Jumat, Maret 04, 2011

PUAN dan TUAN

By; MULARTO
Sangat tidak gampang, dan sekali lagi sungguh sulit mempercayai apalagi mencintai partai politik di Indonesia. Meski di awal mereka-mereka sangat memberi harapan, membuat mimpi-mimpi kita bertambah menunya. Seluruh harapan dari yang termewah hingga tertinggi kita gagas dengan mempertaruhkan nasib kita. Ketika kemudian pada suatu hari harapan itu melambai terbawa angin, sebagian kita hanya mampu mengeluh dan sebagian lainnya mengumpat. Namun toh kepercayaan kita kepadanya tak kunjung surut. Maka betapapun memuakkan partai-partai, yang kita lakukan adalah justru memperbesar rasa percaya kita kepadanya.
Saya hanya ingin memberi sebuah gambaran bahwa di semua bidang dan setiap pendidikan, sangat banyak di antara kita yang bermain-main dengan nasib bangsa kita sediri. Dan yang paling menjengkelkan adalah bahwa yang dipermainkan adalah nasib rakyat, dengan subjek utama adalah kekuasaan. Sangat tidak logis bahwa ada sejumput manusia yang meyakini bahwa ia memegang kekuasaan dan lantas memain-mainkan kekuasaan itu tanpa pernah puas. Termasuk mengutak-atik kue menteri hanya untuk transaksional politik.
Reshuffle mungkin saja bukan penerapan kekesalan SBY. Peralihan jabatan menteri mestinya bukan sesuatu yang emosional, yang menyangkut like and dislike untuk menyingkirkan musuh dan merangkul calon kawan. Reshuffle seharusnya juga bukan bagaimana mendukung orang kita sendiri dan menumpas kelompok lain. Terkecuali kita ingin membentuk budaya kuasa yang dengan sengaja mempertahankan ketidakdewasaan dalam memahami hakiki kehidupan manusia.
Reshuffle yang dewasa adalah peralihan tugas yang berfokus pada objektivitas berpikir tentang apa yang terbaik bagi kesejahteraan seluruh bangsa. Reshuffle yang baik dilihat dari hasil-hasil kerja yang adil dari suatu mekanisme sistem demokrasi. Tidak berlatar-belakang dengan apakah si calon penerima jabatan yang baru nanti anak ketua umum partai, atau teman yang telah berjasa selama masa kampanye. Reshuffle yang arif adalah pemihakan terhadap kemungkinan kedepan yang terbaik bagi nasib seluruh bangsa.
Bangsa ini sudah terbiasa selalu menengok sejarah, hingga kalau ada seseorang yang menonjol di masyarakat, yang pertama-tama ditilik adalah, siapa bapaknya? Sedemikian pentingnya sejarah asal usul dan ilmu asal usul. Mungkin karena setiap peran sejarah membutuhkan identifikasi yang mendasar dan lengkap. Siapakah Puan? O, beliau putri Megawati, presiden kelima Republik ini. Beliau juga cucu Bung Karno, presiden pertama Republik ini. Dalam artian silsilah kuasa Bung Karno belum selesai.
Saya begitu yakin, bahwa PDIP yang paling menunjukkan identitasnya sebagai partai oposisi, yang memakai label demokrasi sebagai wajah utamanya, selalu ingin berkubang keringat bersama pendukungnya. Dan saya –sebagai rakyat non simpatisan- berharap bahwa Puan bukanlah Tuan. Meski kekuatan dan kelemahan Puan adalah bahwa ia putri Megawati dan cucu dari mendiang Bung Karno. Jika menilik ilmu ginekologi, kita akan berpikir justru karena ia anak Megawati dan cucu Bung Karno maka terdapat kapasitas dan kualitas yang bisa memenuhi harapan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Partai seharusnya menetapkan benang merah komitmen oposisi atau koalisi. Kalau partai lain bicara muluk tentang angka statistik pendapatan perkapita dan angka kemiskinan, harus ada partai langsung mencium keringat buruh dan manusia-manusia bantaran sungai dan pinggir rel kereta sebagai muntahan-muntahan kebobrokan zaman. Setiap ada kesemrawutan sistem politik, atau berlangsung manipulasi angka dan pekikan dan desahan ketidakadilan sosial dan kultural selalu menjadi komoditas partai oposan untuk maju mengkritisi.
Seharusnya partai bukan partai setengah-setengah, yang tak sunguh-sungguh melihat potret nasib rakyat yang selalu menjadi oposan terhadap pimpinannya sendiri. Partai seharusnya juga partai yang identitasnya jelas dan tegas yang mem”bantengi” dirinya dengan realitas budaya politik oposan. Memang kita punya idealitas bahwa acuan partai hendaknya bukan lagi baju dan latar belakang primordial, melainkan rasionalitas aspirasi dan program-program.
Kita memilih ada partai-partai transaksional yang kemudian didisiplinkan untuk nasionalisme oleh sejarah. Kemudian pilihan kita jatuh pula pada partai-partai yang demokratis tetapi realitasnya mengabdi tidak saja kepada golongannya melainkan juga harus dilengkapi dengan kepentingan kelompok kecilnya, bahkan kepada keperluan karier politik pribadi.
Diangkat-angkatnya Puan untuk menjadi kandidat –meminjam istilah Ahmad Mubarok- menteri ringan bisa kita anggap sebagai potret lugas dari natural politik pencitraan bangsa ini. Jika Puan dengan begitu saja dibawa Tuan, maka si Tuan akan menentukan akan dibawa lari kemana Puan, Karena jika Puan suatu saat langkahnya ingin mengikuti “garis kongres” (oposisi) maka siap-siap akan diusir dari Tuan yang mempekerjakannya.
Jadi silakan PKB, PPP dan PAN menghuni koalisi dan nyaman dari perombakan kabinet. PDIP tak usah ikut-ikut capek merebut kue kecil itu, tugas mereka adalah menjadi pemain bebas di lapangan untuk mengembangkan hak asasi politik bangsa agar tidak begini-begini saja. Dan harapan sekaligus pesimisme saya kembali muncul mengingat bangsa ini telh terbiasa mempunyai sifat multipolar. Seandainya pagi ini tidak, lihat saja nanti sore. Jadi jangan kaget jika kita melihat mata banteng yang telah membiru.

Jumat, Februari 18, 2011

MALAM JUM’AT DI BULAN PUASA

By: Mularto

Lonceng stasiun besar senen telah berbunyi, suara announcer memberitahukan kedatangan kereta ekonomi jurusan Semarang yang sejak satu jam tadi kami tunggu. Kereta bertarif Rp. 36.000,- ini sudah menjadi langganan kami setiap pulang ke kampung halaman.
3 jam lalu, tepatnya menjelang maghrib, Pak Lik Gino mengabarkan meninggalnya Kakek. Tanpa tunggu waktu lebih lama, aku dan ibu langsung berkemas. Kami pun melupakan waktu berbuka puasa kami. Ayah terpaksa tak bisa ikut. Stroke menyerangnya sejak setahun lalu. Konon kakek meninggal juga karena stroke. Gumpalan darah membanjiri otaknya, hingga saraf kanannya tak berfungsi. Stroke yang diderita Kakek lebih lama dan telah berulang kali terjadi dibanding yang terjadi dengan Ayah.
Deru lokomotif telah bersiap menarik sembilan gerbong yang terangkai di belakangnya. Kami menempati gerbong ke tujuh, persis di belakang gerbong restorasi. Suasana hiruk-pikuk pedagang keliling beradu dengan penumpang mengisi lorong gerbong. Suara gaduhnya mencirikan kelas ekonomi, kelas marjinal perkotaan, apa boleh buat, inilah kelas yang sanggup kami bayar.
Tak lama kereta ini berhenti menunggu penumpang, hentakan pertamanya sedikit mendorong penumpang. Goncangan ini seperti teredam oleh suasana emosional ibu. Sejak dari rumah tadi Ibu tak kunjung bersuara. Raut muka sedihnya terpancar meski airmata tak juga terlihat. Ibu sangat diharapkan kedatangannya, ia anak tertua dan paling berpengaruh dari delapan adiknya yang masih hidup. Ibu juga yang tinggal paling jauh dari keluarga besar kami, seluruh adiknya tak ada yang hidup merantau.
Aku hanya merekam sedikit nostalgia dengan Kakek. Beliau abangan, setidak begitu dikotomi yang dikemukakan Clifford Gertz, meskipun aku tak pernah mendefinisikan spt itu. Kakek memang tidak pernah shalat lima waktu, namun beliau lebih sering bercerita tentang ratu adil yang akan datang suatu hari nanti untuk menggantikan goro-goro belakangan ini. Cerita ini mirip yang dikembangkan kaum Bathiniyah tentang Imam yang ma’shum.
Sebagai petani desa, Kakek banyak bercerita tentang filosofi alat bajak sawah. Semua unsur bajak sawah disebutnya satu persatu, dari mulai kajen, cekelan, singkal hingga racuk.
“Cekelan yang kamu pegang ini adalah pegangan hidupmu di dunia, sementara racuk yang di ujung sana adalah tujuan hidup yang paling sempurna,” ujarnya berapi-api. “Singkal yang di bawah ini adalah cara yang dapat diterima akal budi manusia,” lanjut Kakek. Aku hanya melongo mendengarkan tanpa tahu maksudnya waktu itu. “sementara pacul yng kakek pegang ini untuk membuang jauh-jauh segala sesuatu yang tidak sesuai. Bawak yang melingkar ini adalah obahing awak atau amalan masa hidupmu. Sementara doran yang Kakek pegang ini adalah dedonga marang pangeran, berdoa kepada Gusti,” sambungnya.
Kakek yang tak fasih berbahasa Indonesia, merasa telah cukup mengambil pelajaran dari alam. Menurutnya agama adalah pakaian dari orang-orang yang terhormat, sementara kakek menyebut dirinya hanya seorang petani. “Kakek bukan tidak butuh agama. Hidup kakek hanya berlandaskan tiga hal; keluhuran, kesejahteraan dan ilmu pengetahuan. Bila tidak memiliki satu di antaranya, habislah arti sebagai manusia,” nasihatnya waktu itu.
Terakhir kali kami kunjungi kakek terbaring tak berdaya di rumah adik pertama ibu. Tegap dan kekar tubuhnya masih tersisa. Matanya masih bercahaya. Kulit di pipinya masih terlihat kencang dan bersih tak tergambar seorang pria berumur 70-an. Bicaranya pelan, sangat pelan dan terbata. Daya ingatnya tajam, dengan mudah ia mengingat Wisnu, cicitnya, keponakanku.
Konon ia selalu bertanya tentang Wisnu, meski keponakanku itu hanya pernah berkunjung sekali. Pernah bu likku dibuat repot karenanya. Dalam ketidakberdayaan itu, kakek bersikeras ingin ke Jakarta, mengunjungi Wisnu, tetapi tubuh lemahnya yang mencegahnya. Sayangnya kepada Wisnu ia tunjukkan beberapa bulan lalu ketika kami berkunjung untuk menghadiri pernikahan adik wanita ibu yang terakhir. Seolah tubuh bocah lima tahun itu tak ingin dilepasnya. Wisnu sendiri merasa setengah risih dengn perlakuan itu. Ucapannya tak mendapat respon dari Wisnu. Sangat pelan dengan bahasa jawa yang tak akrab di kuping Wisnu.
***
Ibu masih tersandar mematung di sudut kursi hijau kereta. Tatapannya kosong. Di luar terlalu gelap untuk dipandang oleh matanya yang terlihat mengantuk. Hilir mudik pdagang menawarkan barang tak dihiraukannya. Kerut merut di kening sangat jelas terlihat. aku tak punya keberanian untuk mengajaknya bicara. Setetes airmata mengalir dari rongga pipinya. Tetes air mata itu coba dihapus dengan dengan punggung tangannya. Kali ini tatapannya masih dibuang keluar. Wajahnya beradu dengan jendela kaca. Suara sirene perlinatsan kereta tak jua membuatnya kaget.
Tak ada interaksi antara kami dengan penumpang lainnya. Gerbong ini sepi. Kursi di depan kami kosong, juga di samping. Di seberang depan kursi kami duduk seorang pemuda yang sedang mengepulkan asap rokoknya. Kursi panjang berkapasitas tiga penumpang itu didudukiya seorang diri, sama seperti kami. Aku coba merebaahkan diri di kursi panjangku dengan kepala diganjal jaket. Pedagang masih tetap tak tahu lelah yang menggelayuti kami. Disaat seperti ini aku sangat rindu kamarku. Meskipun tak pernah rapi, namun terasa nyaman.
Pukul dua dini hari ketika kereta transit di stasiun Tegal. Penjaja makanan berdesak masuk, melalui pintu selebar satu meter. Beberapa orang petugas kereta didampingi seorang polisi memeriksa karcis seraya mengingatkan waktu sahur. “Kereta berhenti dua puluh lima menit, sahur....sahur...” teriaknya mengisi lorong kereta. Aku pun bergegas turun mencari warung nasi. Makanan yang dijual di atas kereta tak mungkin cukup sebagai santapan sahur. Sejumput mie sebagai pelengkap segenggam nasi dihargainya dua ribu rupiah. Cukup mahal untuk porsi seperti itu.
Tak seperti dugaanku, ternyata di luar stasiun kota ini masih riuh kehidupan. Berjajar barisan becak selalu setia menunggu penumpang. Satu persatu pemiliknya mulai menyambangiku. Aku diam, tak sepatah kata keluar dari mulutku untuk menerima atau menolak ajakannyanya. Aku seolah merasa tidak asing di luar sini. Ada satu penumpang lain yang mmepunyai tujuan sama denganku, mencari santapan sahur. Orang yang tak kukenal ini mengajakku ke arah utara, sekitar 30 meter dari pintu stasiun. Tampak dari kejauhan kios makan padang bersebelahan dengan warung makan Tegal. Dua bungkus nasi aku pesan dari warung makan Tegal ini, sementara seorang teman yang tak kukenal namanya ini lebih tertarik dengan nasi Padang sebagai teman santap sahurnya.
Bungkus nasi kuletakkan di meja kecil di depan ibu. Kutawari dia. Tangannya membuka bungkusan itu. Santapan pertama sejak di rumah tadi langsung tersimpan di perutnya. Perlahan kunyahan demi kunyahan diresapinya. Sementara aku memilih untuk menunggu dekatnya waktu imsak. Kereta melaju seiring kegundahan ibu. Angin yang bertiup melalui jendela yang terbuka menghalau bau pesing yang menyeruak masuk dari toilet. Gerbong ini terus menguncang-guncang tubuh kami. Guncangannya mungkin sama yang dirasakan ibu saat menerima telepon tadi.
Lamunanku buyar ketika kereta berhenti di stasiun Comal, dua belas kilometer arah timur Pemalang. Santapan sahur ku buka. Porsinya cukup mengenyangkanku, meski ku tak yakin puasaku sampai hingga maghrib nanti. Dua jam lagi perjalanan ini berakhir. Hal yang sangat menjemukan untuk bertahan lebih dari dua jam lagi di sini.
Suatu yang paling menyenangkan jika tiba di stasiun Batang, kota setelah Pekalongan yang akan kami lewati, sebab lima kilometer setelahnya kereta akan melintasi pesisir pantai utara bertepatan dengan waktu matahari terbit. Aku pasti telah bersiap di sisi pintu yang selalu terbuka untuk menyongsong waktu itu. Pintu ini memang selalu terbuka, sebuah “keistemewaan” yang tak akan kita dapat di kereta kelas bisnis atau eksekutif. Deburan ombak menjilat-jilat bibir pantai. Bau amis penghuni laut tersapu laju kereta. Di batas cakralawa, surya mengintip melalu bilik-bilik awan yang menjingga. Semburat cahayanya menghampiri sesuatu yang tak tersembunyi. Di kejauhan bahtera di goyang angin, mencoba mengurungkan niat pemiliknya untuk mencari nafkah.
Di selatan berdiri kokoh bukit berdinding semak dan pohon-pohon nan lebat. Perjalanan melelahkan ini sejenak terlupa oleh satu-satunya fasilitas perjalanan kelas ekonomi ini. setelah melalui pemandangan menakjubkan ini tibalah waktunya kami turun di stasiun Wleri. Stasiun kecil di barat kota Semarang. Kami masih harus menyambung menaiki tiga kali angkutan desa untuk sampai di rumah kakek di desa pikatan, di balik punggung gunung yang tak pernah ku tau namanya. Namun, aku harus sabar menunggu dua jam itu.
***
Pijakan pertama kakiku menyentuh tanah becek, samping gapura desa. Sebuah desa santri dengan penduduk yang sangat agamis. Agak kontradiktif degan kakek yang abangan. Pesantren di desa ini baru berdiri sekitar 15 tahun lalu. Jauh sesudah kakek hidup, belajar dari alam dan berprinsip. Rumah kakek sudah terlihat di ujung jalan becek ini.
Di depan rumah sepi, tiada kesan rumah duka. Hanya kerabat yang menyambut kami, tanpa warga yang bergugur-gunung, tanpa sesepuh pengurus jenazah, seperti biasanya. Rangkaian bunga melati dikerjakan oleh sepupuku. Pak lik Yanto memotong kayu untuk dijadikan nisan di makam nanti. Praktis semua dikerjakan sendiri. Begitu masuk ruang depan ibu disambut sedu sedan keluarga besar kami. Suasana begitu diselimuti haru saat ibu menghambur ke tubuh jenazah kakek.
Di depan jenazah ada seorang yang belum kukenal, namun sepertinya seorang kiai, setidaknya terlihat dari identitas pakaiannya. Nenek dan Pak lik Gino sedang bercakap dengan kiai itu. Aku berinisiatif mengaji di depan jenazah kakek, sebagai bentuk dharma bakti terakhir. Pak Kiai mendekatiku seraya menepuk pundak kananku, “kakekmu orang baik, meninggal malam jum’at di bulan puasa,” ucap pria setengah baya itu setengah berbisik.
Nenek memperkenalkan orang ini kepada kami, “ini, Kiai Fachruddin, ustadz baru di pesantren depan,” ujar nenek. Aku ulurkan tanganku seraya menyebutkan namaku. Ibu masih memeluk kakek. Diusapnya wajah kakek yang pucat. Air matanya menitik, jatuh tepat di atas kapas di lubang hidung kakek. Ia menumpahkan segala kebekuan selama di perjalanan. Air mata terisak yang tak pernah memicu raungan tertumpah di depan enazah kakek.
Selepas shalat jum’at jenazah dihadapkan ke liang lahat. Kiai Fachrudin memberikan kesaksian bahwa jenazah kakek orang baik, karena meninggal di malam jum’at bulan puasa. Kiai Fachruddin meminta kesaksian warga untuk mendukung kesaksiannya. Warga yang didominasi santri itu terlihat malas-malasan menjawab dan tidak antusias mengatakan khair. Salah satu santri memberanikan diri berkata, “Mbah Djati bukan santri seperti kita kiai.”
Kakek diidentifikasikan sebagai orang non santri. Jenazah kakek dimasukkan ke liang pengasingan dari peradaban monolitis kaum santri Jawa.

Minggu, Januari 09, 2011

Di Zawiyyah Sebuah Masjid

By : Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.

Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.
“Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,” berkata Pak Kiai kepada santri pertama, “apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?”

“Agama,” jawab santri pertama.

“Berapa jumlahnya?”

“Satu.”

“Tidak dua atau tiga?”

“Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan.”

**Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, “Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?”

“Islam.”

“Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?”

“Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda.”

“Kenapa kau katakan demikian?”

“Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam.”

“Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?”

“Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia.”

**Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. “Allah mengajari Adam nama benda-benda,” katanya, “bahasa apa yang digunakan?”

Dijawab oleh santri ketiga, “Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur’an.”

“Bagaimana membuktikan hal itu?”

“Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam.”

“Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?”

“Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah.”

“Maksudmu, Nak?”

“Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi.”

**”Temanmu tadi mengatakan,” berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri keempat, “bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau menjelaskan hal itu?”

“Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan,” jawab santri keempat, “Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap atau proses pertumbuhan.”

“Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain Islam?”

“Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik bukan anggapan akidah.”

“Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?”

“Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu –sebelum dimanipulasikan– sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disempurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama –dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau pengurangan– sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia.”

**Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil bertanya, “Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?”

“Islam, Kiai.”

“Apa agama Ibrahim?”

“Islam.”

“Apa agama Musa?”

“Islam.”

“Dan agama Isa?”

“Islam.”

“Sudah bernama Islamkah ketika itu?”

“Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Itu berlaku baik tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum.”

**”Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?” Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.

“Membebaskan,” jawab santri itu.

“Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!”

“Menyelematkan, Kiai.”

“Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?”

“Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam –sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu– dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah.”

“Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?”

“Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah.”

**Pak Kiai menuding santri ketujuh, “Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?”

“Benar, Kiai,” jawabnya, “Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah.”

“Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?”

“Dengan memedomani ayat-ayatNya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya.”

“Kenapa sangat banyak orang yang salah mengartikan makna pasrah?”

“Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Bahkan manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah. Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal dari proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya.”

**”Cahaya Islam. Apa itu gerangan?”

Santri ke delapan menjawab, “Pertama-tama ialah ilmu pengeahuan. Adam diajari nama benda-benda. Itulah awal mula pendidikan kecendekiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu pertama Allah kepada Muhammad, yakni iqra’. Itulah cahaya Islam, sebab agama itu dianugerahkan kepada makhluk tertinggi yang berpikiran dan berakal budi yang bernama manusia.”

“Pemikiranmu lumayan,” sahut Pak Kiai, “Cahaya Islam tentunya tak dapat dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya: kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu. Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya mahacahaya itu?”

“Ya, Kiai.”

“Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?”

“Dinihari rekayasa teknologi.”

“Dari Nuh?”

“Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah.”

“Hud?”

“Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih.”

“Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi jawablah: pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?”

“Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detil.”

“Pada Ismail?”

“Pengurbanan dan keikhlasan.”

“Ayyub?”

“Ketahanan dan kesabaran.”

“Dawud?”

“Tangis, perjuangan dan keberanian.”

“Sulaiman?”

“Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan.”

“Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!”

“Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan dalam kepandaian.”

“Dari Zakaria?”

“Dzikir.”

“Isa?”

“Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub.”

“Adapun dari Muhammad, anakku?”

“Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya.”

**Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. “Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?”

“Tak menentu, Kiai,” jawab sanri terakhir itu, “Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Di saat lain kami adalah Ayyub –tetapi– yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit. Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya; sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir’aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu.”

Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, “Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami.”

“Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan.”

Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.

“Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.”

“Anakku,” Pak Kiai menyela, “pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa.”

“Insyaallah tidak, Kiai,” jawab sang santri, “Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran. Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir’aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata. Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem. Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir. Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah. Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang.”

**Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.

“Sampai tahap ini,” kata Pak Kiai, “cukuplah itu bagi kalian, sesudah dua pertanyaan berikut ini kalian jawab.”

“Kami berusaha, Kiai,” jawab mereka.

“Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?”

“Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar. Juga setiap kata dan gerak perjuangan,” berkata salah seorang.

“Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus pas. Tak lebih tak kurang,” sambung lainnya.

“Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah masyarakat,” sambung yang lain lagi.

“Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah.”

“Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan.”

“Hikmah, maw’idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan.”

“Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses sejarah.”

“Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan kembali ke Makkah untuk kemenangan.”

“Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah.”

Pak Kiai tersenyum, “Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub lembek, anak-anakku?”

“Lentur, Kiai!” kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.

“Fal-yatalaththaf!” ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami santri-santrinya satu per satu, “titik pusat Al-Qur’an!”