Minggu, April 20, 2008

ISLAM ITU ISLAM

Ribut-ribut tentang film fitna garapan politisi Belanda Geertz Wilders membuat Islam semakin resisten terhadap hal-hal seperti ini. Masalah film itu semakin menunjukkan bahwa dunia makin tidak beritikad baik terhadap Islam. Iklim inji juga menaburi banyak kaum muslimin sendiri.

Islam itu Islam. Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silahkan orang diseluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Pengaruhilah dunia sehingga tidak seorangpun memeluk Islam. Hasilnya, Islam ya Islam. Islam tidak akan berubah sedikit pun karena disalah pahami. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan tak menjadi lebih rendah karena dibenci.

Silakan orang curiga terus kepada Islam. Silakan menyelewengkan, silakan memfitnah, silakan memanipulasi pada dirinya sendiri. Islam tidak mungkin berubah. Laa Raiba Fiih, Tidak ada keraguan padanya. Kalau orang ragu, itu urusan dialah. Islam tak rugi, Islam bebas dari untung rugi. Islam baqa kebenaranya. Manusia sajalah yang terikat untung rugi. Islam tak pernah tertawa karena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tak punya kepentingan terhadap manusia. Manusialah yang berkepentingan terhadapnya.

Sebelum film ini pun, di Indonesia pernah terjadi penyebaran angket mengenai tokoh idola. Penyebaran angket yang dilakukan oleh sebuah media diawal 90-an secara mengejutkan menempatkan Nabi Muhammad Saw. Diperingkat 11.

Untunglah nabi lahir kedunia tidak untuk dikagumi. Ia bukan terminal pemberhentian. Ia adalah jalan, Ia adalah cahaya dijalan menuju Allah. Nabi tidak bersedia digambar atau dipatungkan. Dengan kata lain Ia tidak mau diidolakan. Tuhanlah idola segala idola. Substansi dan manajemen 99 sifat-Nya kita tiru. Kita tidak punya kapasitas untuk mengenali-Nya. Oleh karena itu cukup kita “raba” lewat parallel-paralel-Nya, yakni struktur wujud alam semesta, struktur wujud kitab suci, serta wujud kemanusian ini sendiri.

Akan tetapi sebaiknya umat Islam sebaiknya mengantisipasi kasus tersebut sebagai “kritik tak sengaja” betapa introduksi dan sosialisasi kepribadian islam belum cukup efektif dan tajam, juga dikalangan umat muslimin sendiri.

Banyak dari kita umat Islam (termasuk saya) belum dapat memahami Islam secara komprehensif. Bandingkan dengan ilmuan Kristen di Barat seperti Karen Amstrong, Anemarie Schimmel atau Richard Nicholson dan Juldian Baldick yang telah memahami Islam dengan baik.

Contoh paling sederhana kita masih rebut tentang poligami. Padahal tidak semua yang ada dalam Al-Quran sebagai sebuah hukum. Poligami hanya sebuah pilihan. Anda ingin melakukannya, itu tidak dosa. Atau anda ingin meninggalkannya juga tidak bertentangan.Alquran hanya bercerita Rasul pernah melakukannya secara adil. Perkara kita ingin melakukannya, adakah ilmu kita telah sederajat dengan beliau? Betapa kurang ajarnya kita yang selalu menyandingkan kita sejajar dengan beliau.

Jadi orang seperti geertz widers yang tak paham Islam, adalah gambaran kita umat Islam kebanyakan yang belum mengerti keyakinannya sendiri. Kalau kita marah pada politisi itu, apakah tidak sebaiknya kita marah pada diri sendiri. Semoga Allah masih menganggap kita Islam meski tak paham Islam.

Wallahu Alam Bishawab.

Mularto

Senin, April 14, 2008

Atas Nama Pakaian, Atas Nama Estetika

Orriginally By. Mularto
Nabi Adam a.s ketika diturunkan ke bumi dalam keadaan telanjang. Begitupun kita. Setiap manusia lahir dengan kepolosan yang persis sama, tanpa sehelai penutup di tubuhnya. Namun dalam ketelanjangan tersebut, Nabi pertama di bumi ini berusaha mencari penutup, tujuannya jelas, manusia memiliki malu, manusia berakal budi sehingga menciptakan kreasi budaya tertua yang bernama pakaian.

Pakaian menjadi pelindung moral, dan harus diingat, pakaian sering muncul dan menjadi bagian dari pelindung nilai-nilai. Pakaian memelihara harga diri, kehormatan dan sebuah bentuk dharma tertinggi bagi manusia. Menanggalkan pakaian berarti mengecilkan fungsinya, mencampakkan keseimbangan hidup bersosial, membuang jauh ajaran-ajaran dan mengkerdilkan diri. Apakah masih ada arti yang terkandung pada diri kita, bila kehormatan dan harga diri terkubur ? Dengan demikian, berpakaian adalah konsep demokrasi mengutamakan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi.

Bagi ketelanjangan, mungkin berpakaian pada dasarnya terlalu normative. Sehingga berpakaian lupa untuk menjadi benda yang lebih kreatif dan berakselerasi menembus ruang dan waktu untuk mewujudkan gagasan-gagasan innovative dari hal-hal yang banyak dilupakan dari suatu realita social dan realita gagasan yang dianggap sopan secara pribadi, namun tidak bagi social,hokum dan dilihat dari sudut nilai-nilai agama.

Ketelanjangan menjadi symbol sebuah penanggalan “pakaian kultur”. Ketelanjangan hadir tidak sebagai objek, tetapi sebagai subyek. Bahasa tubuh dan mimic si telanjang tidak di hadirkan sebagai keindahan ekspresi. Ekspesi yang bisa saja punya kekuatan provokatif sebagai obyek seks dalam ketelanjangan yang bisa saja menangalkan kekuasaan penikmatnya.

Pakaian dianggap subversi bagi estetika sehingga harus ditanggalkan. Pakaian adalah benda tanpa bentuk bagi estetika. Seperti halnya Orde baru memperlakukan ideology komunis. Produk peradaban ini terlalu tua untuk ikut campur dalam globalisasi dan modernitas estetika. Eksistensi pakaian sudah luntur. Mereka hanya berani muncu secara utuh dilapisan yang “ketinggalan zaman”, kaum pinggiran dan masyarakat conservative. Pakaian harus disensor dalam tampilan yang tidak utuh. Untuk masuk layar kamera produser, dunia showbiz atau dunia peradaban metropolitan pakaian harus mengubah jati dirinya.

Pakaian sebaiknya jangan selalu mengkhayalkan tentang kebanggaan, kebesaran dan kemulian bangsa timur. Bangsa dimana nilai-nilai agama tertanam. Pakaian sebaiknya menyingkir, karena ketimuran kita ternyata tidak cukup agung, anti globalisasi dan mungkin pakaian akan menjadi salah satu sumber penghambat “Asian Miracle”. Mungkin saja sekarang kita baru memulai menutup diri pada estetika global, karena kita bersikap conservative terhadap pakaian.

Pernahkah kita sebagai manusia melayang terbang ke dunia khayal untuk melihat bagaimana hasil perlakuan kita terhadap estetika ? Bagi yang pernah muncul pertanyaan, apakah estetika saat ini sedang bertepuk sebelah tangan atau merenung di sudut peradaban? Apakah otoritas kpemilikan manusia terhadap estetika menggembirakannya atau membuatnya bermuram durja ? Apakah dengan meyebut atas nama estetika dan menanggalkan pakaian kita membuatnya bergembira atau mungkin bersedih? Ataukah estetika hanya senang dimiliki segelintir orang dan mencampakkan masyarakat umum, sehingga estetika tidak bisa dimiliki oleh orang yang terlanjur ditakdirkan conservative ?

Jika begitu, beruntung sekali pakaian. Dia tidak terpengaruh dengan itu semua. Pakaian terlepas dari stress peradaban. Pakaian bahagia masyarakat umum masih menganggap bagian dari kehidupannya. Manusia masih men”dewa”kan dan memuliakannya. Apapun tanggapan manusia tentang estetika dan pakaian, tak membuatnya jengah dan segan. Alih-alih mereka sedang berasyik-masyhuk menembus ekstase tertinggi di rumah kiai Sebastian Bach mendengarkan alunan musik klasik sambil mencoba meraba lukisan Nyonya Monalisa yang anggun dan menyertakan kedua benda yang diributkna tersebut.

Suprastruktur hukum bersama birokrasi sedang dituntut merumuskan cara berpakaian yang baik dan benar melalui konstitusi. Bahkan kita sebagai makhlul dewasa ini masih perlu diajarkan cara berpakaian yang baik seolah-olah untuk berpakaian saja perlu pembelajaran yang sangat lamaa dan kalau bisa dibuatkan Departement Pakaian dan Estetika yang di merger dengan Departemen Ketertiban Umum.

Tetapi, sekali lagi pakaian harus mengalah jika estetika menyatakan ini adalah sebuah realitas social. Estetika berargumen “kami hanya merekonstruksinya menjadi sebuah drama yang lebih interaktiv, menjadi konstruksi-konstruksi pesan yang mensosialisasikan barang konsumsi kami". Pakaian tak boleh munafik untuk menolak hal yang jamak terjadi di dunia metropolis ini.
Atas nama estetika, kami saat ini membatasi sudut pandang mata anda, daya jangkau dengar telinga anda dan menyumbat hati nurani anda. Jika anda menganggap estetika tidak bermoral dan merendahkan diri penggunanya. Memang Tuhan pun yang memberikan rejeki dan kenikmatan pendengaran dan penglihatan, menghimbau agar membatasi penglihatan dan pendengaran kita. Sekali lagi, Tuhan hanya menghimbau, selebihnya terserah anda

Jumat, April 11, 2008

SUARA


Originally by Mularto

Di instansi pemerintah, rumah sakit, pelosok desa hingga pelabuhan penyebrangan antar pulau, manusia Indonesia yang berumur lebih dari 17 tahun sibuk beragresi melakukan euphoria politik. Penjadwalan kembali waktunya pun menjadi tak lazim, yang biasa mudik dilakukan saat hari raya, maka pada pesta demokrasi ini mereka tidak hanya mudik, tetapi juga “hilir” seperti yang dilakukan di Al-Zaitun dulu.

Entah jenis makhluk aneh macam apa “Suara” itu gerangan! Apakah mungkin potongan-potongan unsure alam yang diramu dengan beberapa komponen rahasia ? yang jelas suara menjadi makhluk yang sombong kelak di 2009. Ia tak hanya mencampakkan kerapatan udara sebagai medianya dan memilih teman baru melalui pooling sms dan kertas suara serta berbagai perangkat media lain.
Tetapi sebaiknya makhluk ini jangan terlalu sombong, setidaknya teori Lasswell, Sharon&Weaver dan teman-temannya masih terbukti sampai saat ini, bahwa “Suara” perlu makhluk lainnya, salah satunya media. Meskipun “Suara” dibutuhkan dari Pak RT sampai Presiden, tetapi “Suara” tidak akan menjadi apapun tanpa kehadiran media suara.
“Suara” boleh saja menjadi “tuhan” (dengan t kecil) baru, tetapi makhluk ini butuh “malaikat” penyampai pesan. Meskipun belakangan ini suara dan medianya sedang ingin melakukan konspirasi untuk tidak lagi membela kepentingan sang komunikator.

Seharusnya “Suara” lebih kenal pemiliknya, lebih sayang, lebih berpihak dan lebih mengerti seluk beluk isi rongga dada yang setiap hari ngedumel. Kadang di negeri ini “Suara” kita agak aneh. Suara yang sudah terlanjur terlepas dari raga kita, sudah lupa dengan kita, sehingga tidak lagi berpihak pada kita, bahkan “Suara” tidak kenal kita sebagai pemiliknya.
Apakah dengan begitu, sebaiknya suara kita kutuk saja menjadi batu, seperti legenda Malin kundang yang tidak lagi mengenal ibundanya ?

“Suara” lebih memilih membela golongan keluarga dan pribadi yang hanya kita titipi “Suara”. Ingat, orang tua hanya di titipi anak-anak oleh Tuhan, jadi apa kesanggupan orang tua untuk mangkir dari titipan ini. Tuhan sebagai pemilik lebih berhak atas titipan ini. Tidak satu pun yang mempunyai otoritas atas kepemilikan barang titipan kecuali sang pemilik.
“Suara” dapat mengubah manusianya menjadi religius atau bahkan musyrik sekalipun. Pagi,siang, sore hungga malam manusia dipaksa bertemu dengan Penciptanya. Meskipun ini di luar kebiasaan. Dalam 5 kali waktu sholat mereka minta tambahan “Suara”. Mereka ini yang menganggap “Suara” rakyat “Suara” Tuhan. Hingga mereka berharap Tuhan campur tangan memberi “Suara”.

Akhir pekannya dibuat untuk mengunjungi rumah singgah, panti asuhan dan pondok-pondok kumuh di bantaran sungai. Sementara awal pekan saatnya membonceng seorang kyai popular sejuta umat. Betul, Tidak ? atau membuntuti penyanyi dangdut agar terpampang wajah mereka di infotaiment berjuta pemirsa.

Meski ada juga yang rela mengambil jalan pintas, lebih senang menytembah “portal” karena harus merunduk untuk cara lebih cepat dengan modal ayam hitam, telur hitam, kambing hitam dan minimal motor bebek hitam. Mereka yang memilih jalan ini akan mendapatkan satu paket bola api terbang, kehancuran lawandan kesengsaraan rakyat, ditambah paket hemat menjadi miliarder baru.

Hakikat suara hanya dapat kamu temukan dalam sepi, dalam sunyi. Jadi jangan marah kalau suara tidak lagi didengar, karena pemimpin kita tidak pernah nyepi dan pergi ketempat sunyi sekedar instropeksi diri atau tafakur. Mereka lebih senang keramaian, karena memang itu tujuan mereka. Ramai klien untuk menjamin usaha mereka bila pensiun, ramai penjilat yang setiap hari memberi petunjuk, ramai dukungan untuk memperpanjang kontrakan di singgasana kekuasaan dan ramai lainnya yang membuat sepi ekonomi kaum marjinal, sepi prestasi anak didik dan athlete, sepi kecendikiaan para idealis dan berakhir pada sepi kritik demi stabilitas.
Jangan aneh juga, kalau para pemilik “Suara” sering mendengar filsuf Ludwig witgenstent dalam Tractatus logico Philosophicus, “What can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must a pass over in silence”. Mereka lebih senang aksi “liar” di jalan dengan perlengkapan theatrical untuk mendukung dan menyatakan bahwa suara itu berwujud serta menolak menyalurkan ejakulasi suaranya di bilik-bilik suara karena mereka tak punya cukup syahwat untuk mencapai ereksi lebih dalam bercinta dengan calon-calon pemimpinnya ini.
Singkatnya, “Suara” bisa menjadi makhluk yang jahat, ketika 49 persen harus termodifikasi memarjinlakna diri secara politis, ekonomi social dan budaya, demi tambahan 2 persen berikutnya yang belum tentu legal proses pengaisan suaranya.

Tetapi, apakah sepanjang sejarah negeri ini “Suara” pernah baik dan berpihak pada rakyat yang sering termarjinalkan secara ekonomi, politik, social, budaya serta komponen kehidupan lainnya tersebut ?????