Jumat, September 09, 2011

HUJAN

By: Mularto
Sore sudah menjelang ketika Najma memutuskan ingin keluar mencari udara segar.  Sita Resmi siang tadi memberinya petunjuk dimana saja ia dapat memperoleh kebutuhan sehari-hari, termasuk makan. Najma mengendarai mobil yang disewanya sejak tiba di Bali beberapa jam lalu, mobil sedan yang sudah cukup berumur meski tak terlalu tua untuk mengantar dirinya kemanapun ia mau.

Karena pekerjaannya, Najma pernah pergi ke berbagai tempat. Tak ada yang setenang ini sebelumnya. Saat mobil Najma terus terlonjak-lonjak karena lubang jalan, ia mengamati pemandangan. Di sana-sini tumbuh pohon akasia dengan bunga-bunga kuningnya yang sedang berkembang. Ternak merumput di dekat pohon delima yang batangnya digelayuti benalu yang terlihat lebih subur dari inangnya. Di dataran itu juga berserak-serak rumpun semak ilalang yang berayun-ayun dalam angin senja yang lembut. Langit senja yang tua turun ke bumi di atas sederetan pohon. Jauh di sana, tinggi di langit sana, seekor burung camar sedang terbang. Sedikit demi sedikit burung itu menjadi makin kecil, kecil dan kecil, sampai akhirnya ia menghilang di balik sebatang pohon beringin tua yang sangat besar. Mata Najma mengikuti burung itu sampai ia menghilang dari pandangan, kemudian mata itu kembali ke bumi diikuti oleh satu hentakan karena lubang jalan. Mobil meluncur pelan di jalan aspal yang sempit, di antara rumpun ilalang dan kanal irigasi di kanan-kiri jalan.

Najma semakin jauh menyusuri jalan sebelum akhirnya telinganya menangkap irama laut yang memesona. Najma menghentikan mobilnya. Jauh di depannya hamparan samudera Indonesia terbentang. Ia tak mungkin lagi bisa membandingkan bagaimana bisa tanah ini terus menahan gempuran ombak detik demi detik, jam demi jam bahkan berabad-abad lamanya. Najma bersandar di badan mobilnya, menghirup sedalam-dalamnya udara bercampur angin garam yang mengempas. Bayangan tubuhnya terdorong semakin panjang ke timur oleh cahaya senja yang renta. Ada ceruk beberapa meter jauhnya dari jalan, angin tak lagi lembut saat arak-arakan awan kelam menutup angkasa. Najma mendengar desahan dan erangan angin yang semakin kasar saat ia mencoba berjalan lebih jauh menyusuri tanah tipis berbatu yang sudah aus. Ia mendapatkan apa yang diharapkannya di sini, kesunyian. Najma memeluk kesunyian itu, di tanah lapang bersemak dengan irama ilalang yang bergesek diaduk-aduk angin.

Sementara itu angin timur semakin mengencang bertiup menerobos rumpun bambu, kadang begitu hebat, sehingga pucuk-pucuk teratas merunduk ke tanah. Sekejap awan-awan berubah menjadi lebih gelap. Gundukan-gundukan awan itu seperti kapas hitam raksasa yang terlihat lembut namun kejam bergerak menyebrangi langit dari timur ke barat. Kelihatannya seolah-olah gerombolan-gerombolan besar demonstran  sedang maju terdorong amarah menerima kekejian aparat yang dihadapinya. Dan sekonyong-konyong aparat-aparat yang tidak terhitung itu dengan kecepatan yang lebih tinggi mulai melancarkan serangan yang menggelegar dengan guntur-guntur dahsyat, hingga seluruh langit terbakarlah dari berbagai arah mata angin. Awan-awan tercabik berantakan, kekuatan pendemo terbelah dan tercerai- berai menjadi pecahan-pecahan ruang angkasa yang kecil, sebelum pemboman guntur yang mengerikan itu mereda. Namun, pertempuran jauh dari selesai karena segera setelah itu kekuatan-kekuatan yang tak kenal maut sekali lagi menyelubungi bumi dan langit dengan kegelapan yang pekat tak tertembus.

Dengan perasaan khawatir Najma kembali ke mobil. Ia memutar kunci mobil yang menyambutnya dengan raungan-raungan marah, ia mencoba lagi. Najma hanya disambut bunyi berderak kasar yang menambah kekhawatirannya. Seraya mengumpat geram, Najma keluar dari mobil dan membuka kap mesin itu, berharap satu sentakan keras dapat merubah tabiat mesin tua itu. Tapi tenyata, ini tidak seperti  televisi neneknya di desa yang dapat jernih gambarnya setelah digedor bagian atasnya. Ia tersenyum menyadari kekonyolannya.  Setelah menutup kap mobil, Najma mulai memandangi kanan-kiri jalan. Ia tersudut. Satu-satunya teman hanyalah geraman angin yang menerpa rambutnya. Tak ada lagi penawaran yang menarik yang datang dari kepalanya kecuali menunggu. Najma berharap sebuah tumpangan yang dapat mengantarkannya ke penginapan. Sepenggalnya waktu penantian tak berkunjung harapan. Najma mengambil senter dari laci dasbor dan mengikuti naluri. Ia berjalan setelah sebelumnya sempat membungkus dompetnya dalam kantong plastik hitam.

Jalanan semakin rumit dilaluinya dengan kegulitaan musim hujan, tapi ia harus terus berjalan mengikutinya kecuali ia ingin terjerembab di daerah tak bertuan. Batu-batuan  yang berserak tak beraturan semakin menyulitkan langkahnya. Kegelapan semakin pekat menyelimuti meski suasana tetap tak sepi. Dentuman-dentuman amarah guntur bersahut silih berganti. Kini tak lagi angin yang meniup rambut Najma, tetapi kegeraman badai mengoyak menyisiri rambutnya. Kabut tipis menjalar menutupi kakinya, sekarang ia hanya berharap kabut ini tidak menebal dan menutupi pandangan matanya  sebelum ia tiba di penginapan.

Badai terus mengamuk, menghebat dan keadaan yang menyiksa pun akan datang. Hujan turun makin lama makin deras. Taufan meraung-raung menghantamkan diri pada pohon akasia dan semak belukar seperti segerombolan setan yang sedang berang. Dan setiap terkena hantaman, pohon itu terguncang seolah-olah detik berikutnya pucuk-pucuknya akan mencium tanah. Terjungkal. Najma pun ketakutan dan meronta dalam ketiadaan daya. Apakah yang dapat diperbuat oleh seorang perempuan yang sendirian untuk menyelamatkan diri, sedangkan seorang pun tak ada yang dapat dimintai pertolongan, bahkan tak ada orang yang akan mendengarnya kalau ia memanggil.

“O, Tuhan,” demikan doanya. “Apa yang dapat diperbuat pada hujan seperti ini?” Doa ini untuk sesaat lamanya dapat menenangkan syarafnya. Tiba-tiba jauh di sana terdengar bunyi memanjang berdecit, kemudian bunyi sesuatu terjatuh berdebam. Godam yang besar agaknya sudah menghantam pohon akasia dengan lebih kuat lagi dari sebelumnya. Sekali pun ketakutan dan seluruh anggota badannya menggigil, dia paksakan untuk terus berjalan, seolah-olah dengan terus berjalan ia yakin akan ada yang bisa diperbuat, dibanding diam menunggu tanpa harapan.

Dalam sekejap saja ia telah basah kuyub mulai dari kepala sampai kaki, rambut, pakaian dan segalanya. Menggunturnya hujan di atas pohon dapat didengar di tengah lolongan angin ribut yang sedang berpesta-pora. Mereka menderas saja tanpa kenal ampun dengan membawa kengerian menimpa bumi dengan diiringi bunyi-bunyian aneh yang galak, terkadang meraung, terkadang menjerit, terkadang mendesis, terkadang melengking dan seringkali mengguntur dengan bahana maut yang dalam tanpa ampun. Najma tak mampu lagi mengenali dimana ia berada sekarang, dengan hanya mengandalkan cahaya senter yang biasa dipakai di dalam rumah.

Untuk mencegah agar tak tergelincir jatuh, Najma terpaksa bergerak perlahan dan terus memperhatikan jalan. Sedikit demi sedikit ketidaknyamanan menjadi kegelisahan, kegelisahan menjadi kekhawatiran dan kekhawatiran menjadi ketakutan. Sambil bersenandung tak jelas untuk mengusir kepanikan, Najma berkosentrasi pada cahaya senternya.

 Mendadak matanya menangkap sesuatu yang tersamar di kejauhan. Najma mengusap matanya dari tetesan air hujan dan melihat lagi. Cahaya. Sebuah kenyamanan, pikirnya. Jika itu sebuah rumah, berarti kehangatan dan tempat berlindung. Najma melangkah tanpa ragu ke sumber cahaya itu.

Tempat itu cukup menguras energi Najma untuk ditempuh dalam keadaan payah seperti ini. Ingin rasanya ia menyerah dan kembali ke mobil menunggu badai reda. Tapi Najma coba berpikir, apa yang bisa dilakukannya di sana, menghabiskan malam yang basah, menggigil dan ketakutan. Cahaya di kejauhan tak berkedip, membantunya meyakinkan diri akan keselamatannya. Najma tak mau lagi gamang ditengah kondisi seperti ini, tetapi mempercepat langkahnya secepat yang bisa dilakukannya.

Ia mulai berkhayal tentang penghuni yang ramah pemilik cahaya itu. Seorang wanita paruh baya seperti Sita resmi yang menawarkan kehangatan teh dengan aksen bicara Bali  yang kental. Tepat ketika guntur kembali menggelegar, ia telah menaruh banyak harap pada wanita khayalannya itu.

Bangunan  rumah itu tak tampak seperti rumah Bali pada umumnya. Tak ada relief  atau ukiran Bali, tak ada bata merah yang tanpa acian, tak ada komboja Bali. Hanya berpagarkan pohon teh-tehan dan bercat putih yang mampu ia kenali lewat cahaya senternya saat ia mulai mencari-cari daun pintu. Najma menemukan pintu yang terbuat dari kayu nangka tanpa cat dan menggedornya. Gedoran pertama hanya tertelan oleh gemuruh hujan dan angin yang terus mengeluarkan amarahnya. Ia menggedor lagi, berharap perjalanan sejauh ini tak sia-sia. Wanita itu pasti ada di dalam, pikirnya sambil menggedor-gedor pintu, mungkin sedang menjahit, meyulam atau bermalas-malasan di atas kursi goyangnya.

Pasrah, Najma tak tahu harus berbuat apa lagi kecuali tetap menggedor pintu itu. Hingga ia terjerembab duduk bersandar membelakangi pintu itu. Tetesan demi tetesan air yang membasahi rambut mampu ia rasakan mengalir membasahi punggungnya saat ia masih terus coba menggedor, meski saat ini hanya menjadi ketukan. Najma bersimpuh mendekap kakinya. Ketakutan, dan kePutusasaan membuatnya tak mampu lagi membendung air mata yang sedari tadi ditahannya. Ia menundukkan kepalanya bersandar pada kedua lutut kakinya sesaat sebelum tubuhnya terjungkal kebelakang bersamaan dengan berdecitnya bunyi engsel pintu. Pintu terbuka. Bahu Najma ditopang sepasang tangan kekar saat ia terhempas kebelakang.

“Syukurlah,”  Lontaran keterkejutan yang diucapkan Najma sebelum sempat dirinya berdiri. “Maaf aku mengganggumu,” Najma menghela napas, mencoba menenangkan diri setelah apa yang dilewati sebelumnya. Tangan, bahu, kaki dan seluruh tubuhnya bergetar menahan dingin yang seolah sudah meremukkan tulangnya. Bibir tipis yang terlihat selalu mengembang sekarang terlihat mencibir seolah merapalkan mantera yang berulang-ulang. Sweaternya luluh lepek dengan noda-noda tanah liat di sana-sini. Matanya yang teduh sekarang menatap lelaki pemilik tangan lembut itu.

Ternyata lelaki, pikirnya dalam kedinginan yang amat sangat. Sempat Najma tersenyum ketika memikirkan kombinasi apa yang dipikirkan sebelumnya dengan kenyataan di hadapannya. Seorang lelaki muda berusia akhir dua puluhan yang sedang mendengar radio tua miliknya sedang duduk dikursi goyang sambil merajut sesuatu. Pasti sungguh aneh jika memang ada baginya. Pria ini tak terlalu tinggi, tak melebihi tinggi tubuhnya, meski juga tak kurang dari dirinya. Matanya tajam menatap penuh curiga, seperti ingin menginterogasi maksud kedatangan Najma. Air muka yang tenang dengan hidung yang tak terlalu menjorok ke depan, tapi tak berarti pesek. Kumis yang dicukur habis sehingga hanya terlihat arsiran abu-abu di bawah hidungnya.

Pria itu membantu Najma yang masih gemetar untuk berdiri. “Ada apa nona mengganggu saya dimalam badai seperti ini?” Pria itu membuka bibirnya yang sedari tadi terkatup.

“Tidak bisakah anda lebih bersimpati sedikit melihat wanita yang sedang hypotermia di tengah badai?” gerutu Najma ketus. Ia kesal. Sendiri di tengah tempat asing yang sama sekali tak dikenalnya, dengan terdorong oleh angin yang mampu menjungkalkan apa saja yang tabraknya,  amarah hujan yang tak kunjung reda, basah, gemetar dan terdampar di rumah seorang pria yang tak memiliki rasa simpati dan acuh seperti ini. Terbuat dari apa manusia ini, pikirnya. “Apa saya mengganggu tidur anda?” ucap Najma lebih ketus dari sebelumnya. “Aku tersesat, mobilku mogok di ujung pertigaan sana,” katanya coba meraih simpati.

Pria itu tak cepat menanggapi. Namun ia mengangguk sebab naluri menuntunnya begitu. “Bagaimana bisa?” sebutir kalimat itu membuat Najma bertambah jengkel. Dengan nada agak acuh Najma diam. Pria itu memandanginya beberapa saat sebelum mempersilahkan Najma duduk di kursi tamu sederhana berwarna marun.

“Sebentar !” pria itu masuk ke dalam meninggalkan Najma yang masih gemetar menahan dingin. Apa yang harus aku lakukan dengan wanita hypotermia ini? Pikirnya dalam hati sambil berjalan menuju kamarnya. Pintu lemari berdecit saat dibuka olehnya. Satu persatu pakaian dipilih dicari yang sekiranya pantas untuk dikenakan oleh wanita asing yang terdampar dirumahnya itu. Sulit juga mencarinya, sampai ia menemukan baju kakak wanitanya yang beberapa bulan lalu berkunjung ke rumah itu. Mungkin ini cocok, gumamnya dalam hati. Setelah menyambar handuk putih dari dalam lemari pria itu membawanya ke ruang tamu, melemparkannya ke sisi Najma. “Nona bisa menggantinya di kamar mandi di sudut dapur sebelah kanan, saya akan antar,” ucapnya tegas.

Najma tak mengucapkan terimakasih untuk membalas perlakuan orang ini. Setelah menyambutnya dengan tidak ramah, pria ini melemparkan begitu saja pakaian di hadapannya. Jika tak sedang butuh sekali malas sekali rasanya bertemu dan meladeni orang seperti ini, gerutunya dalam hati. Dari sikapnya, mungkin ia tumbuh dari masyarakat yang terlainkan, dan karenanya menanggung juga ciri kepribadian yang khas, lebih tepatnya aneh, pikirnya. Najma mengikutinya langkah demi langkah pria itu dari belakang menuju tempat yang ingin ditunjukkan. Dari belakang pria ini seperti orang yang pernah dikenalnya, entah siapa. Rambutnya terlihat baru dipangkas beberapa hari lalu, potongannya rapi dan tak banyak macam-macam.

Lantai yang baru  dilewati Najma basah tertetesi air dari sekujur tubuhnya, tak terkecuali kursi yang baru saja ditinggalinya. Najma sedikit melangkah berjingkat menghindari licin melewati ruang makan dan ruang bersantai. Kesan berantakan langsung terlihat, sendok yang sudah tersisih dari atas piring bekas makan malam terhampar begitu saja. Tumpukan kertas dan alat tulis saling berdampingan dengan gelas minum yang setengah terisi. Tiga buah buku tak seberapa tebal berserak di sudut meja makan itu dengan alas kaca yang buram. Hanya beberapa langkah sebelumnya Najma melewati ruang bersantai yang tidak berpartisi dengan ruang makan. Keadaanya tidak lebih baik dari ruang makan, bantal yang masih berserak di depan televisi yang masih menyala dengan suara rendah. Buku-buku lebih berserak di situ, didominasi oleh bacaan politik. Ada beberapa judul yang ditangkap mata Najma;  sosialisme religius, biografi politik Sukarno dan beberapa novel karya Dan Brown.

“Namaku Najma,” celetuknya dalam langkah yang berjingkat di belakang pria itu. Ia tak habis pikir, ia telah menghabiskan sekitar sepuluh menit waktunya di rumah ini tanpa tahu siapa nama pemilik rumah. Sedari tadi ia berharap lelaki ini yang lebih dahulu mengeluarkan kata-kata yang diharapkannya, setidaknya sekedar menyebut nama. Najma sendiri ragu di awal penyebutan nama tadi, haruskah menyebut nama di depan - atau lebih tepatnya di belakang posisi berdirinya- orang yang kaku dan seolah tak perduli siapa lawan bicaranya.

“Aku Langit,” jawab pria itu tanpa menoleh. “Ini kamar mandinya, silahkan” ujar langit sambil langsung berbalik arah meninggalkan Najma yang masih terheran-heran mendapat perlakuan tak biasa di malam yang tak biasa pula.

Najma memasuki kamar mandi setelah membuka pintunya terlebih dahulu. Warna biru mendominasi di sini. Porselen berukuran kecil di susun mozaik dan acak dengan gradasi biru menempel di separuh bagian dinding. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat bak mandi setinggi pinggang yang tak terlalu besar, berwarna biru langit. Tepat berhadap-hadapan dengan pintu masuk, sebuah kloset duduk berwarna biru laut yang terlihat terawat dengan baik. Meski tak terlalu besar, secara keseluruhan kamar mandi ini bersih dan tak mengecewakan baginya. Sebelumnya ada perasaan khawatir akan keadaan kamar mandi setelah melihat ruang bersantai dan meja makan tadi. Najma tipe yang cukup pemilih untuk memasuki kamar mandi, sesulit memilih jodoh baginya. Tapi, apakah ia punya pilihan dengan kondisi kamar mandi dalam keterisolasian badai ini? Ini semua melebihi bayangannya, meski tak ada bathtub dan air panas. Ini bukan hotel, gumamnya menghibur diri.

Ia melepas pakaiannya, mengamatinya lagi sekilas lembar demi lembar pakaiannya yang sudah tertanggal, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilewatinya. Badai yang tak kenal ampun, guntur yang terus menyalak disertai petir yang membelah kegelapan, angin yang terus mengaduk-aduk rumpun semak, dentuman pohon yang terjungkal hingga ia terdampar di tempat manusia kaku tanpa senyum.
 Originally By : Langit Mularto..

Ilustrasi ; berandahati.com
                fineartamerica.com
                rumahhangat.wordpress.com

Rabu, Agustus 03, 2011

PULANG

BY: MULARTO

Muntamah, seorang janda, sedang duduk di beranda. Ia sedang sarapan pagi yang berupa nasi liwet, ditemani anak tetangganya yang berusia enam tahun, anak perempuan Harsono satu-satunya. Anak itu hanya diam termangu, dengan matanya yang cantik terbuka lebar penuh ingin, mengikuti gerakan tangan wanita tua itu menyuap sisa nasi yang tak seberapa. Ketika akhirnya nasi itu habis tak bersisa, perempuan itu memandang dan berseru kepadanya, “Oh Tuhan... Nak, tak ada lagi buat kamu! Sama sekali tak punya pikiran aku ini.”
Namun, tidak lama. Ibunya memanggil dari dalam rumah, “Buat apa kamu berlama-lama di situ? Masuk sini!”.
Muntamah menjawab, “Tak apa, Ratih. Biarkan ia duduk-duduk di sini denganku. Desi sama sekali tak menggangguku.”
“Jangan!” kata Ratih ketus. “Tidak baik seperti itu, Desi mengamatimu penuh ingin waktu makan. Saya tidak senang anak saya seperti itu. Ayo, cepat masuk, Desi.”
Anak itu bangkit dengan takut dan bingung, lalu masuk ke dalam rumah.
Satu dasawarsa lalu, Harsono datang ke tanah ini membangun sebuah rumah kecil, di sisi bangunan reot Muntamah. Harsono bekerja di kota besar sebagai pesuruh dan hanya mampu pulang tiga bulan sekali. Ia mempunyai anak perempuan kecil, Desi. Muntamah senang sekali dengan anak itu. Ia tak menginginkan kegembiraan yang lain lagi dihidupnya yang miskin ini. Desi adalah jalan untuk membuatnya bahagia dan senang, di masa hidupnya yang tak tersisa banyak lagi.
Tetapi jalan kebahagiannya itu tak selalu mudah terlaksana. Istri Harsono seorang yang cantik, dengan sikap yang tak pernah menentu. Ratih tidak begitu senang melihat perempuan tua itu. Muntamah adalah tetangga terdekat keluarga itu. Harsono selalu berbaik hati pada janda renta itu, namun tidak bagi Ratih. Baginya, Muntamah hanyalah seorang wanita tua yang sekedar biasa duduk di teras rumahnya dan menghabiskan sebagian makan keluarga mereka. Sebenarnya banyak tetangga yang silih berganti menanggung hidupnya, tapi Harsono merasa mempunyai tanggung jawab karena wanita itu hidup di depan matanya.
Minggu-minggu ratih banyak dihabiskan bertengkar dengan nenek tua itu meski disebabkan oleh perkara yang sepele. Seringkali akibat pertengkaran itu Muntamah mengancam akan pergi dari rumahnya sendiri dan berkata “Nyonya Harsono, aku akan pergi. Entah apakah aku akan kembali atau tidak ke rumah ini lagi.” Meski setelah kata-kata itu terucap ia merasa sedih dan berat menggelayuti kakinya untuk melangkah.
Biasanya, Muntamah hanya melewatkan sepanjang harinya di pos ronda di sudut desanya. Menjelang senja mengintip, Desi yang menyadari ketiadaan wanita tua itu mulai menjemputnya, menarik lengan wanita renta itu. “Nek, pulanglah. Nanti saya bilang Ibu untuk tidak bertengkar lagi dengan Nenek. Ayolah Nek, pulang!” Dalam temaram petang itu kembaliah ia ke rumah dalam cengkeraman lengan anak itu.
Ratih dengan judes menolehnya jika Muntamah telah kembali dari pengembaraan sesaat itu. “Hmm... kembali juga si tua itu rupanya. Mungkin sudah tak ada lagi piring-piring yang tersedia di rumah tetangga untuknya. Dasar tak tahu malu.”
Di sisi utara rumah Harsono itulah wanita tua itu tinggal. Di sebuah gubuk beratap seng yang lebih banyak titik bocornya di sana-sini. Hari-hari Muntamah dihabiskan di depan mesin jahit. Tak jelas apa yang dijahitnya, hanya gombalan sobek yang dibuatnya menjadi alas tidurnya. Sekali waktu dibongkarnya kembali jahitannya itu dan coba kembali disusunnya. Di satu sudut dari ruangan itu terhamparlah tikar plastik yang sudah usang dan sejumlah selimut wool yang kusam. Tempayan yang menjadi kebanggannya dipenuhi beras pemberian tetangga. Di sisi-sisi tempayan itu berturut-turut sebuah jambangan yang berisi minyak sayur dan kemudian garam serta gula.
Hampir tak pernah Ratih menginjakkan kakinya di gubuk wanita tua itu, meski hampir setiap senja Desi hadir di sana dan duduk berjam-jam untuk mendengarkan dongeng-dongeng Muntamah. Sering Desi sudah mendengar cerita yang sama berulang-ulang tanpa rasa bosan. Tapi seringkali gadis kecil itu yang memaksa cerita yang berulang.
Bagi Muntamah, bertahun-tahun ia tak menemukan lawan yang gigih untuk mendengar dongeng masa mudanya, dan sekarang ia bisa mengulang ingatannya yang berserak di tepi kepalanya, dengan cara inilah ia menjadi tidak pikun. Di tengah cerita, seringkali Muntamah menatap senyap kepada anak ini dengan senyum bahagia. Hingga menjelang malam Desi segera bangkit menyadari akan ada teriakan dari ibunya kalau ia tak segera bergegas.
Suatu pagi di akhir bulan Juni yang ramah, seorang wanita bernama Titi yang memiliki warung kecil di pertigaan jalan desa itu datang menghampiri pekarangan Ratih yang sedang menyapu dan berseru kepadanya. “Ratih, kamu harus membayar aku dua puluh ribu rupiah.” Katanya ketus, “aku ke sini untuk menagih hutang wanita itu yang telah mengambil sejumlah barang dariku. Katanya, aku bisa menagihnya padamu.”
Senyum yang semula bersahabat di bibir Ratih sekejap memudar berganti seringai kesal. Di hadapannya sekarang adalah Titi, seorang pemilik warung yang terkenal kikirnya. Ratih semakin menjadi kekesalannya ketika Titi makin mencibirnya, “Apa kamu kira aku bohong? Coba tanya ke wanita tua itu, kalau kamu tidak percaya padaku.”
Ratih marah sekali, sehingga hanya dapat tercenung tanpa berkata-kata, lalu pergi ke gubuk itu melabrak Muntamah. “Nenek tua!” Kecamnya. “Apa kamu pikir mencari uang itu mudah? Titi bilang kamu membeli sejumlah barang darinya. Apa saja barang itu? Hari ini dua puluh ribu, kemaren lima ribu, minggu lalu dua belas ribu lima ratus. Apakah kamu pikir aku akan begitu mudah mendapat uang untuk membayar sesuatu yang kamu beli? Kamu tidak malu membeli bukan dengan uangmu sendiri?”
Wajah tua Muntamah yang berkerut sekejap pasi dan semakin mengkerut. “Aku tak akan lama lagi di sini, tolonglah dibayar. Hanya untuk kali ini.”
“Uang, uang dan uang. Selalu itu yang kamu kuras dariku. Tak pernahkah kamu berpikir yang menyenangkan kami? Bukankah kamu punya panci, piring, gelas yang bisa kamu tukarkan? Kenapa kamu tidak menjualnya?”
Desi yang mendengar pertengkaran itu dengan segera berlari menuju warung Titi. “Nenek itu sudah sangat tua. Ia sudah merepotkan ibu Titi. Dengarlah bu, aku punya sepuluh ribu rupiah dalam kotak rahasiaku. Saya akan memberikannya kepada ibu jika semua sudah tidur. Tapi Ibu harus berjanji tidak mengatakan ini pada Mama, aku ambil uang itu malam nanti tanpa sepengatahuan Mama dan akan aku bawa ke Ibu.”
Matahari belum tepat di atas kepala saat Muntamah meninggalkan rumah. Tangan kanannya yang renta memegang kantong plastik merah berisi selimut, sedangkan tangan satunya tampak tergopoh memegang jambangan yang entah apa isinya.
Desi meneriakinya, “Nenek, jangan pergi meninggalkan kami. Jangan. Kemana Nenek akan pergi?” Anak itu berlari mengejar wanita tua itu dan menarik-narik lengannya. “Kalau Nenek pergi, aku akan menangis.”
Ratih yang melihat semua itu berteriak dari beranda. “Pergilah jika itu inginmu. Tidak ada yang akan menahanmu.” Perempuan tua itu tiada menoleh sekalipun Desi berlari sepanjang jalan setapak itu dengan isak yang masih tersisa. “Tak usah kau kejar Nenek itu Desi. Jika ia tau berterimakasih tak seharusnya ia berbuat seperti itu. Hidupnya selama ini telah ditanggung ayahmu. Semestinya ia pertimbangkan itu semua.”
Banyak tetangga yang bersimpati padanya dan ingin menampung di rumahnya. Sempat Muntamah tinggal seminggu bersama keluarga Widodo, di barat desa, kemudian ia berpindah ke rumah Hartaji, dan sesudah itu ke rumah keluarga Putu. Mereka mula-mula menunjukkan kebaikan yang luar biasa, namun sambutan selalu berubah menjadi hambar setelah minggu demi minggu berlalu, hingga dengan berbagai cara, rasa bosan mulai ditunjukkan kepada wanita itu. Setiap awal minggu ia berharap Harsono datang menjemputnya dan memintanya pulang, tapi tak seorangpun datang, bahkan Desi pun tidak. Wanita tua itu coba meyakinkan dirinya bahwa tak mungkin anak seumurnya berjalan jauh dari rumahnya untuk mencarinya. Sekali-dua ia sengaja melintas di depan rumah keluarga Harsono dengan harapan anak itu melihatnya, namun, sekedipan matapun ia tak menjumpainya.
Ia mulai sadar, tak ada yang dapat menampungnya lagi karena semua dari mereka tak ada hubungan kekerabatan yang dekat, tak ada yang mau menerima orang lain di rumahnya sepanjang hidupnya. Di desa tetangga ada sebuah pondok beratap ilalang di sudut utara desanya. Pondok di tengah ladang milik keluarga Warsidi, tetapi sekarang sudah kosong. Pondok itu kecil sekali. Dindingnya terbuat dari gedek bambu dan letaknya persis di tengah ladang dan terpisah dari rumah-rumah yang lain.
Beberapa tetangga masih sesekali memberinya makan, meski tak serutin dulu. Tetangga yang lain coba merayu Ratih untuk mengajak wanita tua itu pulang. “Aku tak peduli. Apapun yang terjadi aku tak akan menerimanya kembali di sini.” Selalu ucapan nyinyir itu yang terucap di bibir Ratih. Hari-hari pertama, beberapa keluarga telah berniat baik mengiriminya segala sesuatu yang mungkin diperlukannya, tetapi sedkit demi sedikit minat mereka itu menyusut, dan mulailah perempuan tua itu kekurangan. Wanita tua itu mulai meratapi kesulitannya. “Tak ada yang menyuruhku pergi dan Desi pun menangis sambil menahanku.” Air mata menuruni pipinya yang cekung.
Matahari menyengat di bulan Juli yang panas. Udara terasa pengap di dalam rumah, sekalipun menjelang sore angin mulai bertiup hanya sedikit saja menyingkirkan panas yang masih banyak tersisa. Muntamah telah berjalan keliling desanya berpanas-panas dengan pengembaraan yang berujung keputus-asaan dari rumah ke rumah, dan ketika ia kembali ke pondok senja hari, ia menderita demam. Ia menggelar tikarnya di halaman pondoknya yang teduh dengan tenang. Di dekatnya kepalanya terdapat poci tanah berisi air. Demam telah membuatnya begitu haus hingga ia beberapa kali meneguk air dari poci tersebut.
“Nek!” Muntamah menoleh dan mengangkat kepalanya akibat seruan itu. Desi datang dengan membawa sesuatu terbungkus dalam kain. Lemah sekali sahutan Muntamah menjawab panggilan anak itu, tetapi ia masih sanggup mengulurkan tangannya yang kurus itu kepada Desi dan mendekapnya dengan kasih sayang. Desi membuka bungkusan kain itu. “Ini kue talam, nek. Aku membelinya di pasar dekat rumah pagi tadi.”
Muntamah duduk tegak lalu mulai menyentuh kue yang dibawa Desi dengan tangannya yang lemah. “Coba nenek lihat,” katanya lemah. “Darimana kamu dapatkan semua ini, sayang.”
“Aku menabung seminggu ini, Nek,” ucapnya lirih. “Nenek makanlah!” Ketika percakapan itu mengalir beberapa saat, Desi baru menyadari sesuatu, “Nek, badanmu panas sekali.”
“Sepanjang hari ini aku berputar-putar keliling desa. Oleh karena itu badanku sedikit demam. Biarlah aku berbaring sebentar.”
Desi hanya seorang anak, namun ia begitu tahu apa yang menyebabkan neneknya bepergian di bawah terik mentari. Ia membelai tubuh tua itu dengan penuh kecintaan yang kini mengkerut karena kesulitan dan kemiskinan. “Nenek pulang ya!” katanya, “tak ada lagi yang mendongeng di senja hari. Pulanglah Nek!”
Muntamah gembira sekali mendengarnya. Memang itu yang diharapkannya selama ini, hingga ia tak dapat menyembunyikan gelembung bahagianya itu. “Ibumu telah memintaku pulang?” katanya bersemangat.
“Tidak, Nek,” jawab Desi. “Tapi meski begitu, pulanglah Nek. Ia akan memaafkan semuanya. Nenek harus bicara padanya.”
Desi pulang diiringi lembayung senja dengan kegembiraan menunggu esok hari yang dijanjikan Muntamah untuk kembali ke rumah.
Malam itu seorang datang dari sisi lain dengan tergopoh-gopoh membawa pesan untuk Harsono. Namun tak dijumpainya Harsono di rumah itu, hanya Ratih yang memandangnya dengan penuh tanya. “Di mana suamimu? Apa dia tidak ada di rumah? Nenek itu... Ia sudah berkeliaran sepanjang hari di bawah panas matahari, kini ia hanya terbaring saja di luar pondok di tengah ladang Warsidi.”
Beberapa tetangga sudah berada di pondok yang hanya diterangi sentir. Satu-dua orang duduk di dekat wanita tua itu dengan menggosokkan minyak pada dada dan punggungnya. Muntamah membuka mata, tetapi hanya tatapan kosong tanpa daya yang dihasilkannya ketika ia menoleh ke beberapa orang itu. Warsidi menuangkan sedikit air ke mulut wanita itu, tetapi tak sedikitpun terhisap ke dalam mulutnya.
Wanita tua itu semakin tenggelam dengan cepat dalam ketiadaan. Warsidi menutupkan kelopak matanya yang mengalir sebutir air mata dari ceruk matanya yang cekung dan terus turun ke pipinya yang berkerut. Hingga kemudian Muntamah menuruni jalan yang belum pernah ia injak sebelumnya. Jalan kembali padaNya.



Jatinegara, 27- Juli- 2011

Jumat, Maret 04, 2011

PUAN dan TUAN

By; MULARTO
Sangat tidak gampang, dan sekali lagi sungguh sulit mempercayai apalagi mencintai partai politik di Indonesia. Meski di awal mereka-mereka sangat memberi harapan, membuat mimpi-mimpi kita bertambah menunya. Seluruh harapan dari yang termewah hingga tertinggi kita gagas dengan mempertaruhkan nasib kita. Ketika kemudian pada suatu hari harapan itu melambai terbawa angin, sebagian kita hanya mampu mengeluh dan sebagian lainnya mengumpat. Namun toh kepercayaan kita kepadanya tak kunjung surut. Maka betapapun memuakkan partai-partai, yang kita lakukan adalah justru memperbesar rasa percaya kita kepadanya.
Saya hanya ingin memberi sebuah gambaran bahwa di semua bidang dan setiap pendidikan, sangat banyak di antara kita yang bermain-main dengan nasib bangsa kita sediri. Dan yang paling menjengkelkan adalah bahwa yang dipermainkan adalah nasib rakyat, dengan subjek utama adalah kekuasaan. Sangat tidak logis bahwa ada sejumput manusia yang meyakini bahwa ia memegang kekuasaan dan lantas memain-mainkan kekuasaan itu tanpa pernah puas. Termasuk mengutak-atik kue menteri hanya untuk transaksional politik.
Reshuffle mungkin saja bukan penerapan kekesalan SBY. Peralihan jabatan menteri mestinya bukan sesuatu yang emosional, yang menyangkut like and dislike untuk menyingkirkan musuh dan merangkul calon kawan. Reshuffle seharusnya juga bukan bagaimana mendukung orang kita sendiri dan menumpas kelompok lain. Terkecuali kita ingin membentuk budaya kuasa yang dengan sengaja mempertahankan ketidakdewasaan dalam memahami hakiki kehidupan manusia.
Reshuffle yang dewasa adalah peralihan tugas yang berfokus pada objektivitas berpikir tentang apa yang terbaik bagi kesejahteraan seluruh bangsa. Reshuffle yang baik dilihat dari hasil-hasil kerja yang adil dari suatu mekanisme sistem demokrasi. Tidak berlatar-belakang dengan apakah si calon penerima jabatan yang baru nanti anak ketua umum partai, atau teman yang telah berjasa selama masa kampanye. Reshuffle yang arif adalah pemihakan terhadap kemungkinan kedepan yang terbaik bagi nasib seluruh bangsa.
Bangsa ini sudah terbiasa selalu menengok sejarah, hingga kalau ada seseorang yang menonjol di masyarakat, yang pertama-tama ditilik adalah, siapa bapaknya? Sedemikian pentingnya sejarah asal usul dan ilmu asal usul. Mungkin karena setiap peran sejarah membutuhkan identifikasi yang mendasar dan lengkap. Siapakah Puan? O, beliau putri Megawati, presiden kelima Republik ini. Beliau juga cucu Bung Karno, presiden pertama Republik ini. Dalam artian silsilah kuasa Bung Karno belum selesai.
Saya begitu yakin, bahwa PDIP yang paling menunjukkan identitasnya sebagai partai oposisi, yang memakai label demokrasi sebagai wajah utamanya, selalu ingin berkubang keringat bersama pendukungnya. Dan saya –sebagai rakyat non simpatisan- berharap bahwa Puan bukanlah Tuan. Meski kekuatan dan kelemahan Puan adalah bahwa ia putri Megawati dan cucu dari mendiang Bung Karno. Jika menilik ilmu ginekologi, kita akan berpikir justru karena ia anak Megawati dan cucu Bung Karno maka terdapat kapasitas dan kualitas yang bisa memenuhi harapan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Partai seharusnya menetapkan benang merah komitmen oposisi atau koalisi. Kalau partai lain bicara muluk tentang angka statistik pendapatan perkapita dan angka kemiskinan, harus ada partai langsung mencium keringat buruh dan manusia-manusia bantaran sungai dan pinggir rel kereta sebagai muntahan-muntahan kebobrokan zaman. Setiap ada kesemrawutan sistem politik, atau berlangsung manipulasi angka dan pekikan dan desahan ketidakadilan sosial dan kultural selalu menjadi komoditas partai oposan untuk maju mengkritisi.
Seharusnya partai bukan partai setengah-setengah, yang tak sunguh-sungguh melihat potret nasib rakyat yang selalu menjadi oposan terhadap pimpinannya sendiri. Partai seharusnya juga partai yang identitasnya jelas dan tegas yang mem”bantengi” dirinya dengan realitas budaya politik oposan. Memang kita punya idealitas bahwa acuan partai hendaknya bukan lagi baju dan latar belakang primordial, melainkan rasionalitas aspirasi dan program-program.
Kita memilih ada partai-partai transaksional yang kemudian didisiplinkan untuk nasionalisme oleh sejarah. Kemudian pilihan kita jatuh pula pada partai-partai yang demokratis tetapi realitasnya mengabdi tidak saja kepada golongannya melainkan juga harus dilengkapi dengan kepentingan kelompok kecilnya, bahkan kepada keperluan karier politik pribadi.
Diangkat-angkatnya Puan untuk menjadi kandidat –meminjam istilah Ahmad Mubarok- menteri ringan bisa kita anggap sebagai potret lugas dari natural politik pencitraan bangsa ini. Jika Puan dengan begitu saja dibawa Tuan, maka si Tuan akan menentukan akan dibawa lari kemana Puan, Karena jika Puan suatu saat langkahnya ingin mengikuti “garis kongres” (oposisi) maka siap-siap akan diusir dari Tuan yang mempekerjakannya.
Jadi silakan PKB, PPP dan PAN menghuni koalisi dan nyaman dari perombakan kabinet. PDIP tak usah ikut-ikut capek merebut kue kecil itu, tugas mereka adalah menjadi pemain bebas di lapangan untuk mengembangkan hak asasi politik bangsa agar tidak begini-begini saja. Dan harapan sekaligus pesimisme saya kembali muncul mengingat bangsa ini telh terbiasa mempunyai sifat multipolar. Seandainya pagi ini tidak, lihat saja nanti sore. Jadi jangan kaget jika kita melihat mata banteng yang telah membiru.