspirasi dan program-program.&lt;br /&gt;Kita memilih ada partai-partai transaksional yang kemudian didisiplinkan untuk nasionalisme oleh sejarah. Kemudian pilihan kita jatuh pula pada partai-partai yang demokratis tetapi realitasnya mengabdi tidak saja kepada golongannya melainkan juga harus dilengkapi dengan kepentingan kelompok kecilnya, bahkan kepada keperluan karier politik pribadi.&lt;br /&gt;Diangkat-angkatnya Puan untuk menjadi kandidat –meminjam istilah Ahmad Mubarok- menteri ringan bisa kita anggap sebagai potret lugas dari natural politik pencitraan bangsa ini. Jika Puan dengan begitu saja dibawa Tuan, maka si Tuan akan menentukan akan dibawa lari kemana Puan, Karena jika Puan suatu saat langkahnya ingin mengikuti “garis kongres” (oposisi) maka siap-siap akan diusir dari Tuan yang mempekerjakannya.&lt;br /&gt;Jadi silakan PKB, PPP dan PAN menghuni koalisi dan nyaman dari perombakan kabinet. PDIP tak usah ikut-ikut capek merebut kue kecil itu, tugas mereka adalah menjadi pemain bebas di lapangan untuk mengembangkan hak asasi politik bangsa agar tidak begini-begini saja. Dan harapan sekaligus pesimisme saya kembali muncul mengingat bangsa ini telh terbiasa mempunyai sifat multipolar. Seandainya pagi ini tidak, lihat saja nanti sore. Jadi jangan kaget jika kita melihat mata banteng yang telah membiru.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-2017277561584792592?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/2017277561584792592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/03/puan-dan-tuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2017277561584792592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2017277561584792592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/03/puan-dan-tuan.html' title='PUAN dan TUAN'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mxUNfV-9Pis/TuSO2xGEPiI/AAAAAAAAAJc/GUksjMxSFqE/s72-c/20091013120034_asian_lukisan_abstrak_%255B%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-6486954816607121822</id><published>2011-02-18T06:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T03:15:31.345-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>MALAM JUM’AT DI BULAN PUASA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-psxNSXX4CbA/TuSQiisLqrI/AAAAAAAAAJ0/3-NMPf3WSk8/s1600/220px-Le_guitariste.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-psxNSXX4CbA/TuSQiisLqrI/AAAAAAAAAJ0/3-NMPf3WSk8/s1600/220px-Le_guitariste.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;By: Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lonceng stasiun besar senen telah berbunyi, suara announcer memberitahukan kedatangan kereta ekonomi jurusan Semarang yang sejak satu jam tadi kami tunggu. Kereta bertarif Rp. 36.000,- ini sudah menjadi langganan kami setiap pulang ke kampung halaman.&lt;br /&gt;3 jam lalu, tepatnya menjelang maghrib, Pak Lik Gino mengabarkan meninggalnya Kakek. Tanpa tunggu waktu lebih lama, aku dan ibu langsung berkemas. Kami pun melupakan waktu berbuka puasa kami. Ayah terpaksa tak bisa ikut. Stroke menyerangnya sejak setahun lalu. Konon kakek meninggal juga karena stroke. Gumpalan darah membanjiri otaknya, hingga saraf kanannya tak berfungsi. Stroke yang diderita Kakek lebih lama dan telah berulang kali terjadi dibanding yang terjadi dengan Ayah.&lt;br /&gt;Deru lokomotif telah bersiap menarik sembilan gerbong yang terangkai di belakangnya. Kami menempati gerbong ke tujuh, persis di belakang gerbong restorasi. Suasana hiruk-pikuk pedagang keliling beradu dengan penumpang mengisi lorong gerbong. Suara gaduhnya mencirikan kelas ekonomi, kelas marjinal perkotaan, apa boleh buat, inilah kelas yang sanggup kami bayar.&lt;br /&gt;Tak lama kereta ini berhenti menunggu penumpang, hentakan pertamanya sedikit mendorong penumpang. Goncangan ini seperti teredam oleh suasana emosional ibu. Sejak dari rumah tadi Ibu tak kunjung bersuara. Raut muka sedihnya terpancar meski airmata tak juga terlihat. Ibu sangat diharapkan kedatangannya, ia anak tertua dan paling berpengaruh dari delapan adiknya yang masih hidup. Ibu juga yang tinggal paling jauh dari keluarga besar kami, seluruh adiknya tak ada yang hidup merantau.&lt;br /&gt;Aku hanya merekam sedikit nostalgia dengan Kakek. Beliau abangan, setidak begitu dikotomi yang dikemukakan Clifford Gertz, meskipun aku tak pernah mendefinisikan spt itu. Kakek memang tidak pernah shalat lima waktu, namun beliau lebih sering bercerita tentang ratu adil yang akan datang suatu hari nanti untuk menggantikan goro-goro belakangan ini. Cerita ini mirip yang dikembangkan kaum Bathiniyah tentang Imam yang ma’shum.&lt;br /&gt;Sebagai petani desa, Kakek banyak bercerita tentang filosofi alat bajak sawah. Semua unsur bajak sawah disebutnya satu persatu, dari mulai kajen, cekelan, singkal hingga racuk.&lt;br /&gt;“Cekelan yang kamu pegang ini adalah pegangan hidupmu di dunia, sementara racuk yang di ujung sana adalah tujuan hidup yang paling sempurna,” ujarnya berapi-api. “Singkal yang di bawah ini adalah cara yang dapat diterima akal budi manusia,” lanjut Kakek. Aku hanya melongo mendengarkan tanpa tahu maksudnya waktu itu. “sementara pacul yng kakek pegang ini untuk membuang jauh-jauh segala sesuatu yang tidak sesuai. Bawak yang melingkar ini adalah obahing awak atau amalan masa hidupmu. Sementara doran yang Kakek pegang ini adalah dedonga marang pangeran, berdoa kepada Gusti,” sambungnya.&lt;br /&gt;Kakek yang tak fasih berbahasa Indonesia, merasa telah cukup mengambil pelajaran dari alam. Menurutnya agama adalah pakaian dari orang-orang yang terhormat, sementara kakek menyebut dirinya hanya seorang petani. “Kakek bukan tidak butuh agama. Hidup kakek hanya berlandaskan tiga hal; keluhuran, kesejahteraan dan ilmu pengetahuan. Bila tidak memiliki satu di antaranya, habislah arti sebagai manusia,” nasihatnya waktu itu.&lt;br /&gt;Terakhir kali kami kunjungi kakek terbaring tak berdaya di rumah adik pertama ibu. Tegap dan kekar tubuhnya masih tersisa. Matanya masih bercahaya. Kulit di pipinya masih terlihat kencang dan bersih tak tergambar seorang pria berumur 70-an. Bicaranya pelan, sangat pelan dan terbata. Daya ingatnya tajam, dengan mudah ia mengingat Wisnu, cicitnya, keponakanku.&lt;br /&gt;Konon ia selalu bertanya tentang Wisnu, meski keponakanku itu hanya pernah berkunjung sekali. Pernah bu likku dibuat repot karenanya. Dalam ketidakberdayaan itu, kakek bersikeras ingin ke Jakarta, mengunjungi Wisnu, tetapi tubuh lemahnya yang mencegahnya. Sayangnya kepada Wisnu ia tunjukkan beberapa bulan lalu ketika kami berkunjung untuk menghadiri pernikahan adik wanita ibu yang terakhir. Seolah tubuh bocah lima tahun itu tak ingin dilepasnya. Wisnu sendiri merasa setengah risih dengn perlakuan itu. Ucapannya tak mendapat respon dari Wisnu. Sangat pelan dengan bahasa jawa yang tak akrab di kuping Wisnu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ibu masih tersandar mematung di sudut kursi hijau kereta. Tatapannya kosong. Di luar terlalu gelap untuk dipandang oleh matanya yang terlihat mengantuk. Hilir mudik pdagang menawarkan barang tak dihiraukannya. Kerut merut di kening sangat jelas terlihat. aku tak punya keberanian untuk mengajaknya bicara. Setetes airmata mengalir dari rongga pipinya. Tetes air mata itu coba dihapus dengan dengan punggung tangannya. Kali ini tatapannya masih dibuang keluar. Wajahnya beradu dengan jendela kaca. Suara sirene perlinatsan kereta tak jua membuatnya kaget.&lt;br /&gt;Tak ada interaksi antara kami dengan penumpang lainnya. Gerbong ini sepi. Kursi di depan kami kosong, juga di samping. Di seberang depan kursi kami duduk seorang pemuda yang sedang mengepulkan asap rokoknya. Kursi panjang berkapasitas tiga penumpang itu didudukiya seorang diri, sama seperti kami. Aku coba merebaahkan diri di kursi panjangku dengan kepala diganjal jaket. Pedagang masih tetap tak tahu lelah yang menggelayuti kami. Disaat seperti ini aku sangat rindu kamarku. Meskipun tak pernah rapi, namun terasa nyaman.&lt;br /&gt;Pukul dua dini hari ketika kereta transit di stasiun Tegal. Penjaja makanan berdesak masuk, melalui pintu selebar satu meter. Beberapa orang petugas kereta didampingi seorang polisi memeriksa karcis seraya mengingatkan waktu sahur. “Kereta berhenti dua puluh lima menit, sahur....sahur...” teriaknya mengisi lorong kereta. Aku pun bergegas turun mencari warung nasi. Makanan yang dijual di atas kereta tak mungkin cukup sebagai santapan sahur. Sejumput mie sebagai pelengkap segenggam nasi dihargainya dua ribu rupiah. Cukup mahal untuk porsi seperti itu.&lt;br /&gt;Tak seperti dugaanku, ternyata di luar stasiun kota ini masih riuh kehidupan. Berjajar barisan becak selalu setia menunggu penumpang. Satu persatu pemiliknya mulai menyambangiku. Aku diam, tak sepatah kata keluar dari mulutku untuk menerima atau menolak ajakannyanya. Aku seolah merasa tidak asing di luar sini. Ada satu penumpang lain yang mmepunyai tujuan sama denganku, mencari santapan sahur. Orang yang tak kukenal ini mengajakku ke arah utara, sekitar 30 meter dari pintu stasiun. Tampak dari kejauhan kios makan padang bersebelahan dengan warung makan Tegal. Dua bungkus nasi aku pesan dari warung makan Tegal ini, sementara seorang teman yang tak kukenal namanya ini lebih tertarik dengan nasi Padang sebagai teman santap sahurnya.&lt;br /&gt;Bungkus nasi kuletakkan di meja kecil di depan ibu. Kutawari dia. Tangannya membuka bungkusan itu. Santapan pertama sejak di rumah tadi langsung tersimpan di perutnya. Perlahan kunyahan demi kunyahan diresapinya. Sementara aku memilih untuk menunggu dekatnya waktu imsak. Kereta melaju seiring kegundahan ibu. Angin yang bertiup melalui jendela yang terbuka menghalau bau pesing yang menyeruak masuk dari toilet. Gerbong ini terus menguncang-guncang tubuh kami. Guncangannya mungkin sama yang dirasakan ibu saat menerima telepon tadi.&lt;br /&gt;Lamunanku buyar ketika kereta berhenti di stasiun Comal, dua belas kilometer arah timur Pemalang. Santapan sahur ku buka. Porsinya cukup mengenyangkanku, meski ku tak yakin puasaku sampai hingga maghrib nanti. Dua jam lagi perjalanan ini berakhir. Hal yang sangat menjemukan untuk bertahan lebih dari dua jam lagi di sini.&lt;br /&gt;Suatu yang paling menyenangkan jika tiba di stasiun Batang, kota setelah Pekalongan yang akan kami lewati, sebab lima kilometer setelahnya kereta akan melintasi pesisir pantai utara bertepatan dengan waktu matahari terbit. Aku pasti telah bersiap di sisi pintu yang selalu terbuka untuk menyongsong waktu itu. Pintu ini memang selalu terbuka, sebuah “keistemewaan” yang tak akan kita dapat di kereta kelas bisnis atau eksekutif. Deburan ombak menjilat-jilat bibir pantai. Bau amis penghuni laut tersapu laju kereta. Di batas cakralawa, surya mengintip melalu bilik-bilik awan yang menjingga. Semburat cahayanya menghampiri sesuatu yang tak tersembunyi. Di kejauhan bahtera di goyang angin, mencoba mengurungkan niat pemiliknya untuk mencari nafkah.&lt;br /&gt;Di selatan berdiri kokoh bukit berdinding semak dan pohon-pohon nan lebat. Perjalanan melelahkan ini sejenak terlupa oleh satu-satunya fasilitas perjalanan kelas ekonomi ini. setelah melalui pemandangan menakjubkan ini tibalah waktunya kami turun di stasiun Wleri. Stasiun kecil di barat kota Semarang. Kami masih harus menyambung menaiki tiga kali angkutan desa untuk sampai di rumah kakek di desa pikatan, di balik punggung gunung yang tak pernah ku tau namanya. Namun, aku harus sabar menunggu dua jam itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pijakan pertama kakiku menyentuh tanah becek, samping gapura desa. Sebuah desa santri dengan penduduk yang sangat agamis. Agak kontradiktif degan kakek yang abangan. Pesantren di desa ini baru berdiri sekitar 15 tahun lalu. Jauh sesudah kakek hidup, belajar dari alam dan berprinsip. Rumah kakek sudah terlihat di ujung jalan becek ini.&lt;br /&gt;Di depan rumah sepi, tiada kesan rumah duka. Hanya kerabat yang menyambut kami, tanpa warga yang bergugur-gunung, tanpa sesepuh pengurus jenazah, seperti biasanya. Rangkaian bunga melati dikerjakan oleh sepupuku. Pak lik Yanto memotong kayu untuk dijadikan nisan di makam nanti. Praktis semua dikerjakan sendiri. Begitu masuk ruang depan ibu disambut sedu sedan keluarga besar kami. Suasana begitu diselimuti haru saat ibu menghambur ke tubuh jenazah kakek.&lt;br /&gt;Di depan jenazah ada seorang yang belum kukenal, namun sepertinya seorang kiai, setidaknya terlihat dari identitas pakaiannya. Nenek dan Pak lik Gino sedang bercakap dengan kiai itu. Aku berinisiatif mengaji di depan jenazah kakek, sebagai bentuk dharma bakti terakhir. Pak Kiai mendekatiku seraya menepuk pundak kananku, “kakekmu orang baik, meninggal malam jum’at di bulan puasa,” ucap pria setengah baya itu setengah berbisik.&lt;br /&gt;Nenek memperkenalkan orang ini kepada kami, “ini, Kiai Fachruddin, ustadz baru di pesantren depan,” ujar nenek. Aku ulurkan tanganku seraya menyebutkan namaku. Ibu masih memeluk kakek. Diusapnya wajah kakek yang pucat. Air matanya menitik, jatuh tepat di atas kapas di lubang hidung kakek. Ia menumpahkan segala kebekuan selama di perjalanan. Air mata terisak yang tak pernah memicu raungan tertumpah di depan enazah kakek.&lt;br /&gt;Selepas shalat jum’at jenazah dihadapkan ke liang lahat. Kiai Fachrudin memberikan kesaksian bahwa jenazah kakek orang baik, karena meninggal di malam jum’at bulan puasa. Kiai Fachruddin meminta kesaksian warga untuk mendukung kesaksiannya. Warga yang didominasi santri itu terlihat malas-malasan menjawab dan tidak antusias mengatakan khair. Salah satu santri memberanikan diri berkata, “Mbah Djati bukan santri seperti kita kiai.”&lt;br /&gt;Kakek diidentifikasikan sebagai orang non santri. Jenazah kakek dimasukkan ke liang pengasingan dari peradaban monolitis kaum santri Jawa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-6486954816607121822?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/6486954816607121822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/02/malam-jumat-di-bulan-puasa_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6486954816607121822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6486954816607121822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/02/malam-jumat-di-bulan-puasa_18.html' title='MALAM JUM’AT DI BULAN PUASA'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-psxNSXX4CbA/TuSQiisLqrI/AAAAAAAAAJ0/3-NMPf3WSk8/s72-c/220px-Le_guitariste.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-2682601886545734925</id><published>2011-01-09T08:13:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T05:15:08.332-08:00</updated><title type='text'>Di Zawiyyah Sebuah Masjid</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HMU7nqxK5vs/TuSsini-VgI/AAAAAAAAAKE/OVRPwRfyoBs/s1600/masjid-agung-sket.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://1.bp.blogspot.com/-HMU7nqxK5vs/TuSsini-VgI/AAAAAAAAAKE/OVRPwRfyoBs/s320/masjid-agung-sket.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;By : Emha Ainun Nadjib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.&lt;br /&gt;“Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,” berkata Pak Kiai kepada santri pertama, “apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agama,” jawab santri pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa jumlahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak dua atau tiga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, “Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau katakan demikian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. “Allah mengajari Adam nama benda-benda,” katanya, “bahasa apa yang digunakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijawab oleh santri ketiga, “Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana membuktikan hal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, Nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**”Temanmu tadi mengatakan,” berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri keempat, “bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau menjelaskan hal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan,” jawab santri keempat, “Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap atau proses pertumbuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain Islam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik bukan anggapan akidah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu –sebelum dimanipulasikan– sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disempurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama –dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau pengurangan– sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil bertanya, “Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam, Kiai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa agama Ibrahim?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa agama Musa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan agama Isa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah bernama Islamkah ketika itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Itu berlaku baik tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**”Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?” Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membebaskan,” jawab santri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyelematkan, Kiai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam –sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu– dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Pak Kiai menuding santri ketujuh, “Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Kiai,” jawabnya, “Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan memedomani ayat-ayatNya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sangat banyak orang yang salah mengartikan makna pasrah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Bahkan manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah. Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal dari proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**”Cahaya Islam. Apa itu gerangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri ke delapan menjawab, “Pertama-tama ialah ilmu pengeahuan. Adam diajari nama benda-benda. Itulah awal mula pendidikan kecendekiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu pertama Allah kepada Muhammad, yakni iqra’. Itulah cahaya Islam, sebab agama itu dianugerahkan kepada makhluk tertinggi yang berpikiran dan berakal budi yang bernama manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemikiranmu lumayan,” sahut Pak Kiai, “Cahaya Islam tentunya tak dapat dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya: kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu. Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya mahacahaya itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Kiai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinihari rekayasa teknologi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Nuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hud?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi jawablah: pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada Ismail?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengurbanan dan keikhlasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayyub?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahanan dan kesabaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dawud?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangis, perjuangan dan keberanian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulaiman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan dalam kepandaian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Zakaria?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dzikir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Isa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun dari Muhammad, anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. “Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak menentu, Kiai,” jawab sanri terakhir itu, “Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Di saat lain kami adalah Ayyub –tetapi– yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit. Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya; sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir’aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, “Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku,” Pak Kiai menyela, “pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insyaallah tidak, Kiai,” jawab sang santri, “Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran. Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir’aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata. Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem. Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir. Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah. Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai tahap ini,” kata Pak Kiai, “cukuplah itu bagi kalian, sesudah dua pertanyaan berikut ini kalian jawab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami berusaha, Kiai,” jawab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar. Juga setiap kata dan gerak perjuangan,” berkata salah seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus pas. Tak lebih tak kurang,” sambung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah masyarakat,” sambung yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hikmah, maw’idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses sejarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan kembali ke Makkah untuk kemenangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai tersenyum, “Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub lembek, anak-anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lentur, Kiai!” kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fal-yatalaththaf!” ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami santri-santrinya satu per satu, “titik pusat Al-Qur’an!”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-2682601886545734925?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/2682601886545734925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/01/di-zawiyyah-sebuah-masjid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2682601886545734925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2682601886545734925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2011/01/di-zawiyyah-sebuah-masjid.html' title='Di Zawiyyah Sebuah Masjid'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-HMU7nqxK5vs/TuSsini-VgI/AAAAAAAAAKE/OVRPwRfyoBs/s72-c/masjid-agung-sket.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-5853912949349065563</id><published>2008-09-14T20:37:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T21:34:09.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>ANTROPOLOGI KIAI  (1)*</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Kiai Sahal Kajen, Kiai Pencari Mutiara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana banyak terjadi pada kiai pesantren, kiai Sahal Kajen adalah perokok kelas berat. Itu tidak hanya tampak pada rokok yang selalu dipegang dan diisapnya, tapi juga keadaan fisiknya: kurus kering dan tenggorokan yang acap terkena penyakit batuk.&lt;br /&gt;kebiasaan merugikan itu mungkin datang dari " kebiasaan kiai" untuk sedikit tidur dan berlama-lama dalam keadaan bangun. Kalau tidak untuk membaca kitab-kitab agama sendirian hingga larut malam, tentu untuk menemui tamu yang mengajaknya berbicang.&lt;br /&gt;Lahir, dibesarkan dan juga akhirnya menetap di "desa pondok" Kajen di Kabupaten Pati - sebuah desa dengan belasan pesantren yang hidup terpisah satu dari yang lain - Kiai Sahal dididik dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional. Apalagi di bawah bimbingan ayahnya sendiri sewaktu kecil, kiai Mahfudz, yang juga "kiai ampuh", adik sepupu almarhum Ra'is 'Am NU kiai Bisri Syamsuri.&lt;br /&gt;Kemudian ia melanjutkan pelajaran dengan bimbingan "kiai ampuh" lain, seperti almarhum Kiai Zubair Sarang. Pada dirinya terdapat tradisi ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqih, dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat &lt;em&gt;tafaqquh&lt;/em&gt; (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan &lt;em&gt;tawarru&lt;/em&gt; (bermoral luhur).&lt;br /&gt;Anehnya, kiai berambut penuh uban pada usia yang belum tua itu, bersikap cukup "aneh" bagi kalangan pesantren tradisional. Apalagi pesantren daerah pesisir utara jawa. termasuk ketika berani mempertaruhkan wibawanya dikalangan sesama ulama pesantren, dengan menerima kehadiran seorang "bule" Amerika, beragama Katolik, untuk tinggal dan mengajar bahasa Inggris di pesantrennya.&lt;br /&gt;Jawabannya: fiqh itu sendiri. Keputusan-keputusan hukum agama di masa lampau, diperlakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan seimbang. Bukankah dalam Ihya' Imam Ghazali banyak mutiara yang berhubungan dengan masalah gizi? Bukankah kitab-kitab fiqh cukup mengatur dengan 'orang dzimmi' (non muslim)?&lt;br /&gt;Bukankah kewajiban mengatur kehidupan bermasyarakat dalam totalitasnya, bukan hanya aspek legal dan politiknya, sudah begitu banyak dimuat kitab-kitab lama? Mengapa tidak diperlakukan keputusan-keputusan lepas dalam fiqh itu sebagai untaian mutiara, yang memunculkan kerangka kemasyarakatan yang dikehendaki.&lt;br /&gt;Toh kiai Sahal tidak pula kehilangan hubungan dengan sesama kiai pesantren. terbukti dari pengayoman oleh sesepuh para kiai di desanya sendiri, kiai Abdullah Salam. Kiai ini pemimpin pesantren hafalan Al-Quran dengan keluhuran akhlaknya (yang takut menerima bantuan uang dari orang kaya maupun pemerintah, karena takut "kecampuran barang haram", dan begitu dihormati tokoh legendaris Embah Mangli di Jawa Tengah) memberikan persetujuan penuh atas kerja-kerja yang dilakukan Kiai Sahal.&lt;br /&gt;Itu memang bukti kuatnya akar 'rangkaian mutiara' seperti yang dipungut kiai Sahal itu, untuk masa lampau maupun masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Antropologi Kiai adalah diambil dari buku dengan judul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah penulis Abdurrahman Wahid.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-5853912949349065563?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/5853912949349065563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/09/antropologi-kiai-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5853912949349065563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5853912949349065563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/09/antropologi-kiai-1.html' title='ANTROPOLOGI KIAI  (1)*'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-4373280490341335384</id><published>2008-09-02T23:36:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:17:44.417-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ramadhan Ya Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;By : Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-_14cZe_FMBs/TuStZlvtTTI/AAAAAAAAAKM/aSdoAAohTmo/s1600/gambar+masjid.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-_14cZe_FMBs/TuStZlvtTTI/AAAAAAAAAKM/aSdoAAohTmo/s320/gambar+masjid.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Gegap gempita menyambut kedatangan Ramadan dan hiruk pikuk kaum muslimin menjalani Ramadan, disatu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama, khususnya di negeri ini. Namun, dilain pihak, bias sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita. Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengkoordinasikan pihak-pihak yang di ajak bersama-sama mengitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal Ramadan. Bahkan, tahun ini masyarakat umumpun dilibatkan dalam kegiatan rukyah. Lihatlah spanduk-spanduk menyambut kedatangan Ramadan yang terpampang di seantero jalan. Lihatkan kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan. Lihatlah ingar-bingar masjid-masjid dan mushola serta meriahnya acara buka bersama dimana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi, termasuk kepolisian yang dengan serius berusaha menghormati Ramadan. Luar biasa. Pendek kata pada Ramadan ini, Indonesia seolah-olah menjadi milik kaum muslimin. Lautan, daratan, dan udara boleh dikata dikuasai kaum muslimin. Subhanallah! Kata Ilham dan ustad-ustad dalam takjub. Fenomena ini bisa kita saksikan setiap tahun. Setiap Ramadan. Hanya pada Ramadan. Inilah acara rutin tahunan kita selama ini. Seakan-akankita hanya menunggu datang dan perginya Ramadan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadan hanya pada Ramadan. Kita berpuasa, menahan diri hanya kepada Ramadan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadan. Itu pun – kehidupan Ramadan yang seperti itu – masih menyisakan sekian tanda Tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridaan Tuhan mereka. Tanda Tanya itu antara lain, dimanakah posisi Allah dalam diri kita di tengah kesibukan kita yag khas itu? Seberapa murnikah niat kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah kita? Atau seberapa jauh dorongan nafsu yang samara menyusupi keinginan kita mendapatkan rida Allah? Dengan perenungan yang agak dalam, kita mungkin akan menyadari bahwa nafsu begitu halus tersembunyi dalam diri kita, sering berimpita dengan kehendak mendapatkan rida Allah. Kita berzikir atau membaca Quran, misalnya, tentulah dengan kehendak ingin mendapatkan rida-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu justru mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak yang mulia itu malah melenceng melanggar anggar-anggar-Nya. Kita berzikir atau membaca Quran tidak lagi murni bagi Allah Yang Mahadekat, tetapi kita keraskan suara kita sedemikian rupa seolah-olah kita sedang menyeru orang tuli. Bahkan, di negeri ini, kebiasaan berzikir, membaca Quran, dan sebagainya, dengan pengeras suara sudah merupakan hal jamak lumrah. Tak ada seorang kiai pun yang mengingatkannya. Saya sendiri pernah menyinggung masalah kemaruk pengeras suara ini, di koran ini. Besoknya ada penelepon yang marah-marah, “MUI saja, Gus Dur saja, tidak mempersoalkan, kok sampeyan mempersoalkan!” Saya mempersoalkan hal ini justru karena MUI dan Gus Dur tidak terang-terangan mempersoalkannya, jawab saya ketika itu. Biasanya orang yang membenarkan zikir dsb dengan pengeras suara beralasan bahwa itu merupakan syi’ar. Saya tidak tahu apakah maksud mereka dengan syi’ar itu? Apakah Rasulullah SAW yang melarang berzikir keras-keras itu tidak mengerti syi’ar? Apakah para sahabat, Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar yang mengecam zikir dengan suara keras itu tiak mengerti syi’ar? Lagi pula apakah, karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikkan hak mereka yang lain – sekecil apa pun – untuk tidak diganggu dengan suara-suara keras? Kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan rida Allah, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya. Tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadan, lalu ingin memaksa para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadan. Di sana ada musafir-musafir yang di perkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah. Dengan demikian, Ramadan tidak begitu saja berlalu sebagaimana momen-momen rutin lain yang tidak membekas. Apalagi justru menjadikan kita hamba-hamba yang bangga diri terhadap kebesaran semu kita. Selamat berpuasa Ramadan! Semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menrima amal ibadah kita. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis ulang dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-4373280490341335384?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/4373280490341335384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/09/ramadhan-ya-ramadhan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4373280490341335384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4373280490341335384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/09/ramadhan-ya-ramadhan.html' title='Ramadhan Ya Ramadhan'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-_14cZe_FMBs/TuStZlvtTTI/AAAAAAAAAKM/aSdoAAohTmo/s72-c/gambar+masjid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7842234268480868757</id><published>2008-08-19T22:40:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:21:40.176-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Merintis Mencari Jalan Mu</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;By : Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-knGHnjsIY_Q/TuSuRXMdf_I/AAAAAAAAAKU/Xa8CPTDSQRo/s1600/weepingwoman1937.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-knGHnjsIY_Q/TuSuRXMdf_I/AAAAAAAAAKU/Xa8CPTDSQRo/s320/weepingwoman1937.jpg" width="264" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya terhenyak kaget ketika membaca sebuah buku filsafat yang menyakan “Allah Maha Kuasa, sehingga dengan kuasanya itu, Dia dapat membuat batu sangat besar yang Tuhan sendiri tidak mempunyai kesanggupan untuk mengangkatnya”. Apa iya begitu ?&lt;br /&gt;Kalau memang begitu, lalu bagaimana Dzat yang bernama Allah ? bukankah untuk mnegenal Allah seorang Ibrahim haru smeneliti apakah hal-hal yang semula dianggapnya sebagai “tuhan” dapat diteliti lebih lanjut bahwa itu benar-benar “tuhannya”.&lt;br /&gt;Jalan manusia menuju Allah diawali dengan kemampuan manusia untuk dipesonakan dan juga kemampuanny auntuk menyelidiki masalah yang mengantarnya kepada pesona itu. Semoga saja, saya bukan manusia yang dilahirkan dengan keinginan untuk diagungkan, karena dengan demikian saya akan sulit untuk menerima keagungan daripada unsur-unsur lainnya, termasuk untuk menerima kepesonaan Allah tadi.&lt;br /&gt;Belum habis rasa bingung saya, muncul pernyataan berikutnya, “Allah tidak ada, kalau kita tidak ada”. Pernyataan ini penuh makna, Allah butuh pengakuan atas eksistensiNya, padahal kalalu kamu cuek sama Allah, Dia pasti meneng, tidak berkurang ke Maha Pengasihannya. Allah juga tidak akan misuh, terus cemburu dan menyesal menciptakan kamu.&lt;br /&gt;Apakah saya –sebagai pemula-  harus mempercayai ungkapan verbal yang sudah turun temurun dan mulai mnecarinya sesuai dengan petunjuk tersebut ?&lt;br /&gt;Apakah kita mempunyai bekal yang cukup untuk mengenali Dzat yang bernama Allah, padahal Allah memberi pengetahuan yang sangat sedikit sekali tentang ruh, apalagi Dzat yang membahas kerahasianNya. Mungkin, sampai sini saya sependapat pada masa Al-Ghazali mencari Tuhan. &lt;br /&gt;Apakah kepercayaan kepada Allah dapat menjadi suatu pengetahuan tertentu? Jika Allah harus disembah, Ia harus diketahui dengan pasti. Apa iya, akal pikiran dan 5 indera kita dapat mendeteksi secara pasti sang khalik ? atau  saya dapat mengiyakan suatu kebenaran yang say aperoleh dari seseorang yang telah menjadi suatu kepercayaan umum dianut orang menjadi hasil dari pemikiran mereka ?atau mungkin ini adalah sebuah kepercayaan yang dibenarkanNya, yang dengan mempercayainya aku tidak terjerumus dan mengkhianati ke Esaan-Nya?&lt;br /&gt;Apakah benar, meng-intelijen Allah adalah dengan mendeduksi (istisyhad) segala eksistensi dari pengetahuan mengenai yang Haqq ? Bukankah, itu sebuah metode yang sangat pelik dan rumit yang berada diatas kemampuan kebanyakan manusia untuk memahamiNya ? ataukah mencari Allah dimulai dengan mempelajari hal-hal yang mudah untuk dicerna oleh kemampuan yang sederhana dalam memahami dan oleh karena itu dapat dikomunikasikan dalam bentuk bahasa, bukankah memahami Allah dengan cara ini adalah sebuah pemahaman yang parsial dan sementara yang hanya menuntun saya kepada tingkat terakhir dalam pemahaman mengenai realitas dan kesatuan eksistensi ?&lt;br /&gt;Mengenal Allah, melalui bahasa ?? Semudah itukah ? Bahasa yang hanya dapat menerangkan aspek-aspek “ilmiah” dari realitas namun tidak dapat menerangkan aspek-aspek realitas yang masuk kebidang spiritual yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan langsung yang bersifat pribadi. Dengan demikain, dibutuhkan sebuah “penglihatan” yang mampu melampaui tingkat pemahaman “intelektual” sebab hanya dengan kata-kata saja, tidak mampu mengetahui mengenai Allah, sifat-sifat Nya, dan aspek spiritual dan sebuah eksistensi.&lt;br /&gt;Jika Allah sulit dipahami melalui bahasa secara konvensional, apakah dengan demikian Allah itu gaib ? Jika menganggap Allah itu gaib , bukankah berarti kita membuat jarak dengan kegaiban itu sendiri, dan dengan mengambil jarak dengan kegaiban akan semakin sulit kita mengenal Allah.&lt;br /&gt;Jika melalui jalan gaib sudah tertutup untuk mengenal Allah, bagaimana dengan diri kita, jasmani kita, sifat kita dan perubahan keadaan kita, perubahan-perubahan hati kita dan semua tingkatan didalam gerakan-gerakan kita ataupun saat kita beristirahat. Kemudian objek-objek yang dapat ditanggapi oleh panca indera kita, dan setelah itu objek-objek yang dapat ditanggapi oleh akal pikiran dan “penglihatan” kita, yang setiap objek ini mempunyai instrument persepsi, sebuah saksi dan sebuah petunjuk untuk eksistensinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wallahu alam bisshawab&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;By : Mularto&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7842234268480868757?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7842234268480868757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/08/merintis-mencari-jalan-mu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7842234268480868757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7842234268480868757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/08/merintis-mencari-jalan-mu.html' title='Merintis Mencari Jalan Mu'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-knGHnjsIY_Q/TuSuRXMdf_I/AAAAAAAAAKU/Xa8CPTDSQRo/s72-c/weepingwoman1937.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7256749878947455906</id><published>2008-08-04T19:57:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:22:30.143-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Moses</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;By : Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah seorang Moses,tetangga saya ini seperti halnya shakespeare, tidak memandang penting namanya. Meskipun sediki terdengar aneh bagi warga kampung kami. Di barat atau bagi orang Nasrani, sudah terbiasa mendengar nma Moses yang diambil dari nama seorang nabi Bani Israel, Musa. Menurut Moses sendiri, ayahnya dahulu pun tidak mempunyai motivasi dalam pemberiaan nama tersebut. Sang ayah hanya mengikuti saja anjuran kakeknya tanpa bertanya lebih jauh tentang maksud dan tujuan pemberian nama tersebut.&lt;br /&gt;Sebelumnya, Moses tinggal di sebuah desa kecil di Solo. Ayahnya yang sebagai pensiunan pegawai negeri sipil sengaja ingin pindah ke Jakarta, karen aibunya yang sedang mengidap komplikasi diabetes harus dirawat di rumah sakit di Jakarta. Moses dan keluarganya tinggal di sebuah rumah berukuran 170 meter persegi, tepat disamping rumah saya. Rumah itu dibelinya dengan harga seratus juta rupiah dari keluarga Bapak Kamsani, pemilik s&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SJf6EnloqFI/AAAAAAAAABk/CB25AzniKs0/s1600-h/7QACAH8AQKLCAIQM1SKCAHRHWHACAH83C2ICADACUE3CANN61PKCALCAUSBCAJ2E9ZYCA0GYKCLCANW00PTCAGRC8U0CA7DJAS5CADMHT5GCASFHLMDCA3XXY8DCAR95XFGCAKMW0SQCARFH4X3CAWQ3QRJ.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="118" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230924449467377746" src="http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SJf6EnloqFI/AAAAAAAAABk/CB25AzniKs0/s400/7QACAH8AQKLCAIQM1SKCAHRHWHACAH83C2ICADACUE3CANN61PKCALCAUSBCAJ2E9ZYCA0GYKCLCANW00PTCAGRC8U0CA7DJAS5CADMHT5GCASFHLMDCA3XXY8DCAR95XFGCAKMW0SQCARFH4X3CAWQ3QRJ.jpg" style="float: right; height: 211px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 259px;" width="192" /&gt;&lt;/a&gt;ebelumnya.&lt;br /&gt;Rumah,sawah dan semua harta bendanya tak tersisadijual untuk mengobati ibu dan modal tinggal di Jakarta. Sebelumnya ayah Moses adalah orang yang disegani di Solo. Kewibawaan dan kepemilikan atas berbagai bidang tanah dan sawah turut mendukung keseganan warga dikampungnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sebagai muslim yang taat, Moses memang sanagt ingin pergi haji. Tetepai keinginan itu selalu tertunda karena ia ingin pergi “haji” ketempat lain. Tahun kemarin, ia pergi “haji” ke Aceh menjadi sukarelawan korban Tsunami. Modal ke tanah suci, dipakainya untuk berjihad hanya didepan serambi Mekkah. Di matanya, hukum-hukum Islam banyak berubah, meskipun kita mampu, haji dianggap tidak wajib. Haji bisa menjadi sunnah, atau makruh tergantung skala prioritas. Karena itu pulalah hajinya selalu tertunda.&lt;br /&gt;Ketika saya bertanya, mengapa hukum dianggapnya berubah, dengan ringan ia menjawab “ kalau kita sedang shalat, lalu ada tetangga kita yang terbakar rumahnya, menurut anda lebih wajib mana? Menyelesaikan sholat kita atau mengambil seember air ?”&lt;br /&gt;Saya diam, lebih tepatnya saya tak ingin terjebak dengan pertanyaan itu. Saya takut pertanyaan ini jadi mengkafirkan saya.&lt;br /&gt;“jelas lebih fardhu mengambil seember air” sambungnya. “lalu, bagaimana dengan hukum merokok” saya coba menyela. “tergantung mas, apakah dengan merokok dapat mengganggu imanmu? Lantas kamu lupa syahadat, lupa dengan sholat, tidak naik haji kalau kaya raya nanti, jangan-jangan saking asyiknya merokok, kamu bisa lupa penciptamu yang Maha tidak butuh rokok itu. Kalau sudah sampai pada tahap ini, merokok itu hram,mungkin sama haramnya dengan syirik. Kalau merokok sudah pada tahap ini, kita merasa kenikmatan hanya datang dari rokok, dan tidak ada yang nikmat selain rokok. Ini bisa bahaya, nanti Djisamsoe kita anggap tuhan, marlboro jibrilnya.” Ungkapnya berapi-api.&lt;br /&gt;Bagi saya ungkapan ini bisa dianggap metafor, yang dapat mewakili sebuah simbol. Sementara saya belum ingin melontarkan komentar tersebut, ia sedang bersiap menggelontorkan kembali pendapatnya.&lt;br /&gt;“Kalau merokok hanya menggangu stabilitas fungsi hidung sebelahmu duduk, hingga khawatir menggangu berjalannya fungsi jantung, ini masih agak ringan, karena berarti rokok hanya tidak demokratis. Rokok memasung kebebasan dalam urusan hisap menghisap. Rokok masih perlu penataran ala orde baru agar menyadari hak dan kewajibannyasebagai sebatang rokok.” Moses belum ingin menghentikan irama musik hatinya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan tiba di kampung ini, warg akami menyambut dengan gegapp gempita. Biasanya, bagi muslim NU, dua minggu sebelum Ramadhan digelar malam Nisfu Syaban. Sebuah ritual, dimana menjelang sore warga membawa air dalam botol-botol plastik menuju masjid. Air-air tersebut “akan berkhasiat” setelah dibacakan surah Yassin 3 kali balik beserta kelengkapan tahlilnya.&lt;br /&gt;Ketika malam pertama Ramadhan, Moses cukup mengenakan jeans dipadukan dengan t-shirt, warga langsung mencibir terhadap penampilannya. Moses dianggapnya tidak menyambut gembira bulan ini.&lt;br /&gt;Dasar orang aneh, seharusnya Moses memasuki pola pikir mereka. Ramadhan adalah bulan baik, dan harus disambut dengan pakaian yang baik. Saya coba untuk anjurkan untuk mengormati pandangan warga. Jawaban ringan pun mangalir darinya,&lt;br /&gt;“apakah warga dapat menjamin hati saya untuk tidak sombong, seolah-olah saya muslim taat dengan pakaian itu”.&lt;br /&gt;“tetapi saya lihat anda cukup taat menjalankan ibadah.”&lt;br /&gt;“Itu ukuran anda, bagaimana dengan Tuhan”. Jawabnya seraya berlalu menuju surau.&lt;br /&gt;Ditengah cibiran sebagai manusia yang aneh, karena menolak pendapat umum, Moses diberi kesempatan kultum dihari pertama Ramadhan tahun ini. Ketua RT yang juga pengurus surau mengetahui Moses adalah lulusan tebu ireng, saat keluarga Moses bertandang untuk mengajukan surat izin menetap di kampung ini.&lt;br /&gt;Pandangan apriori terlihat jelas dari barisan belakang ibu-ibu. Satu, dua dari mereka coba menganalisa lebih awal, bahkan sebelum kultum dimulai. Kepadatan malam pertama Ramadhan sangat terasa dengan pekik teriak anak-anak. Mereka bercanda sepantasnya sang anak. Meskipun berkali ditegur oleh kami yang dewasa, pekik itu hanya berkurang intensitasnya menjadi berbisik.&lt;br /&gt;Prolog kultum Moses diawali dengan suara echo dan feed back dari sound system. Setidaknya suara itu dapat menutupi suara bising anak-anak. Pembukaan mengalir lancar menuju isi kultum.&lt;br /&gt;“Jika mengaku Islam, ternyata kita belum adil dengan lainnya. Mengapa kita larang komunis hidup di negeri ini, hanya karena beberapa elitnya melakukan kudeta dan membunuh pemimpin kita.” Mata pak RT membelalak, entah apa yang dipikirkan.&lt;br /&gt;“kita belum Islam, jika kita masih merasa benar sendiri, orang lain berada pada posisi yang salah.” Kelihatan jamaah surau semakin menganggap aneh kultum ini. Seharusnya dihari pertama Ramadhan Moses mengambil tema puasa dan takwa. Tema ini sangat tidak populis dimata warga. Jemaah pun semakin tak acuh ketika Moses dengan meledak-ledak mengatakan,&lt;br /&gt;“Bagaimana jika nanti Islam pun dilarang, karena sebagian dari mereka berpikir militan dan melakukan bom bunuh diri. Kita tidak pernah membela hak orang lain, tetapi lebih sibuk dengan hak kita sendiri.”&lt;br /&gt;Satu persatu jemaah pergi, cukuplah shalat Isya dan tarawih tanpa disambung witir. Pak RT dengan gengsinya tetap bergeming dari tempat duduknya. Begitupun saya, sebagian kecil bapak-bapak dan anak-anak yang tetap bermain di pojok surau tanpa tahu apa yang sedang diceramahkan. Kultum pun menjadi benar-benar kultum, tujuh menit, tidak kurang atau lebih, Moses memang beritikad mendisiplinkan diri.&lt;br /&gt;Setelah kultum itu, tak ada warga yang menegurnya. Saat ini warga benar-benar tak menganggap eksistensinya. Dalam malam-malam berikutnya Moses tak lagi terdaftar sebagai penceramah Ramadhan, tidak juga muadzin, bilal apalagi imam. Itulah ceramah pertama dan terakhir kalinya. Seperti Suhrahwardi, Al-Hallaj, Ibnu arabi dan Siti Jenar, Moses telah dipancung karakternya. Hal ini yang membuatnya terus menerus tersingkir dalam kehidupan kampung kami. Namanya tak lagi dipertimbangkan untuk mengikuti berbagai kegiatan. Dalam kehidupan jemaah surau kami, Moses dianggap kafir pengecualian.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Shalawat mengiringi kepergiannya ketanah suci Mekkah. Tak banyak pengantarnya, hanya kerabat dekat dan saya sebagai satu-satunya tetangga. Haji yang diimpikan selama beberapa tahun ini akhirnya terlaksana. Hanya Moses dan ayahnya yang cukup udzur untuk pergi haji berangkat menunaikan ibadah suci itu.&lt;br /&gt;Sebelumnya, seperti selayaknya ritual pergi haji, Moses menyampaikan sepatah sambutan. Entah diperlukan atau tidak, sound sytem digunakan. Suaranya diperkeras, terdengar hingga radius beberapa ratus meter. “saudara-saudara, akhirnya yang saya impikan terlaksana. Setelah beberapa tahun hati saya tidak mampu, saat ini tidak ada penghalang yang membuat ekad saya goyah” sambutan yang datar.&lt;br /&gt;Saudara-saudaranya menyimak terdiam. Bahkan mungkin agak bosan dengan protokoler seperti ini.&lt;br /&gt;“setelah pulang dari tanah suci nanti, saya dan ayah berniat tidak akan mengenakan gelar haji, dan tidak ingin dipanggil pak haji.” Beberapa hadirin yang terkantuk mulai setengah bangun. Penekanan akan kalimat itu cukup keras hingga mengejutkan mereka. Beberapa tetangga dekat yang semuanya tak hadir jelas mendengar suara keras itu. Mereka hanya melongok melalui jendela rumah tingkat mereka. Beberpa diantaranya pernah ke tanah suci, dan memberi identitas diri dengan sebutan pak haji.&lt;br /&gt;“Haji bukanlah gelar, tetapi sikap. Gelar Al-Hajj atau haji juga tak pernah menempel pada Rasullulah, meskipun ia bersikap Al-Amin. Haji bukan tujuan, tetapi sarana pembentukan diri, perubahan perilaku dan kematangan sikap.” Pak haji yang melongok melalui jendela tadi beringsut, jendela ditutupnya rapat. Jika mungkin ditambahi alat peredam suara. Bagi mereka ini ini polusi suara.&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, sambutan itu berguna bagi diri dan keluarganya sendiri. Ini idealisme individu bukan sosial. Karena jelas, siapa yang ingin memanggilnya sebagai pak haji, sedangkan tetangga tak pernah lagi ingin memanggilnya.&lt;br /&gt;Sambutan selesai. Seluruh hadirin menyalami, ditambah pelukan hangat.” Semoga ini bukan haji yang terakhir” bisik saya.&lt;br /&gt;“Tidak akan, jika tidak ke tanah suci, saya bisa berhaji kemanapun” tegasnya sambil tersenyum. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mularto&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanah Kusir&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;September 2006&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Gambar di nukil dari :tamanrahasia.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7256749878947455906?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7256749878947455906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/08/moses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7256749878947455906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7256749878947455906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/08/moses.html' title='Moses'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SJf6EnloqFI/AAAAAAAAABk/CB25AzniKs0/s72-c/7QACAH8AQKLCAIQM1SKCAHRHWHACAH83C2ICADACUE3CANN61PKCALCAUSBCAJ2E9ZYCA0GYKCLCANW00PTCAGRC8U0CA7DJAS5CADMHT5GCASFHLMDCA3XXY8DCAR95XFGCAKMW0SQCARFH4X3CAWQ3QRJ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-6642592755789557310</id><published>2008-07-23T21:18:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:23:57.557-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MI’RAJ DALAM TINJAUAN KOSMOLOGI MISTISISME</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;By ; Langit Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Xa5CiQugPPE/TuSu2YpjlzI/AAAAAAAAAKc/SJ3fbiZpuuM/s1600/oranglindur.blogspot.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="274" src="http://2.bp.blogspot.com/-Xa5CiQugPPE/TuSu2YpjlzI/AAAAAAAAAKc/SJ3fbiZpuuM/s320/oranglindur.blogspot.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mi’raj merupakan aspek kebudayaan Islam populer yang telah mendarah daging, dan menjadi tema kajian yang tak pernah berakhir atau objek alusi dalam kebudayaan Islam. Sejak awal, riwayat-riwayat tentang mikraj memiliki kedudukan khas dalam spiritual Islam. Naiknya Muhammad menjadi wacana yang tidak berkesudahan.&lt;br /&gt;Peristiwa itu disinggung terus-menerus melalui alusi-alusi yang lembut, disertai pembahasan tentang wahyu, penglihatan kepada Allah, dan penglihatan seseorang yang tengah melakukan kontemplasi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mikraj tidak digambarkan dalam satu wacana yang khusus dalam Al-quran. Bukti tekstual Alquran yang utama untuk konsep ini ada;ah ayat pertama dari Surah Al-isra (Q.S. 17:1)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mahasuci Dia yang membawa hamba-Nya dalam perjalanan di malam hari dari tempat sholat yang disucikan (masjid al-haram) ketempat shalat yang paling jauh (masjid al-aqsha) yang telah Kami berkahi dengan berkah Kami, sehingga Kami bisa tunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kami. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini digabungkan dengan pemaparan tentang visi kenabian Muhammad (Q.S. 53:1-8), dan elemen-elemen lain dari peristiwa pandangan itu, seperti pohon lot (sidrah), yang kemudian dipadukan kedalam topografi Mikraj. Ayat ini juga dihubungkan denagn ayat Alquran lain yang terkenal, yakni tentang, “dibukanya dada Nabi Muhammad”. Surah Alquran yang pendek berikut menjadi bukti tekstual tentang pengambilan hati Nabi Muhammad dan penyusiannya dengan air Zamzam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Bukankah telah Kami buka dadamu&lt;br /&gt;Dan kami telah menghilangkan bebanmu darimu&lt;br /&gt;Yang telah memberatkan punggungmu&lt;br /&gt;Bukankah kami telah meninggikan sebutan namamu&lt;br /&gt;Dalam setiap kesulitan ada kemudahan&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan&lt;br /&gt;Ketika kamu bebas tetaplah bersiap&lt;br /&gt;Dan kepada Tuhanmu, hendaklah kamu berharap&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;(Al-Insyirah, Surah ke-94)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gambaran tentang  Mikraj tampak semakin meluas seiring dengan merasuknya tradisi Islam kedalam berbagai wilayah yang berbeda, ditambah beberapa penjelasan yang lebih luas tentang tingkatan-tingkatan neraka dan gambaran fisik keadaan tempat para Nabi di langit yang tujuh.&lt;br /&gt;Dalam beberapa kumpulan hadits paling awal, elemen-elemen penting Alquran (pohon lot [sidrah] dibatas yang jauh [al-muntaha]), sidrah-al-muntaha, pewahyuan Nabi Muhammad, dan pembukaan dada Nabi Muhammad ditemukan dalam tingkatan yang beragam dari naiknya Nabi Muhanmad melewati tujuh langit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Riwayat-riwayat tentang mikraj  menghubungkan tema-tema Alquran itu dengan tema-temapenting lain yang tidak disebutkan dalam Alquran. Nabi dibawa ke Jerussalem, Muhammad memasuki rumah kesucian (bait al-maqdis). Dari sana ia naik melewati tujuh langit, melihat rumah kehidupan (bait al-ma’mur) atau sebuah analogi surgawi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak diketahui dengan pasti apakah sebelum atau sesudah melihat sidrah (tergantung riwayatnya), Nabi Muhammad datang kehadapan Tuhan dan diperintahkan untuk memerintah umatnya mendirikan shalat yang diwajibkan limapuluh kali sehari. Lalu atas anjuran Nabi Musa, ia terlibat dalam satu rangkaian negosiasi, dan akhirnya ia mendapatkan perintah shalat lima kali dalam sehari yang pahalanya sama dengan shalat limapuluh kali dalam satu hari.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits ini menyuguhkan beberapa variasi menarik dalam tema yang luas ini. Dalam salah satu hadis dicertakan bahwa Nabi naik melewati langit, langsung setelah dadanya dibuka;dan dalam hadits itu, perjalanan malamnya menuju Masjud al-aqsha dan Bait-almuqqaddas tidak disebutkan. Pada shahih Muslim akhir riwayatnya berbeda denag penglihatan sidrah setelah melakukan negosiasi tentang jumlah kewajiban shalat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, versi yang lain dalam shahih Muslim dimulai dengan pembukaan dada Muhammad, langsung berpindah pada peristiwa Mikraj (tanpa menceritakan perjalanan menuju Jerussalem), dan menempatkan bagian kisah tentang pengujian dengan anggur dan susu setelah peristiwa Mikraj.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berbeda pula dalam sirah karya Ibn Ishaq yang dikisahkan kembali oleh Ibn Hisyam. Cerita tentang Mikraj diceritakan lebih mendetail ketimbang yang terdapat dalam hadits riwayat Muslim. Lebih jauh, masalah-masalah teologis yang terungkap didalamnya turut membedakan kedua riwayat ini. Ibn Hisyam memunculkan perdebatan-perdebatan awal sekitar validitas dan kemungkinan peristiwa perjalanan dimalam hari itu. Ia juga mengungkapkan pandangan Nabi Muhammad saw., Aisyah bahwa perjalanan dimalam hari dan Mikraj merupakan peristiwa yang murni bersifat spiritual. Sambil bersumpah, Aisyah menyatakan bahwa ia bersama Nabi selama waktu itu dan bahwa tubuhnya tidak berpindah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bishawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-6642592755789557310?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/6642592755789557310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/miraj-dalam-tinjauan-kosmologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6642592755789557310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6642592755789557310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/miraj-dalam-tinjauan-kosmologi.html' title='MI’RAJ DALAM TINJAUAN KOSMOLOGI MISTISISME'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Xa5CiQugPPE/TuSu2YpjlzI/AAAAAAAAAKc/SJ3fbiZpuuM/s72-c/oranglindur.blogspot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-6889774073142680253</id><published>2008-07-20T21:02:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:25:32.800-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Imam Mahdi : Konsep Teologis Akhir Zaman (II)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WbmCEl7nk5c/TuSvFPSSxjI/AAAAAAAAAKk/o2uRaqLelcY/s1600/3salvador-dali-persistence-of-memory.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-WbmCEl7nk5c/TuSvFPSSxjI/AAAAAAAAAKk/o2uRaqLelcY/s320/3salvador-dali-persistence-of-memory.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;By : Langit Mularto&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Pola itu berlanjut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola yang (kurang lebih) sama terus berkembang pada kemunculam Ahmadiyah. Muncul pada masa kolonialisme Inggris di negara India, hingga menguat dugaan kemunculannya lebih kenuansa politis. Banyak dugaan kemunculan Mirza ghulam ahmad sebagai Al-Mahdi dibiayai oleh kolonialisme Inggris waktu itu untuk memecah belah kekuatan Islam dan melawan kekuatan Hindu disana.&lt;br /&gt;Dalam kepercayaan yang dipegang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dipercaya sebagai Al-Mahdi yang telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada perbedaan keyakinan tentang pandangan mereka terhadap Mirza Ghulam sendiri.&lt;br /&gt;Pandangan pertama, adalah kelompok yang mempercayai Mirza sebagai mujaddid (pembaharu) dan sekaligus seorang Nabi. Pandangan ini dipercayai oleh kelompok Ahmadiyah Qadian. Di Indonesia kelompok ini disebut Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang berpusat di Bogor.&lt;br /&gt;Pandangan kedua, kelompok yang mempunyai keyakinan bahwa Mirza Ghulam hanya sebagai mujaddid (pembaharu) dari ajaran Islam. Pandangan ini dipercayai oleh kelompok Ahmadiyah Lahore. Di Indonesia kelompok ini disebut Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang berpusat di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lia Eden&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri yang cukup menonjol adalah Jemaah Salamullah pimpinan Lia Aminuddin. Sedikit berbeda dengan pola pengakuan Imam Mahdi yang lain, Lia Aminuddin mengaku hanya sebagai perantara turunnya Imam Mahdi. Anaknya, Ahmad Mukti yang didaulatnya sebagai Imam Mahdi nantinya.&lt;br /&gt;Trinitas yang diyakini umat Nasrani, juga diyakini oleh Lia. Dalam konteks yang berbeda dia menganggap didalam dirinya terdapat 3 ruh, ruh Malakat Djibril, ruh Siti Maryam, dan ruh Ibu Ahmad. Seperta halnya juga Rasullulah yang Ummi, Lia pun menyatakan sebelum perjumpaan dengan “Malaikat Djibril”, ia tak bnayak mengetahui Islam. Tokoh yang paling mempengaruhi pemikirannya adalah temannya bernama Abdul rachman,yang cukup banyak memperdalam Islam di IAIN (UIN) selain “Malaikat Djibril” tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Islam tidak sendiri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Islam, agama-agama lain seperti Yahudi, Nasrani , Majusi dan Hindu juga sangat menantikan kedatangan seseorang yang bakal muncul membawa keamanan dan keadilan kepada dunia.&lt;br /&gt;Orang Yahudi mazhab orthodoks percaya bahwa akan lahir Imam Mahdi dari kalangan mereka. Mereka ini disebut golongan Mesianic yaitu golongan yang percaya akan tibanya sang juru selamat. Keyakinan ini didasari oleh Kitab Perjanjian Lama, Kitab Kejadian (Genesis) 18:20&lt;br /&gt;“ Bagi Ismail, Aku mendengar doanya ; Sungguh, Aku akan memberkatinya dan menjadikanya mewah dan Aku akan kembang biakkan keturunannya, Dua Belas Raja akan dilahirkannya dan Aku akan jadikannya bangsa yang besar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diperkuat dalam Mazmur 37, 10-37 yang berbunyi :&lt;br /&gt;“ …dan Allah akan memunculkan para wali yang akan menjadi pemilik dunia ini dan menyelesaikannya selama-lamanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Nasrani juga sangat yakin dengan konsep Imam Mahdi ini. Meskipun konsep kepercayaan yang lebih bersifat literal dan bukan sebuah kewajiban untuk mempercayainya. Imam Mahdi yang dimaksudkan itu sebenarnya adalah Nabi Isa As sendiri. Hasilnya, pada tahun 1890 terjadilah Gerakan Taiping yang dipimpin Hung Hsiu-Chuan yang mengaku sebagai Imam-Mahdi dan sekaligus jelmaan suci Nabi Isa AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Imam Mahdi juga diyakini oleh umat Hindu. Dalam kitab “Veda” yaitu salah satu kitab suci dalam agama hindu, tertulis suatu ayat yang berbunyi “ Pada penghujung (umur) dunia, setelah berlaku penyelewengan dimuka bumi (muncul) seorang pemimpin yang dipanggil Mansur. Dia akan menguasai seluruh dunia, dia amat dikenali orang baik yang beriman ataupun kafir, dan apa saja yang dimintanya, Tuhan akan tunaikan”. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-6889774073142680253?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/6889774073142680253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/imam-mahdi-konsep-teologis-ahir-zaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6889774073142680253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6889774073142680253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/imam-mahdi-konsep-teologis-ahir-zaman.html' title='Imam Mahdi : Konsep Teologis Akhir Zaman (II)'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WbmCEl7nk5c/TuSvFPSSxjI/AAAAAAAAAKk/o2uRaqLelcY/s72-c/3salvador-dali-persistence-of-memory.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-1797014900308635453</id><published>2008-07-15T19:34:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:30:57.776-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aphorisma'/><title type='text'>SEBUAH APHORISMA  (I)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-E9YEKJ9r_Ms/TuSwZ7J7DkI/AAAAAAAAAK8/TOw7SMnmNQY/s1600/2000526569873704766_rs.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-E9YEKJ9r_Ms/TuSwZ7J7DkI/AAAAAAAAAK8/TOw7SMnmNQY/s1600/2000526569873704766_rs.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;By : Langit Mularto&lt;/div&gt;DIMANA  AKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika setiap hela napas-Mu untuk ku&lt;br /&gt;Dimana aku.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika setiap detak jantung-Mu untukku&lt;br /&gt;Dimana aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika setiap jejak langkah-Mu untukku&lt;br /&gt;Dimana aku ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam sunyi selalu saja namaku yang Kau sebut&lt;br /&gt;Dimana aku .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam majlis suci-Mu selalu saja namaku yang Kau ucap&lt;br /&gt;Dimana aku .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tahlil Kau kumandangkan&lt;br /&gt;Ketika tahmid Kau perdengarkan&lt;br /&gt;Ketika tasbih Kau ucakan&lt;br /&gt;Dimana aku .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lisan-Mu untukku&lt;br /&gt;Ketika Rasa-Mu untukku&lt;br /&gt;Ketika Indra-Mu untukku&lt;br /&gt;Ketika cinta-Mu untukku&lt;br /&gt;Tak ada aku di sisi-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :Mularto&lt;br /&gt;Tanah Kusir&lt;br /&gt;15 Juli 08&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-1797014900308635453?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/1797014900308635453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/sebuah-aphorisma-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1797014900308635453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1797014900308635453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/sebuah-aphorisma-i.html' title='SEBUAH APHORISMA  (I)'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-E9YEKJ9r_Ms/TuSwZ7J7DkI/AAAAAAAAAK8/TOw7SMnmNQY/s72-c/2000526569873704766_rs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-2894240277342632351</id><published>2008-07-07T22:31:00.000-07:00</published><updated>2011-12-11T05:33:22.852-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Imam Mahdi : Konsep Teologi Akhir Zaman (I)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Orriginal by :&amp;nbsp;Mularto&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalil hadist shahih yang menyatakan akan munculnya Al-Mahdi cukup banyak. Beberapa diantara hadits tersebut terdapat hadits yang secara tersurat (eksplisit) menyebutkan kemunculan Imam Mahdi dan lebih banyak yang lain hanya mengungkapkan identifikasinya saja.&lt;br /&gt;Diantara hadits tersebut adalah dari Abu said Al khudri ra. “Rasullulah bersabda : artinya pada masa akhir umatku akan muncul Al-Mahdi. Pada waktu itu Allah menurunkan banyak hujan, bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan banyak harta, ternak,umat menjadi mulia dan dia hidup selama tujuh atau delapan tahun.” (Mustadrak al-Hakim 4:557-558). Beberapa ulama menyatakan hadits ini shahih tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegaiban Imam Mahdi Syiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi syi’ah, Imam Mahdi adalah Muhammad bin Hassan Al-Askari yang gaib (tidak kelihatan oleh mata) tetepai senantiasa melihat kehidupan umatnya. Syiah menggunakan dalil Al-Quran surat At-taubah :105 artinya” Dan berkatalah ; “bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan mu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata”.&lt;br /&gt;Dalam kitab Yanabiul Mawaddah (kitab hadits Syiah) terdapat hadits yang menyatakan kegaiban Al-Mahdi.&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, beliau bertanya “Wahai Rasullulah, adakah Al-Qaim dari anak cucumu akan ghaib ? Rasullulah menjawab ,”Ya” lalu bersabda “ Wahai Jabir, ini adalah salah satu urusan dari urusan Allah dan salah satu rahasia dari rahasia Allah. Engkau jauhilah daripada sebuah praduga karena itu kufur” (Yanabiul Mawaddah, hal 489)&lt;br /&gt;Syiah meletakkan Imam Mahdi sebagai Imam yang maksum, sama dengan rasul-rasul. Masih dalam kitab yang sama, Syeikh Sulaiman al-Balkhi (penyusun) menyebutkan sebuah hadits tentang kemaksuman Imam Syi’ah yang berjumlah dua belas (12) orang itu. Terjemahannya kira-kira begini “ Aku mendengar Rasullulah SAW dan ahlul baitnya berkata, “ pada malam aku mi’raj, Allah berfirman kepadaku : ‘lihatlah disebelah kanan Arasy. Lalu aku berpaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali dan Muhammad Al-Mahdi bin Hassan, seperti cakrawala yang berputarputar dikalangan mereka. Dan Dia berfirman : “ wahai Muhammad, mereka itulah hujjah-hujjahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiku.” (Yanabiul mawaddah, hal 487).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Babisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seribu tahun menghilangnya Imam keduabelas, lahirlah gerakan Babisme 1260 H/1844 M. perkembangan gerakan ini didukung kepercayaan mesianisme Syi’ah. Bab (pintu) menuju Imam Mahdi diklaim oleh Sayyid Ali Muhammad. Namun tak jelas yang di maksud oleh Ali Muhammad, yang dimaksud Bab itu adalah pintu menuju Imam Mahdi atau Imam Mahdi itu sendiri.&lt;br /&gt;Secara teologis, gerakan ini sangat dipengaruhi oleh doktrin-doktrin saikisme. Bab pada awalnya diyakinkan oleh ramalan-ramalan mesianistik yang diajukan oleh Sayyid Kazim Rasti mengenai akan munculnya mesianis setelah meninggalnya Rasti. Doktrin ajaran Saikisme terlihat dalam kaitannya dengan masalah-masalah qiyamah dan pandangannya tentang watak dan sifat wahyu yang progresif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-2894240277342632351?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/2894240277342632351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/imam-mahdi-konsep-teologi-akhir-zaman-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2894240277342632351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/2894240277342632351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/07/imam-mahdi-konsep-teologi-akhir-zaman-i.html' title='Imam Mahdi : Konsep Teologi Akhir Zaman (I)'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-8455476694000643499</id><published>2008-05-28T20:59:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T03:41:33.315-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>MENJADI APA YANG SAYA DAPAT MENJADI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SD9xmAWsnPI/AAAAAAAAAA8/Y_pnIhFucrs/s1600-h/Demokrasi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206004592007748850" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SD9xmAWsnPI/AAAAAAAAAA8/Y_pnIhFucrs/s400/Demokrasi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah pengumuman verifikasi parpol tanggal 5 Juli ini, masa kampanye akan segera dimulai. Beda dengan pemilu terdahulu, masa kampenye dalam pemilu ini sekitar 9 bulan. masa kampanye ini, membuat saya latah seperti yang lain. Tetapi saya bukan paranormal yang mencoba meramal sesuatu yang masih dikantongi malaikat. Saya juga bukan pengamat politik yang menganalisa kekuatan elit-elit politik. Karena saya juga bukan maling, provokator, dan lainnya yang sedang mengolah otaknya untuk mencari sela dimana posisi yang tepat untuk mengisi "lowongan" pesta demokrasi ini. Pesta rakyat ini memang pada akhirnya melahirkan "naluri bisnis" untuk mengisi lowongan itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lantas, saya harus menempatkan diri saya diposisi apa? Saya bukan maling yang tidak ingin mencoblos bos maling saya, dan saya juga bukan paranormal yang ingin mengintervensi tugas operasional malaikat. Seorang sahabat lantas mencoba masuk ke dimensi pikiran saya, " Sebagai seorang yang menginginkan perubahan, sebaiknya kamu merubah sistem dengan masuk ke sistem tersebut, kamu harus ikut saya masuk ke Partai ini". Pengaruh ini meskipun belum bisa mengaduk -aduk pikiran saya, tetapi telah mencoba mendahuluinya melalui sikap-sikap saya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya ingin menjadi apa yang saya dapat menjadi, dan tidak untuk mengejar apa, yang pada tahap yang tidak benar adalah ilusi. Ini adalah tahap menjadi sadar akan apa yang mungkin bagi saya, dan tidak berfikir bahwa saya sadar akan apa yang saya tidak perduli. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya harus menenangkan apa yang harus ditenangkan, bersiap diri apa ynag harus disiapkan. Tidak berpikir bahwa saya tenang atau siaga dimana saya tidak dapat, atau bahwa saya perlu berbuat demikian ketika saya tidak memerlukannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya harus sadar akan tidak pentingnya saya berfikir bahwa ini penting, dan tidak ingin mencari-cari perasaan-perasaan penting itu sendiri. Dengan bersikap demikian, mungkin saya menjadi orang yang sederhana, karena saya memang harus begitu. Lagipula saya tidak ingin mengaplikasikan kerendahan hati untuk tujuan kebanggaan, bukan sebagai sarana perjalanan. Karena jika demikain saya memperburuk keadaan saya sebagi makhluk.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya hanya ingin seperti sedia kala. Yakni, mengangkat apa yang bernilai, kapan dan dimana itu bernilai, dan dengan siapa itu bernilai. Jadi, tidak meniru-niru orang lain karena segan, atau mencontoh bersifat meniru-niru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kesuksesan saya sebagai manusia dalam meningkatkan diri lebih tinggi hanya dapat diperoleh melalui usaha yang benar dan metode yang benar. tidak denagn sekedar memusatkan pada aspirasi atau pada kata-kata orang lain yang diarahkan kepada orang lain (Saya).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaikan ada sebuah perangkap yang diletakan untuk unsur yang hina dalam diri saya, kalau saya memaksakan diri mengisi "lowongan" pesta kebudayaan itu secara langsung atau dengan rekomendasi yang dapat diterapkan bagi semuanya, atau menarik saya dengan kuat meskipun tidak benar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jakarta, 30-Mei-2008&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber Gambar www.bdz-bb.de&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-8455476694000643499?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/8455476694000643499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/menjadi-apa-yang-saya-dapat-menjadi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/8455476694000643499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/8455476694000643499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/menjadi-apa-yang-saya-dapat-menjadi.html' title='MENJADI APA YANG SAYA DAPAT MENJADI'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SD9xmAWsnPI/AAAAAAAAAA8/Y_pnIhFucrs/s72-c/Demokrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-9107724526175040948</id><published>2008-05-26T19:57:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T20:00:07.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>SU’MUM BUKMUN UMYUN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Nasib rakyat kita memamng tidak ada asuransinya. Pejabat setingkat lurah hingga pimpinan pusat pemerintahan bukan diproyeksikan untuk menjamin bahwa rakyat tidak kelaparan, tidak bodoh dan tidak sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Ibu-ibu rumah tangga berteriak tentang dampak kenaikan harga BBM, yang tersisa hanyalah serak. Jusuf Kalla dan Abu Rizal Bakrie bukan Nabi Kesejahteraan yang selalu mencemaskan kalau-kalau dapur mereka tidak mengepul. Mereka tidak pernah bertanya apakah ibu-ibu punya beras untuk makan anak-anak? Punya uang untuk menyekolahkan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY-JK sebagai representasi pemerintah hanya memerintah, meminta, memarahi, mencurigai dan (kallau terdesak) memukuli. Sinonimnya adalah, jika mengingat mereka yang muncul bukan rasa terlindungi melainkan terancam. Kepada pak Polisi rakyat takut dankepada Tentara kami ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini terkenal karena budaya kepasrahannya. Sebagai pribadi-pribadi mereka memiliki budaya resistensi psikologis yang sangat tinggi untuk menelan kesengsaraan, untuk menyangga kecurangan-kecurangan sejarah, ketidakadilan politik dan berbagai jenis kelaparan dan kehausan hidup yang lain. Mereka tidak gampang merasa menderita, sehingga juga tidak banyak berargumentasi subyektif- apalagi obyektif – untuk melawan suatu keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu dipelosok desa juga sukar dipengaruhi apalagi dibuat percaya bahwa ada struktur –struktur keadaan yang mungkin menjadi asal usul penderitaan mereka. Lebih sulit lagi meyakinkan bahwa ada perbedaan antara Takdir dengan kemalangan yang diakibatkan oleh suatu mekanisme sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyimak  detik-detik pengumuman kenaikan BBM oleh pejabat terkait, Ibu saya nyeletuk :” Kalau Ibu mendengarkan mereka-mereka ini berpidato, kalau Ibu menatap sorot mata dan urat wajah mereka, kalau Ibu mendengarkan kata-kata mereka yang tidak berjiwa sangat sukar bagi Ibu untuk menemukan di dalam diri Ibu kepercayaan bahwa orang-orang itu punya sikap jujur terhadap uang, punya tanggung jawab kepada moralitas, dan punya kesungguhan dalam menangani amanat kedaulatan dan aspirasi orang banyak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, ucapan yang dinyatakan Jusuf Kalla dan Abu Rizal Bakrie adalah ucapan Pemerintah “ BLT sangat membantu rakyat, kenaikan BBM tak akan berpengaruh secara signifikan, apalagi yang telah menggunakan gas “ Ungkap Jusuf Kalla (Kompas 26/05)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking seringnya pemimpin kita ini menggelar rapat pimpinan partai, maka yang tercetus dari bibirnya adalah sudut pandang pimpinan partai, bukan sudut pandang kerakyatan. Mereka ini tidak memiliki kesanggupan untuk menjadi rakyat. Barang siapa sanggup menjadi rakyat yang baik, itulah pemimpin yang baik. Sikap mental seorang pemimpin haruslah sikap kerakyatan. Selebihnya, pelajaran tentang masalah teknis manajemen, organisasi dan lain sebagainya itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;learning by doing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kalau engkau seorang pimpinan rakyat, tumbuhkanlah telinga hatimu untuk mendengar suara dan bahasa rakyat. Karena rakyat bukan bawahanmu, melainkan atasanmu, karena merekalah yang memberimu mandat untuk mengurusi negeri ini yang berkorban untuk menggaji dan menyejahterakanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa, kita ini sedang mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Rakyat saat ini sudah sangat terpaksa untuk percaya kepadamu. Mereka sudah terlalu lelah oleh todak terbatasnya beban yang harus mereka pikul. Maka, jika, dan hanya jika pernyataan kenaikan BBM adalah demi keadilan rakyat ternyata hanya trik psikologis, maka betapa beraninya engkau sedemikian jauh menyakiti hati rakyatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pimpinan ini belum termasuk yang “ Su’mum, Bukmun, Umyun…..” bisu tuli dan bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-9107724526175040948?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/9107724526175040948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/sumum-bukmun-umyun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/9107724526175040948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/9107724526175040948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/sumum-bukmun-umyun.html' title='SU’MUM BUKMUN UMYUN'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-5915856158833285255</id><published>2008-05-07T20:27:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T03:41:33.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kembali ke Khittah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SCJ0KwYdQpI/AAAAAAAAAA0/vKvutTT-QIg/s1600-h/gus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197844648073970322" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 106px; CURSOR: hand; HEIGHT: 178px" height="120" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SCJ0KwYdQpI/AAAAAAAAAA0/vKvutTT-QIg/s400/gus.jpg" width="106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selalu sulit menebak langkah Gus Dur. Baik langkah politis, Sosial, Budaya hingga masalah ekonomi. Makhluk asal jombang ini adalah orang yang paling cuek untuk dipahami ataupun tak dipahami.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dibidang ekonomi misalnya, pada tahun 1990-an GusDur membuat gebrakan bidang ekonomi untuk umatnya di NU. Beliau bekerjasama dengan PT. Bank Summa mendirikan Bank Perkreditan Rakyat. Langkah ini banyak di singgung orang NU bahwa Gus Dur bukan kembali ke Khittah melainkan ke Khinthah (Perut). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun belakangan ini pun, Gus Dur pernah mengusulkan sebuah wacana agar pemerintah mengemplang saja utang luar negerinya seraya menunjuk Argentina yang melakukan hal itu untuk membangun negaranya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Atas berbagai keanehan tersebut Gus Dur sebagai “Khariqul Adah” – Kiai nyleneh- rupanya telah berani untuk menerima resiko dianggap berdosa secara politis, ekonomis, social, dan cultural.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika konflik PKB berawal dengan dimintanya pengunduran diri Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Dewan Tanfidziyah, banyak yang kesal kepadanya. Ia di sembur kiri-kanan, juga termasuk oleh komunitasnya sendiri –kiai-. Partai ini pun akhirnya di juluki Partai Kutub Besar, saking banyaknya DPC yang dibekukan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dimintanya berhenti seorang Ketua Dewan Tanfidziyah PKB bukan kali ini saja. Sebelumnya telah ada H. Mathori Abdul Jalil. Tokoh dari Jawa tengah ini pernah dijuluki anak emas Gus Dur. Sikap seaneh apapun dari Gus Dur, Mathori berusa untuk selalu memberi tafsiran yang positif. Bahkan ketika banyak kiai menentang terpilihnya Mathori untuk menjadi Ketua Dewan Tanfidziyah PKB, Gus Dur pun menjadi tamengnya “ini ketua partai, bukan Ketua NU. Kalau ketua NU memang sebaiknya dicarikan yang kiai”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pun diera kepemimpinan Alwi Shihab. Kebijakan Gus Dur tidak dapat dipahami oleh mayoritas kiai langitan yang dulu selalu mendampingi Gus Dur. Pendapat dan saran mereka tidak pernah lagi didengarkan Gus Dur. Bahkan tidak sekali dua kali kebijakannya sering bersebrangan dengan kehendak para kiai itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu pertikaian dikalangan elite PKB menjadi tak menentu. Banyak yang menganalisa hal itu disebabkan karena sejatinya pertikaian waktu itu bersumber pada dua kekuatan inti PKB –Gus Dur dan para Kiai (langitan)-.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Keanehan” sikap Gus Dur berlanjut ketika Ketua Dewan Tanfidziyah dipimpin oleh keponaknnya sendiri, Muhaimin Iskandar. Semula banyak yang menganggap Cak Imin tidak akan melawan seperti Alwi Shihab, Gus Ipul dan Mathori. Perlawanan Cak Imin konon juga didukung oleh sebagian kiai langitan yang telah lama jengkel dengan keputusan Gus Dur.&lt;br /&gt;Sedikit flash back, ketika muktamar PBNU di Situbondo tahun 1984, Gus Dur menyerukan agar NU kembali ke Khittah 1926. Gus Dur tergabung dalam Majlis 24, yang kemudian membentuk Tim 7 dengan tugas merumuskan konsep awal Khittah NU. Gus Dur sebagai ketua tim waktu itu. Hasil dari perumusan tersebut dilaporkan ke Majlis 24 yang kemudian dibawa ke Muktamar Situbondo. Draft tersebut menjadi keputusan Muktamar dan memilih Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur sangat konsisten dengan konsep Khittahnyadan membuat para Kiai yang berpolitik bingung. Gus Dur seolah sengaja ingin membuat jengkel para Kiai dengan kebijakan-kebijakan politiknya. Bisa saja dalam penilaian Gus Dur, berpolitik bukanlah medan juang Kiai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sebagian Kiai sudah mulai “muak” dengan kebijakan aneh Gus Dur. Mereka yang bersebrangan dengan Gus Dur menjadi “tersiksa”. Dalam beberapa perselisihan terdahulu, para Kiai selalu kalah dalam persidangan. Mereka juga tidak ingin bernasib sama dengan PKU nya Gus Sholah atau PNU nya Syukron Ma’mun. Gus Dur seolah sengaja membuat para kiai tidak nyaman dalam berpolitik dan kembali ke Khittah mereka yang mulia, tentu dengan media yang selalu dekat dengannya – Muhaimin Iskandar-.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kini Gus yang “nyentrik” ini di damprat sana-sini. Ia langsung dikucilkan dari solidaritas umatnya sendiri karena sikap politisnya itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengutip ucapan Almarhum Nurcholish Madjid “ Kita Share gagasan besarnya dan abaikan renik-renik kecil yang susah dipahami”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;-Wallahu wa Gus Dur alam- &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-5915856158833285255?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/5915856158833285255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/kembali-ke-khittah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5915856158833285255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5915856158833285255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/kembali-ke-khittah.html' title='Kembali ke Khittah'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SCJ0KwYdQpI/AAAAAAAAAA0/vKvutTT-QIg/s72-c/gus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-1383051471999862983</id><published>2008-05-06T19:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T03:41:33.723-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Tukang Gorengan Yang Makin Tersudut</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SCEdcY87R2I/AAAAAAAAAAs/HnAU9ELWZAs/s1600-h/tukang+gor.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197467818533799778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SCEdcY87R2I/AAAAAAAAAAs/HnAU9ELWZAs/s400/tukang+gor.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Baru baru ini saya mendapat email dengan subyek "Hati-Hati Beli Gorengan di Pinggir Jalan" dari salah seorang teman. secara redaksional isinya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Subject: Hati2 beli gorengan di pinggir jalan&lt;br /&gt;Menurut berita dibawah ini dapat kita ambil kesimpulan :&lt;br /&gt;1.. Plastik menjadikan makanan lebih crispy. 2.. Jangan2 plastik dijadikan syarat sebagai "bumbu" tukang gorengan.&lt;br /&gt;Saya pribadi pernah melihat tukang gorengan menuangkan minyak dengan plastiknya (tidak seluruh kantong plastik dimasukan), tapi hanya ½ nya, pada saat mobil berhenti karena macet, sambil bingung. Tidak taunya..o.pantesan gorengan yang dipinggir jalan enak, dan jika kita coba membuat gorengan dengan bumbu yang lebih banyak dirumah, rasanya tidak semantap yang beli dipinggir jalan.&lt;br /&gt;Temenku punya pengalaman juga, waktu beli pecel lele di daerah Jakarta selatan, ternyata abangnya tidak menuangkan minyak goreng yang masih diplastik ke penggorengan. Tapi malah meletakkan minyak goreng yang masih dalam plastik ke dalam penggorengan panas. Sehingga plastiknya meleleh larut dalam minyak panas baru pecel lelenya digoreng&lt;br /&gt;dan hasilnya.... ......... .......... ..pecel lelenya crispy!!!!!&lt;br /&gt;serem yaaaaaaaaaa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gw termasuk yg gak setuju dengan isi dari email ini, kenapa ? Jangan pernah kita ambil kesimpulan dari hanya melihat sekilas. Seolah kita tahu dalamnya padahal kita baru tahu kulitnya aja.&lt;br /&gt;Gw pernah nongkrong di tukang gorengan, mereka lakukan itu karena mereka tuh males buka ikatan plastik wadah minyak tsb, jadi minyak dan plastiknya diceburkan dalam wajan panas supaya tuh plastik bisa sobek dan minyak tumpah diwajan tsb setelah itu plastik dibuang.jadi kalaupun plastiknya gak dibuang, plastik akan terkumpul meleleh jadi satu, bukan malah kesetiap gorengan. itu klo kita berpikir secara logis.&lt;br /&gt;Jadi cukuplah kita jangan ikutan menyerang orang kecil.jangan kayak Trans TV dan Trans 7 yang bisanya bikin Berita investigasi yang menyudutkan orang kecil misalnya bikin berita zat pewarna di tukang cendol, tukang bakso, tukang semangka dan banyak lagi tukang yang lain, mereka gak berani nyerang koruptor, atau bikin investigasi kemana larinya Edi tansil, Syamsul nur salim, Marimutu sinivasan DLL.&lt;br /&gt;Kasihan mereka itu gak punya Humas untuk menjelaskan/ memberi pembelaan terhadap posisi meraka yang selalu dipojokkan/dimarjinalkan.&lt;br /&gt;Udah selalu diusir sama Pemda (satpol PP) truz kita ikutan bikin berita yang kita forward secara berantai yang menyudtkan posisi mereka. kasihan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-1383051471999862983?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/1383051471999862983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/tukang-gorengan-yang-makin-tersudut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1383051471999862983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/1383051471999862983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/05/tukang-gorengan-yang-makin-tersudut.html' title='Tukang Gorengan Yang Makin Tersudut'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SCEdcY87R2I/AAAAAAAAAAs/HnAU9ELWZAs/s72-c/tukang+gor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-4851217446295486469</id><published>2008-04-23T20:59:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T03:41:33.992-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MEMENTO MORI*</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Ingat kamu harus mati&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SBAHG487R1I/AAAAAAAAAAk/aLMheGdWCx0/s1600-h/dalai+lama.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192658185306720082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 183px; CURSOR: hand; HEIGHT: 181px" height="181" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SBAHG487R1I/AAAAAAAAAAk/aLMheGdWCx0/s320/dalai+lama.jpg" width="145" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;China sedang menjadi pusat perhatian belakangan ini. Bukan hanya sebagai tuan rumah pesta olahraga terbesar bernama olimpiade saja yang menjadi pokok bahasannya, tetapi juga menyangkut isu tentang Tibet. Belum habis masalah hubungannya dengan Taiwan Negara besar ini pun sedang “membangun” konflik baru dengan Tibet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya takut deadline sejarah akan tiba, jika suatau dampak “bencana” tidak bisa diatasi dengan pendekatan apapun juga, karena semua pihak yang berkepentingan telah sama-sama membatu. Hendaknya dicegah jangan sapai ada darah yang muncrat. Sebuah adagium pun menjadi wajar terdengar “ Orang bisa rileks dan tanpa beban hanya terhadap kematian orang lain, dan juga bangsa lain, tetapi tidak dengan kematiannya sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kasus, orang membunuh orang lain mungkin karena kematian besar maanfaatnya bagi kehidupan. Kematian politik, ekonomi, budaya bahkan jiwa di Afghanistan dan Irak serta banyak tempat lain, mungkin adalah sebuah distribusi kematian yang layak kita “syukuri”. Saham kita dalam distribusi kematian akhir-akhir ini meningkat pesat. Lalu apakah kita legal atas andil kematian itu? Kematian seolah menjadi sebuah budaya massa, budaya popular. Kematian direlukan demi kehidupan bersama, karena orang akhirnya harus mati. Meskipun kalai bisa jangan kita , keluarga kita, atau sahabat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lucu dan begitu polosnya Amerika dengan lagu rutinnya tentang perdamaian dunia, demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Aspirasi ide domokrasi tersuar ketika orang memasuki dimensi benarnya orang banyak. Lahirlah pemimpin yang berbeda karakter dengan penguasa atau pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kematian adalah sebuah revolusi dan evolusi dari konsep-konsep dan mitos-mitos sejarah. Mengubah yang sunguh menjadi tak sungguh, tangis menjadi tawa, tragedy menjadi komedi. Ongkosnya berjuta nyawa, darah dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membagi sejarah menjadi pecahan-pecahan yang didasarkan menjadi keyakinan akan otoritarian. Ketika kemudian kita mendominasi kekuasaan kita angkatlah otoritarian itu menjadi hal yang umum, bertradisi dan terkonstitusikan yang kita beri baju demokrasi. Di dalam egoisme otoritarian, amat cepat kita menuding “hitam” atau dalam posisi lain kata hitam itu termdofikasi secara politis menjadi “ekstriminitas”, atau “sempalan”. Rupanya ada lapisan-lapisan yang lebih detail dari struktur penguasaan kelompok manusia atas kelompok manusia yang lain. Ketertindasan sebagai warga bumi, sebagai suku, sebagai minoritas, sebagai orang hitam, sebagai orang tertepikan dalam bebrbagai konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata China sedang dalam proses mewujudkan semangat “nasionalismenya”. Ketika berprilaku bahwa ada suatu kelompok manusia yang didesak untuk makin tak memiliki kedaulatan atas buminya sendiri, serta atas hak-hak hidup mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tertarik untuk mengutip sebuah cerita metafor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari seorang sufi bernama Syibli melihat seorang penjaga memukul anjing dengan sebuah tongkat.&lt;br /&gt;Anjing itu melolong karena menderita pukulan tadi.&lt;br /&gt;Syibli berkata, “ oh anjing, mengapa ia telah memukulmu ?&lt;br /&gt;Anjing berkata “ Ia tidak dapat tahan melihat yang lebih baik daripada dirinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-4851217446295486469?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/4851217446295486469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/memento-mori.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4851217446295486469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/4851217446295486469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/memento-mori.html' title='MEMENTO MORI*'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/SBAHG487R1I/AAAAAAAAAAk/aLMheGdWCx0/s72-c/dalai+lama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-6358895508274272965</id><published>2008-04-20T19:50:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T19:54:23.127-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>ISLAM ITU ISLAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ribut-ribut tentang film fitna garapan politisi Belanda Geertz Wilders membuat Islam semakin resisten terhadap hal-hal seperti ini. Masalah film itu semakin menunjukkan bahwa dunia makin tidak beritikad baik terhadap Islam. Iklim inji juga menaburi banyak kaum muslimin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam itu Islam. Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silahkan  orang diseluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Pengaruhilah dunia sehingga tidak seorangpun memeluk Islam. Hasilnya, Islam ya Islam. Islam tidak akan berubah sedikit pun karena disalah pahami. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan tak menjadi lebih rendah karena dibenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan orang curiga terus kepada Islam. Silakan menyelewengkan, silakan memfitnah, silakan memanipulasi pada dirinya sendiri. Islam tidak mungkin berubah. Laa Raiba Fiih, Tidak ada keraguan padanya. Kalau orang ragu, itu urusan dialah. Islam tak rugi, Islam bebas dari untung rugi. Islam baqa kebenaranya. Manusia sajalah yang terikat untung rugi. Islam tak pernah tertawa karena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tak punya kepentingan terhadap manusia. Manusialah yang berkepentingan terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum film ini pun, di Indonesia pernah terjadi penyebaran angket mengenai tokoh idola. Penyebaran angket yang dilakukan oleh sebuah media diawal 90-an secara mengejutkan menempatkan Nabi Muhammad Saw. Diperingkat 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah nabi lahir kedunia tidak untuk dikagumi. Ia bukan terminal pemberhentian. Ia adalah jalan, Ia adalah cahaya dijalan menuju Allah. Nabi tidak bersedia digambar atau dipatungkan. Dengan kata lain Ia tidak mau diidolakan. Tuhanlah idola segala idola. Substansi dan manajemen 99 sifat-Nya kita tiru. Kita tidak punya kapasitas untuk mengenali-Nya. Oleh karena itu cukup kita “raba” lewat parallel-paralel-Nya, yakni struktur wujud alam semesta, struktur wujud kitab suci, serta wujud kemanusian ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sebaiknya umat Islam sebaiknya mengantisipasi kasus tersebut sebagai “kritik tak sengaja” betapa introduksi dan sosialisasi kepribadian islam belum cukup efektif dan tajam, juga dikalangan umat muslimin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita umat Islam (termasuk saya) belum dapat memahami Islam secara komprehensif. Bandingkan dengan ilmuan Kristen di Barat seperti Karen Amstrong, Anemarie Schimmel atau Richard Nicholson dan Juldian Baldick yang telah memahami Islam dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling sederhana kita masih rebut tentang poligami. Padahal tidak semua yang ada dalam Al-Quran sebagai sebuah hukum. Poligami hanya sebuah pilihan. Anda ingin melakukannya, itu tidak dosa. Atau anda ingin meninggalkannya juga tidak bertentangan.Alquran hanya bercerita Rasul pernah melakukannya secara adil. Perkara kita ingin melakukannya, adakah ilmu kita telah sederajat dengan beliau? Betapa kurang ajarnya kita yang selalu menyandingkan kita sejajar dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi orang seperti geertz widers yang tak paham Islam, adalah gambaran kita umat Islam kebanyakan yang belum mengerti keyakinannya sendiri. Kalau kita marah pada politisi itu, apakah tidak sebaiknya kita marah pada diri sendiri. Semoga Allah masih menganggap kita Islam meski tak paham Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu Alam Bishawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mularto&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-6358895508274272965?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/6358895508274272965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/islam-itu-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6358895508274272965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/6358895508274272965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/islam-itu-islam.html' title='ISLAM ITU ISLAM'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7163988296082884608</id><published>2008-04-14T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T23:53:13.455-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Atas Nama Pakaian, Atas Nama Estetika</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Orriginally By. Mularto&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi Adam a.s ketika diturunkan ke bumi dalam keadaan telanjang. Begitupun kita. Setiap manusia lahir dengan kepolosan yang persis sama, tanpa sehelai penutup di tubuhnya. Namun dalam ketelanjangan tersebut, Nabi pertama di bumi ini berusaha mencari penutup, tujuannya jelas, manusia memiliki malu, manusia berakal budi sehingga menciptakan kreasi budaya tertua yang bernama pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian menjadi pelindung moral, dan harus diingat, pakaian sering muncul dan menjadi bagian dari pelindung nilai-nilai. Pakaian memelihara harga diri, kehormatan dan sebuah bentuk dharma tertinggi bagi manusia. Menanggalkan pakaian berarti mengecilkan fungsinya, mencampakkan keseimbangan hidup bersosial, membuang jauh ajaran-ajaran dan mengkerdilkan diri. Apakah masih ada arti yang terkandung pada diri kita, bila kehormatan dan harga diri terkubur ? Dengan demikian, berpakaian adalah konsep demokrasi mengutamakan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi ketelanjangan, mungkin berpakaian pada dasarnya terlalu normative. Sehingga berpakaian lupa untuk menjadi benda yang lebih kreatif dan berakselerasi menembus ruang dan waktu untuk mewujudkan gagasan-gagasan innovative dari hal-hal yang banyak dilupakan dari suatu realita social dan realita gagasan yang dianggap sopan secara pribadi, namun tidak bagi social,hokum dan dilihat dari sudut nilai-nilai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketelanjangan menjadi symbol sebuah penanggalan “pakaian kultur”.  Ketelanjangan hadir tidak sebagai objek, tetapi sebagai subyek. Bahasa tubuh dan mimic si telanjang tidak di hadirkan sebagai keindahan ekspresi. Ekspesi yang bisa saja punya kekuatan provokatif sebagai obyek seks dalam ketelanjangan yang bisa saja menangalkan kekuasaan penikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian dianggap subversi bagi estetika sehingga harus ditanggalkan. Pakaian adalah benda tanpa bentuk bagi estetika. Seperti halnya Orde baru memperlakukan ideology komunis. Produk peradaban ini terlalu tua untuk ikut campur dalam globalisasi dan modernitas estetika. Eksistensi pakaian sudah luntur. Mereka hanya berani muncu secara utuh dilapisan yang “ketinggalan zaman”, kaum pinggiran dan masyarakat conservative. Pakaian harus disensor dalam tampilan yang tidak utuh. Untuk masuk layar kamera produser, dunia showbiz atau dunia peradaban metropolitan pakaian harus mengubah jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian sebaiknya jangan selalu mengkhayalkan tentang kebanggaan, kebesaran dan kemulian bangsa timur. Bangsa dimana nilai-nilai agama tertanam. Pakaian sebaiknya menyingkir, karena ketimuran kita ternyata tidak cukup agung, anti globalisasi dan mungkin pakaian akan menjadi salah satu sumber penghambat “Asian Miracle”. Mungkin saja sekarang kita baru memulai menutup diri pada estetika global, karena kita bersikap conservative terhadap pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita sebagai manusia melayang terbang ke dunia khayal untuk melihat bagaimana hasil perlakuan kita terhadap estetika ? Bagi yang pernah muncul pertanyaan, apakah estetika saat ini sedang bertepuk sebelah tangan atau merenung di sudut peradaban? Apakah otoritas kpemilikan manusia terhadap estetika menggembirakannya atau membuatnya bermuram durja ? Apakah dengan meyebut atas nama estetika dan menanggalkan pakaian kita membuatnya bergembira atau mungkin bersedih? Ataukah estetika hanya senang dimiliki segelintir orang dan mencampakkan masyarakat umum, sehingga estetika tidak bisa dimiliki oleh orang yang terlanjur ditakdirkan conservative ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begitu, beruntung sekali pakaian. Dia tidak terpengaruh dengan itu semua. Pakaian terlepas dari stress peradaban. Pakaian bahagia masyarakat umum masih menganggap bagian dari kehidupannya. Manusia masih men”dewa”kan dan memuliakannya. Apapun tanggapan manusia tentang estetika dan pakaian, tak membuatnya jengah dan segan. Alih-alih mereka sedang berasyik-masyhuk menembus ekstase tertinggi di rumah kiai Sebastian Bach mendengarkan alunan musik klasik sambil mencoba meraba lukisan Nyonya Monalisa yang anggun dan menyertakan kedua benda yang diributkna tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suprastruktur hukum bersama birokrasi sedang dituntut merumuskan cara berpakaian yang baik dan benar melalui konstitusi. Bahkan kita sebagai makhlul dewasa ini masih perlu diajarkan cara berpakaian yang baik seolah-olah untuk berpakaian saja perlu pembelajaran yang sangat lamaa dan kalau bisa dibuatkan Departement Pakaian dan Estetika yang di merger dengan Departemen Ketertiban Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sekali lagi pakaian harus mengalah jika estetika menyatakan ini adalah sebuah realitas social. Estetika berargumen “kami hanya merekonstruksinya menjadi sebuah drama yang lebih interaktiv, menjadi konstruksi-konstruksi pesan yang mensosialisasikan barang konsumsi kami". Pakaian tak boleh munafik untuk menolak hal yang jamak terjadi di dunia metropolis ini.&lt;br /&gt; Atas nama estetika, kami saat ini membatasi sudut pandang mata anda, daya jangkau dengar telinga anda dan menyumbat hati nurani anda. Jika anda menganggap estetika tidak bermoral dan merendahkan diri penggunanya. Memang Tuhan pun yang memberikan rejeki dan kenikmatan pendengaran dan penglihatan, menghimbau agar membatasi penglihatan dan pendengaran kita. Sekali lagi, Tuhan hanya menghimbau, selebihnya terserah anda&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7163988296082884608?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7163988296082884608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/atas-nama-pakaian-atas-nama-estetika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7163988296082884608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7163988296082884608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/atas-nama-pakaian-atas-nama-estetika.html' title='Atas Nama Pakaian, Atas Nama Estetika'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-5925986585140923920</id><published>2008-04-11T02:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T03:41:34.358-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>SUARA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/R_8uZoAA4cI/AAAAAAAAAAY/W20yOMDjnao/s1600-h/suara.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187916313523184066" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/R_8uZoAA4cI/AAAAAAAAAAY/W20yOMDjnao/s320/suara.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Originally by Mularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di instansi pemerintah, rumah sakit, pelosok desa hingga pelabuhan penyebrangan antar pulau, manusia Indonesia yang berumur lebih dari 17 tahun sibuk beragresi melakukan euphoria politik. Penjadwalan kembali waktunya pun menjadi tak lazim, yang biasa mudik dilakukan saat hari raya, maka pada pesta demokrasi ini mereka tidak hanya mudik, tetapi juga “hilir” seperti yang dilakukan di Al-Zaitun dulu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Entah jenis makhluk aneh macam apa “Suara” itu gerangan! Apakah mungkin potongan-potongan unsure alam yang diramu dengan beberapa komponen rahasia ? yang jelas suara menjadi makhluk yang sombong kelak di 2009. Ia tak hanya mencampakkan kerapatan udara sebagai medianya dan memilih teman baru melalui pooling sms dan kertas suara serta berbagai perangkat media lain. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi sebaiknya  makhluk ini jangan terlalu sombong, setidaknya teori Lasswell, Sharon&amp;amp;Weaver dan teman-temannya masih terbukti sampai saat ini, bahwa “Suara” perlu makhluk lainnya, salah satunya media. Meskipun “Suara” dibutuhkan dari Pak RT sampai Presiden, tetapi “Suara” tidak akan menjadi apapun tanpa kehadiran media suara.&lt;br /&gt;“Suara” boleh saja menjadi “tuhan” (dengan t kecil) baru, tetapi makhluk ini butuh “malaikat” penyampai pesan. Meskipun belakangan ini suara dan medianya sedang ingin melakukan konspirasi untuk tidak lagi membela kepentingan sang komunikator. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya “Suara” lebih kenal pemiliknya, lebih sayang, lebih berpihak dan lebih mengerti seluk beluk isi rongga dada yang setiap hari ngedumel. Kadang di negeri ini “Suara” kita agak aneh. Suara yang sudah terlanjur terlepas dari raga kita, sudah lupa dengan kita, sehingga tidak lagi berpihak pada kita, bahkan “Suara” tidak kenal kita sebagai pemiliknya.&lt;br /&gt;Apakah dengan begitu, sebaiknya suara kita kutuk saja menjadi batu, seperti legenda Malin kundang yang tidak lagi mengenal ibundanya ? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“Suara” lebih memilih membela golongan keluarga dan pribadi yang hanya kita titipi “Suara”. Ingat, orang tua hanya di titipi anak-anak oleh Tuhan, jadi apa kesanggupan orang tua untuk mangkir dari titipan ini. Tuhan sebagai pemilik lebih berhak atas titipan ini. Tidak satu pun yang mempunyai otoritas atas kepemilikan barang titipan kecuali sang pemilik.&lt;br /&gt;“Suara” dapat mengubah manusianya menjadi religius atau bahkan musyrik sekalipun. Pagi,siang, sore hungga malam manusia dipaksa bertemu dengan Penciptanya. Meskipun ini di luar kebiasaan. Dalam 5 kali waktu sholat mereka minta tambahan “Suara”. Mereka ini yang menganggap “Suara” rakyat “Suara” Tuhan. Hingga mereka berharap Tuhan campur tangan memberi “Suara”. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekannya dibuat untuk mengunjungi rumah singgah, panti asuhan dan pondok-pondok kumuh di bantaran sungai. Sementara awal pekan saatnya membonceng seorang kyai popular sejuta umat. Betul, Tidak ? atau membuntuti penyanyi dangdut agar terpampang wajah mereka di infotaiment berjuta pemirsa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Meski ada juga yang rela mengambil jalan pintas, lebih senang menytembah “portal” karena harus merunduk untuk cara lebih cepat dengan modal ayam hitam, telur hitam, kambing hitam dan minimal motor bebek hitam. Mereka yang memilih jalan ini akan mendapatkan satu paket bola api terbang, kehancuran lawandan kesengsaraan rakyat, ditambah paket hemat menjadi miliarder baru. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hakikat suara hanya dapat kamu temukan dalam sepi, dalam sunyi. Jadi jangan marah kalau suara tidak lagi didengar, karena pemimpin kita tidak pernah nyepi dan pergi ketempat sunyi sekedar instropeksi diri atau tafakur. Mereka lebih senang keramaian, karena memang itu tujuan mereka. Ramai klien untuk menjamin usaha mereka bila pensiun, ramai penjilat yang setiap hari memberi petunjuk, ramai dukungan untuk memperpanjang kontrakan di singgasana kekuasaan dan ramai lainnya yang membuat sepi ekonomi kaum marjinal, sepi prestasi anak didik dan athlete, sepi kecendikiaan para idealis dan berakhir pada sepi kritik demi stabilitas.&lt;br /&gt;Jangan aneh juga, kalau para pemilik “Suara” sering mendengar filsuf Ludwig witgenstent dalam Tractatus logico Philosophicus, “What can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must a pass over in silence”. Mereka lebih senang aksi “liar” di jalan dengan perlengkapan theatrical untuk mendukung dan menyatakan bahwa suara itu berwujud serta menolak menyalurkan ejakulasi suaranya di bilik-bilik suara karena mereka tak punya cukup syahwat untuk mencapai ereksi lebih dalam bercinta dengan calon-calon pemimpinnya ini.&lt;br /&gt;Singkatnya, “Suara” bisa menjadi makhluk yang jahat, ketika 49 persen harus termodifikasi memarjinlakna diri secara politis, ekonomi social dan budaya, demi tambahan 2 persen berikutnya yang belum tentu legal proses pengaisan suaranya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, apakah sepanjang sejarah negeri ini “Suara” pernah baik dan berpihak pada rakyat yang sering termarjinalkan secara ekonomi, politik, social, budaya serta komponen kehidupan lainnya tersebut ????? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-5925986585140923920?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/5925986585140923920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/suara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5925986585140923920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5925986585140923920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/suara.html' title='SUARA'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dutD_pZ1_Uw/R_8uZoAA4cI/AAAAAAAAAAY/W20yOMDjnao/s72-c/suara.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7031243474452930317</id><published>2008-04-06T20:25:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T20:26:41.354-07:00</updated><title type='text'>Untitled</title><content type='html'>Nabi Adam As. Di beri tugas yang sangat berat oleh Tuhan di muka bumi, sebagai khalifah, tidak menjadi insan atau pun Abdullah. “Beban” ini juga harus diteruskan  oleh manusia sesudahnya. Jika saja Nabi Adam juga manusia sesudahnya diberi tugah sbg insane, maka ia hanya sibuk pada eksistensi pribadinya sebagai manusia dan hal-hal lain tidak akan tampak lebih besar dari kepentingan individunya. Sedangkan kalau beliau ditugasi sebagai Abdullah atau hamba Allah, ia akan sibuk menghitung jumlah kepatuhannya terhadap Tuhan, tidak bersosialisasi dengan masyarakat dan dekat secara pribadi dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;Banyak dari kita, tidak pernah meninggalkan sholat, Puasa, dan berhaji sekedar untuk menutupi kelalaiannya terhadap tetangganya yang lapar. Sadarkah kita disini kita di uji dalam menentukan pilihan menghimpun pahala-pahala pribadi atau mendarma baktikan diri bagi proses social.&lt;br /&gt;Cara-cara politis untuk menghindarkan manusia dari api neraka misalnya memakmurkan rakyat, sehingga membuat banyak orang tak menjadi penggangur dan “terpaksa” mencuri, membuat Good Governance dengan system pemerintahan terkontrol, sehingga tidak mengkondisikan pejabat untuk korup&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7031243474452930317?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7031243474452930317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/untitled.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7031243474452930317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7031243474452930317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/untitled.html' title='Untitled'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7748947864625978217</id><published>2008-04-02T23:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T23:45:32.464-07:00</updated><title type='text'>KAMPANYE ANTI KELAPARAN DAN GIZI BURUK</title><content type='html'>Maraknya kelaparan dan gizi buruk yang menimpa rakyat miskin di berbagai daerah, utamanya Makassar sebagai pemicu awal kasus ini, menjadikan TPC tergerak untuk melakukan gerakan sosial menggalang dana kemanusiaan.&lt;br /&gt;Aksi TPC peduli rakyat untuk anti kelaparan dan gizi buruk akan dilakukan dan menjadi isu sentral sepanjang tahun 2008. Awal kegiatan kemanusiaan ini untuk pertama kali difokuskan pada masyarakat Makassar yang tertimpa kelaparan dan gizi buruk. Kegiatan di Makassar akan dilaksanakan pada 29 Maret 2008. Setelah itu, kegiatan akan dilanjutkan dengan fokus di daerah Surabaya dan Jawa Timur khususnya serta daerah lain yang membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;Bagi anda yang berkeinginan turut serta dan berpartisipasi dalam kegiatan ini, yang perlu anda lakukan adalah&lt;br /&gt;buka mata dan hati,&lt;br /&gt;Jangan sampai sekitar kita menderita gizi buruk dan kelaparan, Jika ada, maka yang perlu anda lakukan,&lt;br /&gt;ulurkan tangan anda, dengan cara:&lt;br /&gt;keluarkan tenaga dan segera bantu untuk menolong mereka.&lt;br /&gt;keluarkan dana jika memang tak terlalu besar persolannya. Jika tak sanggup, segera laporkan pada pihak yang berwenang, pejabat RT, RW dan kelurahan setempat. Jika satu kampung tak ada yang mampu, segera laporkan ke dinas sosial setempat atau LSM yang peduli dengan keadaan anda dan kampung anda. Apabila anda dan kampung anda terbebas dari ancaman kelaparan dan gizi buruk, maka yang perlu anda lakukan&lt;br /&gt;kerahkan pikiran untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan dengan berbagai media yang ada, radio, tv, media cetak dan juga internet (blog).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7748947864625978217?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7748947864625978217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/kampanye-anti-kelaparan-dan-gizi-buruk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7748947864625978217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7748947864625978217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/04/kampanye-anti-kelaparan-dan-gizi-buruk.html' title='KAMPANYE ANTI KELAPARAN DAN GIZI BURUK'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-623364873895040937</id><published>2008-03-31T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T21:15:23.724-07:00</updated><title type='text'>Saving our Beautiful Earth</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oh, No! Our earth is in trouble, and we've got to save it!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 things we can do to help our self:&lt;br /&gt;Turn off lights.&lt;br /&gt;Turn off other electric things, like TVs, stereos, and radios when not in use.&lt;br /&gt;Use rechargable batteries.&lt;br /&gt;Do things manually instead of electrically, like open cans by hand.&lt;br /&gt;Use fans instead of air conditioners.&lt;br /&gt;In winter, wear a sweater instead of turning up your thermostat.&lt;br /&gt;Insulate your home so you won't be cold in winter.&lt;br /&gt;Use less hot water.&lt;br /&gt;Whenever possible, use a bus or subway, or ride your bike or walk.&lt;br /&gt;Try to buy organic fruits and vegetables if you're concerned about pesticides. (Organic food is grown without man-made fertilizers and/or pesticides).&lt;br /&gt;Don't waste products made from forest materials.&lt;br /&gt;Use recycled paper and/or recycle it. Reuse old papers.&lt;br /&gt;Don't buy products that may have been made at the expense of the rainforest.&lt;br /&gt;Support products that are harvested from the rainforest but have not cut down trees to get it.&lt;br /&gt;Plant trees, espessially if you have cut one down.&lt;br /&gt;Get other people to help you in your cause. Make and/or join an organization.&lt;br /&gt;Avoid products that are used once, then thrown away.&lt;br /&gt;Buy products with little or no packaging.&lt;br /&gt;Encourage your grocery store sell environmentally friendly cloth bags for people to use when they shop, or bring your own.&lt;br /&gt;REDUCE, REUSE, &amp;amp; RECYCLE.&lt;br /&gt;Compost.&lt;br /&gt;Buy recycled products.&lt;br /&gt;Don't buy pets taken from the wild.&lt;br /&gt;If you have a good zoo nearby, (if the animals are healthy and the zoo takes care of them), support it! Espessially if they help breed endangered animals.&lt;br /&gt;Don't buy products if animals were killed to make it.&lt;br /&gt;Cut up your six-pack rings before throwing them out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Save Our Planet : Save Our self&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-623364873895040937?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/623364873895040937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/03/saving-our-beautiful-earth.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/623364873895040937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/623364873895040937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2008/03/saving-our-beautiful-earth.html' title='Saving our Beautiful Earth'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-5599821988578899878</id><published>2007-12-11T19:44:00.001-08:00</published><updated>2007-12-11T20:03:31.342-08:00</updated><title type='text'>Donate Your Book</title><content type='html'>Kebodohan dan Kemiskinan pada dasarnya kita yang bentuk. Kepedulian kita dapat membantu memutus lingkaran setan kebodohan dan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Miskin-gak ada uang-gak bisa nabung-gak bisa sekolah- gak bisa akses ilmu-bodoh-ngak bisa kerja (nganggur)-gak punya duit-miskin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak ada salahnya kita bantu mereka dengan memutus lingkaran tersebut dengan menyumbang buku untuk mereka. Karena kalo kita liat selalu ada buku di balik orang-orang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyumbang buku bekas anda bisa menghubungi gue lewat :&lt;br /&gt;Mobile: 081563876367&lt;br /&gt;E-Mail : &lt;a href="mailto:mularto@gmail.com"&gt;mularto@gmail.com&lt;/a&gt; or &lt;a href="mailto:Mularto@yahoo.com"&gt;Mularto@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijamin buku yang anda sumbangkan diterima oleh mereka yang membutuhkan&lt;br /&gt;thx&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-5599821988578899878?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/5599821988578899878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2007/12/donate-your-book.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5599821988578899878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/5599821988578899878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2007/12/donate-your-book.html' title='Donate Your Book'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6215764603540737544.post-7533182496115101336</id><published>2007-12-11T19:21:00.000-08:00</published><updated>2007-12-11T19:38:54.332-08:00</updated><title type='text'>Introduce My Self</title><content type='html'>Blog ini di buat untuk mewakili idealisme yang ada di kepala saya. Banyak yang ingin di tumpahkan dalam ruang ini. Misinya adalah membuat manusia lebih sering merefleksikan diri dengan begitu kita lebih kenal diri kita dan tak selalu menganggap diri kita selalu benar. Blog ini juga nantinya akan mewakili pandangan saya terhadap Tuhan, Humanisme, Budaya dan social culture serta menyikapi semua perbedaan tersebut.&lt;br /&gt;Kedepan juga blog ini akan digunakan untuk tujuan social, karena setiap dari kita mempunyai tanggung jawab itu semua. Saya sangat berharap blog saya ini dapat diterima oleh berbagai kelompok agama, profesi, etnis dan ideologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mularto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6215764603540737544-7533182496115101336?l=mulartosmart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mulartosmart.blogspot.com/feeds/7533182496115101336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2007/12/introduce-my-self.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7533182496115101336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6215764603540737544/posts/default/7533182496115101336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mulartosmart.blogspot.com/2007/12/introduce-my-self.html' title='Introduce My Self'/><author><name>Langit Mularto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08676568405270145103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-V6UiXOFy_Rk/TtHqnsHeubI/AAAAAAAAAII/Hto30d-FePk/s220/BACA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
