Rabu, Agustus 03, 2011

PULANG

BY: MULARTO

Muntamah, seorang janda, sedang duduk di beranda. Ia sedang sarapan pagi yang berupa nasi liwet, ditemani anak tetangganya yang berusia enam tahun, anak perempuan Harsono satu-satunya. Anak itu hanya diam termangu, dengan matanya yang cantik terbuka lebar penuh ingin, mengikuti gerakan tangan wanita tua itu menyuap sisa nasi yang tak seberapa. Ketika akhirnya nasi itu habis tak bersisa, perempuan itu memandang dan berseru kepadanya, “Oh Tuhan... Nak, tak ada lagi buat kamu! Sama sekali tak punya pikiran aku ini.”
Namun, tidak lama. Ibunya memanggil dari dalam rumah, “Buat apa kamu berlama-lama di situ? Masuk sini!”.
Muntamah menjawab, “Tak apa, Ratih. Biarkan ia duduk-duduk di sini denganku. Desi sama sekali tak menggangguku.”
“Jangan!” kata Ratih ketus. “Tidak baik seperti itu, Desi mengamatimu penuh ingin waktu makan. Saya tidak senang anak saya seperti itu. Ayo, cepat masuk, Desi.”
Anak itu bangkit dengan takut dan bingung, lalu masuk ke dalam rumah.
Satu dasawarsa lalu, Harsono datang ke tanah ini membangun sebuah rumah kecil, di sisi bangunan reot Muntamah. Harsono bekerja di kota besar sebagai pesuruh dan hanya mampu pulang tiga bulan sekali. Ia mempunyai anak perempuan kecil, Desi. Muntamah senang sekali dengan anak itu. Ia tak menginginkan kegembiraan yang lain lagi dihidupnya yang miskin ini. Desi adalah jalan untuk membuatnya bahagia dan senang, di masa hidupnya yang tak tersisa banyak lagi.
Tetapi jalan kebahagiannya itu tak selalu mudah terlaksana. Istri Harsono seorang yang cantik, dengan sikap yang tak pernah menentu. Ratih tidak begitu senang melihat perempuan tua itu. Muntamah adalah tetangga terdekat keluarga itu. Harsono selalu berbaik hati pada janda renta itu, namun tidak bagi Ratih. Baginya, Muntamah hanyalah seorang wanita tua yang sekedar biasa duduk di teras rumahnya dan menghabiskan sebagian makan keluarga mereka. Sebenarnya banyak tetangga yang silih berganti menanggung hidupnya, tapi Harsono merasa mempunyai tanggung jawab karena wanita itu hidup di depan matanya.
Minggu-minggu ratih banyak dihabiskan bertengkar dengan nenek tua itu meski disebabkan oleh perkara yang sepele. Seringkali akibat pertengkaran itu Muntamah mengancam akan pergi dari rumahnya sendiri dan berkata “Nyonya Harsono, aku akan pergi. Entah apakah aku akan kembali atau tidak ke rumah ini lagi.” Meski setelah kata-kata itu terucap ia merasa sedih dan berat menggelayuti kakinya untuk melangkah.
Biasanya, Muntamah hanya melewatkan sepanjang harinya di pos ronda di sudut desanya. Menjelang senja mengintip, Desi yang menyadari ketiadaan wanita tua itu mulai menjemputnya, menarik lengan wanita renta itu. “Nek, pulanglah. Nanti saya bilang Ibu untuk tidak bertengkar lagi dengan Nenek. Ayolah Nek, pulang!” Dalam temaram petang itu kembaliah ia ke rumah dalam cengkeraman lengan anak itu.
Ratih dengan judes menolehnya jika Muntamah telah kembali dari pengembaraan sesaat itu. “Hmm... kembali juga si tua itu rupanya. Mungkin sudah tak ada lagi piring-piring yang tersedia di rumah tetangga untuknya. Dasar tak tahu malu.”
Di sisi utara rumah Harsono itulah wanita tua itu tinggal. Di sebuah gubuk beratap seng yang lebih banyak titik bocornya di sana-sini. Hari-hari Muntamah dihabiskan di depan mesin jahit. Tak jelas apa yang dijahitnya, hanya gombalan sobek yang dibuatnya menjadi alas tidurnya. Sekali waktu dibongkarnya kembali jahitannya itu dan coba kembali disusunnya. Di satu sudut dari ruangan itu terhamparlah tikar plastik yang sudah usang dan sejumlah selimut wool yang kusam. Tempayan yang menjadi kebanggannya dipenuhi beras pemberian tetangga. Di sisi-sisi tempayan itu berturut-turut sebuah jambangan yang berisi minyak sayur dan kemudian garam serta gula.
Hampir tak pernah Ratih menginjakkan kakinya di gubuk wanita tua itu, meski hampir setiap senja Desi hadir di sana dan duduk berjam-jam untuk mendengarkan dongeng-dongeng Muntamah. Sering Desi sudah mendengar cerita yang sama berulang-ulang tanpa rasa bosan. Tapi seringkali gadis kecil itu yang memaksa cerita yang berulang.
Bagi Muntamah, bertahun-tahun ia tak menemukan lawan yang gigih untuk mendengar dongeng masa mudanya, dan sekarang ia bisa mengulang ingatannya yang berserak di tepi kepalanya, dengan cara inilah ia menjadi tidak pikun. Di tengah cerita, seringkali Muntamah menatap senyap kepada anak ini dengan senyum bahagia. Hingga menjelang malam Desi segera bangkit menyadari akan ada teriakan dari ibunya kalau ia tak segera bergegas.
Suatu pagi di akhir bulan Juni yang ramah, seorang wanita bernama Titi yang memiliki warung kecil di pertigaan jalan desa itu datang menghampiri pekarangan Ratih yang sedang menyapu dan berseru kepadanya. “Ratih, kamu harus membayar aku dua puluh ribu rupiah.” Katanya ketus, “aku ke sini untuk menagih hutang wanita itu yang telah mengambil sejumlah barang dariku. Katanya, aku bisa menagihnya padamu.”
Senyum yang semula bersahabat di bibir Ratih sekejap memudar berganti seringai kesal. Di hadapannya sekarang adalah Titi, seorang pemilik warung yang terkenal kikirnya. Ratih semakin menjadi kekesalannya ketika Titi makin mencibirnya, “Apa kamu kira aku bohong? Coba tanya ke wanita tua itu, kalau kamu tidak percaya padaku.”
Ratih marah sekali, sehingga hanya dapat tercenung tanpa berkata-kata, lalu pergi ke gubuk itu melabrak Muntamah. “Nenek tua!” Kecamnya. “Apa kamu pikir mencari uang itu mudah? Titi bilang kamu membeli sejumlah barang darinya. Apa saja barang itu? Hari ini dua puluh ribu, kemaren lima ribu, minggu lalu dua belas ribu lima ratus. Apakah kamu pikir aku akan begitu mudah mendapat uang untuk membayar sesuatu yang kamu beli? Kamu tidak malu membeli bukan dengan uangmu sendiri?”
Wajah tua Muntamah yang berkerut sekejap pasi dan semakin mengkerut. “Aku tak akan lama lagi di sini, tolonglah dibayar. Hanya untuk kali ini.”
“Uang, uang dan uang. Selalu itu yang kamu kuras dariku. Tak pernahkah kamu berpikir yang menyenangkan kami? Bukankah kamu punya panci, piring, gelas yang bisa kamu tukarkan? Kenapa kamu tidak menjualnya?”
Desi yang mendengar pertengkaran itu dengan segera berlari menuju warung Titi. “Nenek itu sudah sangat tua. Ia sudah merepotkan ibu Titi. Dengarlah bu, aku punya sepuluh ribu rupiah dalam kotak rahasiaku. Saya akan memberikannya kepada ibu jika semua sudah tidur. Tapi Ibu harus berjanji tidak mengatakan ini pada Mama, aku ambil uang itu malam nanti tanpa sepengatahuan Mama dan akan aku bawa ke Ibu.”
Matahari belum tepat di atas kepala saat Muntamah meninggalkan rumah. Tangan kanannya yang renta memegang kantong plastik merah berisi selimut, sedangkan tangan satunya tampak tergopoh memegang jambangan yang entah apa isinya.
Desi meneriakinya, “Nenek, jangan pergi meninggalkan kami. Jangan. Kemana Nenek akan pergi?” Anak itu berlari mengejar wanita tua itu dan menarik-narik lengannya. “Kalau Nenek pergi, aku akan menangis.”
Ratih yang melihat semua itu berteriak dari beranda. “Pergilah jika itu inginmu. Tidak ada yang akan menahanmu.” Perempuan tua itu tiada menoleh sekalipun Desi berlari sepanjang jalan setapak itu dengan isak yang masih tersisa. “Tak usah kau kejar Nenek itu Desi. Jika ia tau berterimakasih tak seharusnya ia berbuat seperti itu. Hidupnya selama ini telah ditanggung ayahmu. Semestinya ia pertimbangkan itu semua.”
Banyak tetangga yang bersimpati padanya dan ingin menampung di rumahnya. Sempat Muntamah tinggal seminggu bersama keluarga Widodo, di barat desa, kemudian ia berpindah ke rumah Hartaji, dan sesudah itu ke rumah keluarga Putu. Mereka mula-mula menunjukkan kebaikan yang luar biasa, namun sambutan selalu berubah menjadi hambar setelah minggu demi minggu berlalu, hingga dengan berbagai cara, rasa bosan mulai ditunjukkan kepada wanita itu. Setiap awal minggu ia berharap Harsono datang menjemputnya dan memintanya pulang, tapi tak seorangpun datang, bahkan Desi pun tidak. Wanita tua itu coba meyakinkan dirinya bahwa tak mungkin anak seumurnya berjalan jauh dari rumahnya untuk mencarinya. Sekali-dua ia sengaja melintas di depan rumah keluarga Harsono dengan harapan anak itu melihatnya, namun, sekedipan matapun ia tak menjumpainya.
Ia mulai sadar, tak ada yang dapat menampungnya lagi karena semua dari mereka tak ada hubungan kekerabatan yang dekat, tak ada yang mau menerima orang lain di rumahnya sepanjang hidupnya. Di desa tetangga ada sebuah pondok beratap ilalang di sudut utara desanya. Pondok di tengah ladang milik keluarga Warsidi, tetapi sekarang sudah kosong. Pondok itu kecil sekali. Dindingnya terbuat dari gedek bambu dan letaknya persis di tengah ladang dan terpisah dari rumah-rumah yang lain.
Beberapa tetangga masih sesekali memberinya makan, meski tak serutin dulu. Tetangga yang lain coba merayu Ratih untuk mengajak wanita tua itu pulang. “Aku tak peduli. Apapun yang terjadi aku tak akan menerimanya kembali di sini.” Selalu ucapan nyinyir itu yang terucap di bibir Ratih. Hari-hari pertama, beberapa keluarga telah berniat baik mengiriminya segala sesuatu yang mungkin diperlukannya, tetapi sedkit demi sedikit minat mereka itu menyusut, dan mulailah perempuan tua itu kekurangan. Wanita tua itu mulai meratapi kesulitannya. “Tak ada yang menyuruhku pergi dan Desi pun menangis sambil menahanku.” Air mata menuruni pipinya yang cekung.
Matahari menyengat di bulan Juli yang panas. Udara terasa pengap di dalam rumah, sekalipun menjelang sore angin mulai bertiup hanya sedikit saja menyingkirkan panas yang masih banyak tersisa. Muntamah telah berjalan keliling desanya berpanas-panas dengan pengembaraan yang berujung keputus-asaan dari rumah ke rumah, dan ketika ia kembali ke pondok senja hari, ia menderita demam. Ia menggelar tikarnya di halaman pondoknya yang teduh dengan tenang. Di dekatnya kepalanya terdapat poci tanah berisi air. Demam telah membuatnya begitu haus hingga ia beberapa kali meneguk air dari poci tersebut.
“Nek!” Muntamah menoleh dan mengangkat kepalanya akibat seruan itu. Desi datang dengan membawa sesuatu terbungkus dalam kain. Lemah sekali sahutan Muntamah menjawab panggilan anak itu, tetapi ia masih sanggup mengulurkan tangannya yang kurus itu kepada Desi dan mendekapnya dengan kasih sayang. Desi membuka bungkusan kain itu. “Ini kue talam, nek. Aku membelinya di pasar dekat rumah pagi tadi.”
Muntamah duduk tegak lalu mulai menyentuh kue yang dibawa Desi dengan tangannya yang lemah. “Coba nenek lihat,” katanya lemah. “Darimana kamu dapatkan semua ini, sayang.”
“Aku menabung seminggu ini, Nek,” ucapnya lirih. “Nenek makanlah!” Ketika percakapan itu mengalir beberapa saat, Desi baru menyadari sesuatu, “Nek, badanmu panas sekali.”
“Sepanjang hari ini aku berputar-putar keliling desa. Oleh karena itu badanku sedikit demam. Biarlah aku berbaring sebentar.”
Desi hanya seorang anak, namun ia begitu tahu apa yang menyebabkan neneknya bepergian di bawah terik mentari. Ia membelai tubuh tua itu dengan penuh kecintaan yang kini mengkerut karena kesulitan dan kemiskinan. “Nenek pulang ya!” katanya, “tak ada lagi yang mendongeng di senja hari. Pulanglah Nek!”
Muntamah gembira sekali mendengarnya. Memang itu yang diharapkannya selama ini, hingga ia tak dapat menyembunyikan gelembung bahagianya itu. “Ibumu telah memintaku pulang?” katanya bersemangat.
“Tidak, Nek,” jawab Desi. “Tapi meski begitu, pulanglah Nek. Ia akan memaafkan semuanya. Nenek harus bicara padanya.”
Desi pulang diiringi lembayung senja dengan kegembiraan menunggu esok hari yang dijanjikan Muntamah untuk kembali ke rumah.
Malam itu seorang datang dari sisi lain dengan tergopoh-gopoh membawa pesan untuk Harsono. Namun tak dijumpainya Harsono di rumah itu, hanya Ratih yang memandangnya dengan penuh tanya. “Di mana suamimu? Apa dia tidak ada di rumah? Nenek itu... Ia sudah berkeliaran sepanjang hari di bawah panas matahari, kini ia hanya terbaring saja di luar pondok di tengah ladang Warsidi.”
Beberapa tetangga sudah berada di pondok yang hanya diterangi sentir. Satu-dua orang duduk di dekat wanita tua itu dengan menggosokkan minyak pada dada dan punggungnya. Muntamah membuka mata, tetapi hanya tatapan kosong tanpa daya yang dihasilkannya ketika ia menoleh ke beberapa orang itu. Warsidi menuangkan sedikit air ke mulut wanita itu, tetapi tak sedikitpun terhisap ke dalam mulutnya.
Wanita tua itu semakin tenggelam dengan cepat dalam ketiadaan. Warsidi menutupkan kelopak matanya yang mengalir sebutir air mata dari ceruk matanya yang cekung dan terus turun ke pipinya yang berkerut. Hingga kemudian Muntamah menuruni jalan yang belum pernah ia injak sebelumnya. Jalan kembali padaNya.



Jatinegara, 27- Juli- 2011

Jumat, Maret 04, 2011

PUAN dan TUAN

By; MULARTO
Sangat tidak gampang, dan sekali lagi sungguh sulit mempercayai apalagi mencintai partai politik di Indonesia. Meski di awal mereka-mereka sangat memberi harapan, membuat mimpi-mimpi kita bertambah menunya. Seluruh harapan dari yang termewah hingga tertinggi kita gagas dengan mempertaruhkan nasib kita. Ketika kemudian pada suatu hari harapan itu melambai terbawa angin, sebagian kita hanya mampu mengeluh dan sebagian lainnya mengumpat. Namun toh kepercayaan kita kepadanya tak kunjung surut. Maka betapapun memuakkan partai-partai, yang kita lakukan adalah justru memperbesar rasa percaya kita kepadanya.
Saya hanya ingin memberi sebuah gambaran bahwa di semua bidang dan setiap pendidikan, sangat banyak di antara kita yang bermain-main dengan nasib bangsa kita sediri. Dan yang paling menjengkelkan adalah bahwa yang dipermainkan adalah nasib rakyat, dengan subjek utama adalah kekuasaan. Sangat tidak logis bahwa ada sejumput manusia yang meyakini bahwa ia memegang kekuasaan dan lantas memain-mainkan kekuasaan itu tanpa pernah puas. Termasuk mengutak-atik kue menteri hanya untuk transaksional politik.
Reshuffle mungkin saja bukan penerapan kekesalan SBY. Peralihan jabatan menteri mestinya bukan sesuatu yang emosional, yang menyangkut like and dislike untuk menyingkirkan musuh dan merangkul calon kawan. Reshuffle seharusnya juga bukan bagaimana mendukung orang kita sendiri dan menumpas kelompok lain. Terkecuali kita ingin membentuk budaya kuasa yang dengan sengaja mempertahankan ketidakdewasaan dalam memahami hakiki kehidupan manusia.
Reshuffle yang dewasa adalah peralihan tugas yang berfokus pada objektivitas berpikir tentang apa yang terbaik bagi kesejahteraan seluruh bangsa. Reshuffle yang baik dilihat dari hasil-hasil kerja yang adil dari suatu mekanisme sistem demokrasi. Tidak berlatar-belakang dengan apakah si calon penerima jabatan yang baru nanti anak ketua umum partai, atau teman yang telah berjasa selama masa kampanye. Reshuffle yang arif adalah pemihakan terhadap kemungkinan kedepan yang terbaik bagi nasib seluruh bangsa.
Bangsa ini sudah terbiasa selalu menengok sejarah, hingga kalau ada seseorang yang menonjol di masyarakat, yang pertama-tama ditilik adalah, siapa bapaknya? Sedemikian pentingnya sejarah asal usul dan ilmu asal usul. Mungkin karena setiap peran sejarah membutuhkan identifikasi yang mendasar dan lengkap. Siapakah Puan? O, beliau putri Megawati, presiden kelima Republik ini. Beliau juga cucu Bung Karno, presiden pertama Republik ini. Dalam artian silsilah kuasa Bung Karno belum selesai.
Saya begitu yakin, bahwa PDIP yang paling menunjukkan identitasnya sebagai partai oposisi, yang memakai label demokrasi sebagai wajah utamanya, selalu ingin berkubang keringat bersama pendukungnya. Dan saya –sebagai rakyat non simpatisan- berharap bahwa Puan bukanlah Tuan. Meski kekuatan dan kelemahan Puan adalah bahwa ia putri Megawati dan cucu dari mendiang Bung Karno. Jika menilik ilmu ginekologi, kita akan berpikir justru karena ia anak Megawati dan cucu Bung Karno maka terdapat kapasitas dan kualitas yang bisa memenuhi harapan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Partai seharusnya menetapkan benang merah komitmen oposisi atau koalisi. Kalau partai lain bicara muluk tentang angka statistik pendapatan perkapita dan angka kemiskinan, harus ada partai langsung mencium keringat buruh dan manusia-manusia bantaran sungai dan pinggir rel kereta sebagai muntahan-muntahan kebobrokan zaman. Setiap ada kesemrawutan sistem politik, atau berlangsung manipulasi angka dan pekikan dan desahan ketidakadilan sosial dan kultural selalu menjadi komoditas partai oposan untuk maju mengkritisi.
Seharusnya partai bukan partai setengah-setengah, yang tak sunguh-sungguh melihat potret nasib rakyat yang selalu menjadi oposan terhadap pimpinannya sendiri. Partai seharusnya juga partai yang identitasnya jelas dan tegas yang mem”bantengi” dirinya dengan realitas budaya politik oposan. Memang kita punya idealitas bahwa acuan partai hendaknya bukan lagi baju dan latar belakang primordial, melainkan rasionalitas aspirasi dan program-program.
Kita memilih ada partai-partai transaksional yang kemudian didisiplinkan untuk nasionalisme oleh sejarah. Kemudian pilihan kita jatuh pula pada partai-partai yang demokratis tetapi realitasnya mengabdi tidak saja kepada golongannya melainkan juga harus dilengkapi dengan kepentingan kelompok kecilnya, bahkan kepada keperluan karier politik pribadi.
Diangkat-angkatnya Puan untuk menjadi kandidat –meminjam istilah Ahmad Mubarok- menteri ringan bisa kita anggap sebagai potret lugas dari natural politik pencitraan bangsa ini. Jika Puan dengan begitu saja dibawa Tuan, maka si Tuan akan menentukan akan dibawa lari kemana Puan, Karena jika Puan suatu saat langkahnya ingin mengikuti “garis kongres” (oposisi) maka siap-siap akan diusir dari Tuan yang mempekerjakannya.
Jadi silakan PKB, PPP dan PAN menghuni koalisi dan nyaman dari perombakan kabinet. PDIP tak usah ikut-ikut capek merebut kue kecil itu, tugas mereka adalah menjadi pemain bebas di lapangan untuk mengembangkan hak asasi politik bangsa agar tidak begini-begini saja. Dan harapan sekaligus pesimisme saya kembali muncul mengingat bangsa ini telh terbiasa mempunyai sifat multipolar. Seandainya pagi ini tidak, lihat saja nanti sore. Jadi jangan kaget jika kita melihat mata banteng yang telah membiru.

Jumat, Februari 18, 2011

MALAM JUM’AT DI BULAN PUASA

By: Mularto

Lonceng stasiun besar senen telah berbunyi, suara announcer memberitahukan kedatangan kereta ekonomi jurusan Semarang yang sejak satu jam tadi kami tunggu. Kereta bertarif Rp. 36.000,- ini sudah menjadi langganan kami setiap pulang ke kampung halaman.
3 jam lalu, tepatnya menjelang maghrib, Pak Lik Gino mengabarkan meninggalnya Kakek. Tanpa tunggu waktu lebih lama, aku dan ibu langsung berkemas. Kami pun melupakan waktu berbuka puasa kami. Ayah terpaksa tak bisa ikut. Stroke menyerangnya sejak setahun lalu. Konon kakek meninggal juga karena stroke. Gumpalan darah membanjiri otaknya, hingga saraf kanannya tak berfungsi. Stroke yang diderita Kakek lebih lama dan telah berulang kali terjadi dibanding yang terjadi dengan Ayah.
Deru lokomotif telah bersiap menarik sembilan gerbong yang terangkai di belakangnya. Kami menempati gerbong ke tujuh, persis di belakang gerbong restorasi. Suasana hiruk-pikuk pedagang keliling beradu dengan penumpang mengisi lorong gerbong. Suara gaduhnya mencirikan kelas ekonomi, kelas marjinal perkotaan, apa boleh buat, inilah kelas yang sanggup kami bayar.
Tak lama kereta ini berhenti menunggu penumpang, hentakan pertamanya sedikit mendorong penumpang. Goncangan ini seperti teredam oleh suasana emosional ibu. Sejak dari rumah tadi Ibu tak kunjung bersuara. Raut muka sedihnya terpancar meski airmata tak juga terlihat. Ibu sangat diharapkan kedatangannya, ia anak tertua dan paling berpengaruh dari delapan adiknya yang masih hidup. Ibu juga yang tinggal paling jauh dari keluarga besar kami, seluruh adiknya tak ada yang hidup merantau.
Aku hanya merekam sedikit nostalgia dengan Kakek. Beliau abangan, setidak begitu dikotomi yang dikemukakan Clifford Gertz, meskipun aku tak pernah mendefinisikan spt itu. Kakek memang tidak pernah shalat lima waktu, namun beliau lebih sering bercerita tentang ratu adil yang akan datang suatu hari nanti untuk menggantikan goro-goro belakangan ini. Cerita ini mirip yang dikembangkan kaum Bathiniyah tentang Imam yang ma’shum.
Sebagai petani desa, Kakek banyak bercerita tentang filosofi alat bajak sawah. Semua unsur bajak sawah disebutnya satu persatu, dari mulai kajen, cekelan, singkal hingga racuk.
“Cekelan yang kamu pegang ini adalah pegangan hidupmu di dunia, sementara racuk yang di ujung sana adalah tujuan hidup yang paling sempurna,” ujarnya berapi-api. “Singkal yang di bawah ini adalah cara yang dapat diterima akal budi manusia,” lanjut Kakek. Aku hanya melongo mendengarkan tanpa tahu maksudnya waktu itu. “sementara pacul yng kakek pegang ini untuk membuang jauh-jauh segala sesuatu yang tidak sesuai. Bawak yang melingkar ini adalah obahing awak atau amalan masa hidupmu. Sementara doran yang Kakek pegang ini adalah dedonga marang pangeran, berdoa kepada Gusti,” sambungnya.
Kakek yang tak fasih berbahasa Indonesia, merasa telah cukup mengambil pelajaran dari alam. Menurutnya agama adalah pakaian dari orang-orang yang terhormat, sementara kakek menyebut dirinya hanya seorang petani. “Kakek bukan tidak butuh agama. Hidup kakek hanya berlandaskan tiga hal; keluhuran, kesejahteraan dan ilmu pengetahuan. Bila tidak memiliki satu di antaranya, habislah arti sebagai manusia,” nasihatnya waktu itu.
Terakhir kali kami kunjungi kakek terbaring tak berdaya di rumah adik pertama ibu. Tegap dan kekar tubuhnya masih tersisa. Matanya masih bercahaya. Kulit di pipinya masih terlihat kencang dan bersih tak tergambar seorang pria berumur 70-an. Bicaranya pelan, sangat pelan dan terbata. Daya ingatnya tajam, dengan mudah ia mengingat Wisnu, cicitnya, keponakanku.
Konon ia selalu bertanya tentang Wisnu, meski keponakanku itu hanya pernah berkunjung sekali. Pernah bu likku dibuat repot karenanya. Dalam ketidakberdayaan itu, kakek bersikeras ingin ke Jakarta, mengunjungi Wisnu, tetapi tubuh lemahnya yang mencegahnya. Sayangnya kepada Wisnu ia tunjukkan beberapa bulan lalu ketika kami berkunjung untuk menghadiri pernikahan adik wanita ibu yang terakhir. Seolah tubuh bocah lima tahun itu tak ingin dilepasnya. Wisnu sendiri merasa setengah risih dengn perlakuan itu. Ucapannya tak mendapat respon dari Wisnu. Sangat pelan dengan bahasa jawa yang tak akrab di kuping Wisnu.
***
Ibu masih tersandar mematung di sudut kursi hijau kereta. Tatapannya kosong. Di luar terlalu gelap untuk dipandang oleh matanya yang terlihat mengantuk. Hilir mudik pdagang menawarkan barang tak dihiraukannya. Kerut merut di kening sangat jelas terlihat. aku tak punya keberanian untuk mengajaknya bicara. Setetes airmata mengalir dari rongga pipinya. Tetes air mata itu coba dihapus dengan dengan punggung tangannya. Kali ini tatapannya masih dibuang keluar. Wajahnya beradu dengan jendela kaca. Suara sirene perlinatsan kereta tak jua membuatnya kaget.
Tak ada interaksi antara kami dengan penumpang lainnya. Gerbong ini sepi. Kursi di depan kami kosong, juga di samping. Di seberang depan kursi kami duduk seorang pemuda yang sedang mengepulkan asap rokoknya. Kursi panjang berkapasitas tiga penumpang itu didudukiya seorang diri, sama seperti kami. Aku coba merebaahkan diri di kursi panjangku dengan kepala diganjal jaket. Pedagang masih tetap tak tahu lelah yang menggelayuti kami. Disaat seperti ini aku sangat rindu kamarku. Meskipun tak pernah rapi, namun terasa nyaman.
Pukul dua dini hari ketika kereta transit di stasiun Tegal. Penjaja makanan berdesak masuk, melalui pintu selebar satu meter. Beberapa orang petugas kereta didampingi seorang polisi memeriksa karcis seraya mengingatkan waktu sahur. “Kereta berhenti dua puluh lima menit, sahur....sahur...” teriaknya mengisi lorong kereta. Aku pun bergegas turun mencari warung nasi. Makanan yang dijual di atas kereta tak mungkin cukup sebagai santapan sahur. Sejumput mie sebagai pelengkap segenggam nasi dihargainya dua ribu rupiah. Cukup mahal untuk porsi seperti itu.
Tak seperti dugaanku, ternyata di luar stasiun kota ini masih riuh kehidupan. Berjajar barisan becak selalu setia menunggu penumpang. Satu persatu pemiliknya mulai menyambangiku. Aku diam, tak sepatah kata keluar dari mulutku untuk menerima atau menolak ajakannyanya. Aku seolah merasa tidak asing di luar sini. Ada satu penumpang lain yang mmepunyai tujuan sama denganku, mencari santapan sahur. Orang yang tak kukenal ini mengajakku ke arah utara, sekitar 30 meter dari pintu stasiun. Tampak dari kejauhan kios makan padang bersebelahan dengan warung makan Tegal. Dua bungkus nasi aku pesan dari warung makan Tegal ini, sementara seorang teman yang tak kukenal namanya ini lebih tertarik dengan nasi Padang sebagai teman santap sahurnya.
Bungkus nasi kuletakkan di meja kecil di depan ibu. Kutawari dia. Tangannya membuka bungkusan itu. Santapan pertama sejak di rumah tadi langsung tersimpan di perutnya. Perlahan kunyahan demi kunyahan diresapinya. Sementara aku memilih untuk menunggu dekatnya waktu imsak. Kereta melaju seiring kegundahan ibu. Angin yang bertiup melalui jendela yang terbuka menghalau bau pesing yang menyeruak masuk dari toilet. Gerbong ini terus menguncang-guncang tubuh kami. Guncangannya mungkin sama yang dirasakan ibu saat menerima telepon tadi.
Lamunanku buyar ketika kereta berhenti di stasiun Comal, dua belas kilometer arah timur Pemalang. Santapan sahur ku buka. Porsinya cukup mengenyangkanku, meski ku tak yakin puasaku sampai hingga maghrib nanti. Dua jam lagi perjalanan ini berakhir. Hal yang sangat menjemukan untuk bertahan lebih dari dua jam lagi di sini.
Suatu yang paling menyenangkan jika tiba di stasiun Batang, kota setelah Pekalongan yang akan kami lewati, sebab lima kilometer setelahnya kereta akan melintasi pesisir pantai utara bertepatan dengan waktu matahari terbit. Aku pasti telah bersiap di sisi pintu yang selalu terbuka untuk menyongsong waktu itu. Pintu ini memang selalu terbuka, sebuah “keistemewaan” yang tak akan kita dapat di kereta kelas bisnis atau eksekutif. Deburan ombak menjilat-jilat bibir pantai. Bau amis penghuni laut tersapu laju kereta. Di batas cakralawa, surya mengintip melalu bilik-bilik awan yang menjingga. Semburat cahayanya menghampiri sesuatu yang tak tersembunyi. Di kejauhan bahtera di goyang angin, mencoba mengurungkan niat pemiliknya untuk mencari nafkah.
Di selatan berdiri kokoh bukit berdinding semak dan pohon-pohon nan lebat. Perjalanan melelahkan ini sejenak terlupa oleh satu-satunya fasilitas perjalanan kelas ekonomi ini. setelah melalui pemandangan menakjubkan ini tibalah waktunya kami turun di stasiun Wleri. Stasiun kecil di barat kota Semarang. Kami masih harus menyambung menaiki tiga kali angkutan desa untuk sampai di rumah kakek di desa pikatan, di balik punggung gunung yang tak pernah ku tau namanya. Namun, aku harus sabar menunggu dua jam itu.
***
Pijakan pertama kakiku menyentuh tanah becek, samping gapura desa. Sebuah desa santri dengan penduduk yang sangat agamis. Agak kontradiktif degan kakek yang abangan. Pesantren di desa ini baru berdiri sekitar 15 tahun lalu. Jauh sesudah kakek hidup, belajar dari alam dan berprinsip. Rumah kakek sudah terlihat di ujung jalan becek ini.
Di depan rumah sepi, tiada kesan rumah duka. Hanya kerabat yang menyambut kami, tanpa warga yang bergugur-gunung, tanpa sesepuh pengurus jenazah, seperti biasanya. Rangkaian bunga melati dikerjakan oleh sepupuku. Pak lik Yanto memotong kayu untuk dijadikan nisan di makam nanti. Praktis semua dikerjakan sendiri. Begitu masuk ruang depan ibu disambut sedu sedan keluarga besar kami. Suasana begitu diselimuti haru saat ibu menghambur ke tubuh jenazah kakek.
Di depan jenazah ada seorang yang belum kukenal, namun sepertinya seorang kiai, setidaknya terlihat dari identitas pakaiannya. Nenek dan Pak lik Gino sedang bercakap dengan kiai itu. Aku berinisiatif mengaji di depan jenazah kakek, sebagai bentuk dharma bakti terakhir. Pak Kiai mendekatiku seraya menepuk pundak kananku, “kakekmu orang baik, meninggal malam jum’at di bulan puasa,” ucap pria setengah baya itu setengah berbisik.
Nenek memperkenalkan orang ini kepada kami, “ini, Kiai Fachruddin, ustadz baru di pesantren depan,” ujar nenek. Aku ulurkan tanganku seraya menyebutkan namaku. Ibu masih memeluk kakek. Diusapnya wajah kakek yang pucat. Air matanya menitik, jatuh tepat di atas kapas di lubang hidung kakek. Ia menumpahkan segala kebekuan selama di perjalanan. Air mata terisak yang tak pernah memicu raungan tertumpah di depan enazah kakek.
Selepas shalat jum’at jenazah dihadapkan ke liang lahat. Kiai Fachrudin memberikan kesaksian bahwa jenazah kakek orang baik, karena meninggal di malam jum’at bulan puasa. Kiai Fachruddin meminta kesaksian warga untuk mendukung kesaksiannya. Warga yang didominasi santri itu terlihat malas-malasan menjawab dan tidak antusias mengatakan khair. Salah satu santri memberanikan diri berkata, “Mbah Djati bukan santri seperti kita kiai.”
Kakek diidentifikasikan sebagai orang non santri. Jenazah kakek dimasukkan ke liang pengasingan dari peradaban monolitis kaum santri Jawa.