Senin, April 02, 2012

TAMU

By : Langit Mularto

Sekarang ini, bacaan sebelum tidur Najma adalah sebuah karya Bibhutibhusan Banerji. Pater Pancali. Kehidupan dua orang anak bernama Apu dan kakaknya, Durga, dengan setting India pada pertengahan 1800-an. Petualangan seorang anak yang begitu alami, hingga petualangan itu membawa Apu keluar dari desanya mengikuti ayahnya yang seorang pendeta Brahmana untuk mencari nafkah. Hal yang kemudian tidak pernah dirasakan Durga -sebagai anak wanita- yang hanya bisa berpetualang di hutan desa.

Sekarang sudah hampir tengah malam. Terlalu banyak yang ia alami hari ini dan membuat tubuhnya begitu lelah hingga Najma melupakan rasa laparnya. Rasanya perlu melahap makanan ringan sebelum tidur. Camilan terbaiknya adalah apel yang dibelinya siang tadi.

Dalam kamarnya, Najma bersandar pada tumpukan bantal yang lembut. Kepalanya menghadap pintu, membentuk sudut empat puluh lima derajat dari dipan. Ujung kaki-kakinya menyentuh lantai. Tangan yang kiri terlentang dan yang kanan lebih dekat dengan tubuhnya. Sambil bersandar di bantal-bantal itu, Najma merasa seperti kembali ke tempat tidur masa kecilnya dulu, ketika itu ia hanyalah seorang anak kecil yang berusia delapan tahun yang tak dapat menutup matanya meski telah mengantuk, sementara jemarinya terus memilin-milin ujung bantal. Beberapa dari pertengkaran yang tak berkesudahan yang terdengar samar-samar dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan dari bulan ke bulan, lama kelamaan membentuk sesuatu di bawah sadarnya. Awalnya hanya sebagian kecil yang dapat dipahaminya, tetapi setelah rutin didengar tiap malam, jadi tak terlupakan hingga kini.

Malam itu, Diah Prameswari, ibu Najma terisak dengan sedan. "Mereka kan anakmu, tak pedulikah kau? Tak sayangkah kau pada mereka?"
"Dengan keadaan begini, terus terang aku tak peduli. Kau menginginkan kebebasan, aku juga," jawab ayahnya, Zulfikar.
"Baiklah, kita bagi. Aku bawa Najma, kau bawa Aulia."
"Tidak bisa begitu, bukan itu masalahnya. Suruh saja ayah anak itu, kalau kau tahu siapa ayahnya. Silakan suruh lelaki itu bawa Aulia. Aku takkan menghalanginya. Anak itu sama sekali tak mirip aku," teriak Zulfikar.

Najma ingat, awal pertengkaran besar itu bermula dari kedatangan wanita muda bernama Gadys.
"Ibu...ibu...," seru Aulia Ramadani mencari Diah yang sedang di dapur membuatkan sup untuk Najma yang sedang demam seja pagi.
"Ada apa, Lia?" tanya Diah menjawab panggilan anak sulungnya dengan senyum.
"Ada tamu yang mencari ayah," jawab Aulia, sambil menarik lengan ibunya menuju ruang tamu.
"Tamunya sudah dipersilahkan duduk?" Diah seperti tergopoh mengikuti tarikan anaknya.
Ya, sudah bu.”
 “Kalau gitu, ibu akan ganti baju sebentar, kamu bisa menemaninya dulu, kan?” Diah menuju ke kamarnya dengan langkah cepat.

Aulia bergegas ke ruang tamu untuk menemani tamu itu. Tamu wanita berusia sekitar awal tiga puluh-an, beserta seorang anak perempuan berusia sekitar empat atau lima tahun dipersilahkan duduk olehnya. Usia Aulia waktu itu sekitar lima belas tahun, baru akan masuk sekolah menengah atas. Dengan tangkas ia meladeni kemauan tamu itu.

Sebelum masuk ke ruang tamu, Diah mengintip tamu yang mencari suaminya itu dari balik tirai pembatas ruang. Tidak ada perasaan aneh ketika ia melihat tamu yang berwajah anggun dengan rambut yang ikal sebatas bahu. Pandangan Diah beralih menuju pada seorang anak perempuan yang duduk tenang mengapit ibunya. Aulia yang menemani di hadapannya hanya diam memandangi kedua tamu perempuan itu yang sedang bercengkrama dengan logat sunda kasar.

Diah menyurutkan langkahnya menuju ruang tengah dan bercermin kembali, kemudian dengan helaan napas panjang ia keluar menuju ruang tamu. Aulia menoleh melihat kedatangan ibundanya dan berdiri. Dengan isyarat Diah memerintah anak sulungnya beranjak dari ruangan itu.

“Selamat siang,” Diah menyapa tamunya, sambil tersenyum ia mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. “Saya Diah, istri bapak Zulfikar..., ibu?” tanyanya dengan nada datar.

“Saya Gadys. Saya datang dari Bandung, baru pagi tadi saya sampai Jakarta dan langsung mencari alamat rumah ini.”

“Apa yang bisa saya bantu untuk anda?” Mata Diah beralih memandang bocah perempuan yang berada di sisi kanan perempuan itu. Anak itu sedang duduk tenang memainkan makanan ringan yang disuguhkan oleh Aulia sebelumnya. “Anak anda cantik” Dengan memajukan tubuhnya, Diah berusaha menjangkau pipi anak itu. “Siapa nama mu anak cantik?” tanyanya lembut dengan dengung suara seperti anak-anak.

“Namaku Sheila, tante,” sahut Gadys mewakili anak-anak itu. Anak pemalu itu langsung menghimpit ke dada ibunya, menghindari sentuhan Diah. Wajahnya tertutup oleh rambutnya yang keriting.

Pandangan Diah beralih ke Gadys yang mengapit leher anak itu. “Ok. Ada perlu apa anda ingin berjumpa suami saya, mungkin bisa saya sampaikan nanti. Beliau tak ada di rumah sekarang,” Diah langsung membuka katup komunikasi yang sempat berhenti karena basa-basi tadi.

“Maksud kedatangan saya ke sini ingin meminta pertanggung-jawaban Zulfikar.” Ucapan Gadys tercekat sesaat.

Diah melongo bingung, pikirannya mulai digerayangi dengan banyak pertanyaan dan kegundahan. Pertanggung-jawaban? Ada apa ini sebenarnya? Apa yang telah dilakukan suaminya? Diah mendesah pelan. Ia merasa harus mengontrol dirinya agar tidak gugup atau kikuk di depan tamunya itu. Semua kegalauan itu disimpannya bersama sekumpulan pertanyaan tadi. Berbagai prasangka muncul begitu saja dalam benaknya. Satu persatu datang silih berganti. Prasangka-prasangka negatif yang kemudian dihalaunya dengan keragu-raguan.

“Saya ingin meminta pengakuan dari Zulfikar tentang status anak ini. Sheila, anak Zulfikar, ia berhak bertemu dengan bapaknya,” cetus Gadys mantap tanpa keraguan.

Sepotong kalimat itu membuat Diah hancur. Bangunan kekuatan yang disusunnya sejak kecurigaan tadi, tidak mampu membendung hujaman dahsyat kata-kata yang menghujam hatinya. Kata-katanya tercekat tak mampu keluar, meski ia berusaha tetap tenang. Diah menatap lagi ke wajah anak itu. Mengamati dengan pandangan menyelidik, adakah kemiripan yang diwariskan Zulfikar kepada anak itu. Mata dan hidungnya mungkin saja mewarisi mata dan hidung Zulfikar. Walaupun tak sepenuhnya mirip, tapi ada gurat-gurat kesamaan yang cukup terlihat. Dagunya tidak mirip sama sekali, lebih mewarisi dagu ibunya, Gadys.

“Saya hanya ingin masa depan anak ini jelas, jangan sampai anak ini berstatus anak haram dalam surat-surat administratifnya nanti. Nyonya tahu jika itu semua terjadi? Anak ini tak bisa mendapatkan akta kelahiran, itu berarti akan sulit mengurus apapun kelak.” Gadys menggeser posisi duduknya, lalu memberikan beberapa lembar foto kenangannya bersama Zulfikar di Bandung sebagai bukti kesungguhannya.

Wajah Diah memerah menatap satu persatu lembaran foto itu. Pada lembaran ketiga ia tak mampu lagi melihatnya dan menaruhnya kembali ke meja. Ingin rasanya ia melempar begitu saja foto-foto itu jika tak menghormati tamu. Mendadak kakinya gemetar dan keringat dingin membasahi keningnya. Matanya terpejam sesaat saat ia menengadahkan kepalanya sambil menghela napas lembut.

“Zulfikar membohongi saya, ia bilang belum menikah saat itu.” Mata Gadys berkaca-kaca. Nafasnya mulai tidak teratur, hingga dadanya sesekali terangkat. “Saya mohon kearifan nyonya memahami semua ini, kasihan anak ini,” Gadys memohon.

Najma terbangun dan menjerit. Suatu jeritan yang tak terdengar tentu, tetapi bergema sampai kerongkongan hingga kepalanya. Dibukanya matanya, dan dikenalinya cahaya di atas meja kecil di samping ranjangnya. Rupanya dia tertidur. Jadi kali ini memang merupakan mimpi buruk. Najma menarik napas dalam untuk menenangkan saraf-sarafnya yang berantakan. Dia bangun dan duduk, melihat ke bagian-bagian yang temaram dari kamarnya. Dia duduk di tepi tempat tidur, tanganya terapit di antara lutut. Diletakkannya sikunya di atas lututnya, lalu ditopangkannya kepalanya ditangannya. Debar jantungnya yang kuat bergema dengan nyaring ke gendang telinganya. Diulurkannya tangannya dan dinyalakannya lampu di samping tempat tidurnya. Setengah memicingkan mata, wanita cantik itu melihat jam yang berdetik lembut di samping ranjangnya. Baru pukul tiga lewat lima menit. Mustahil menanti hingga pagi.

Malam masih begitu sunyi. Lama Najma memandangi ambang pintu yang kosong. Pikirannya sama letihnya dengan tubuhnya, namun ia tak bisa tidur. Dia mendesah, memadamkan lampu, lalu menyusup kembali ke balik selimut dan mencoba tidur lagi. Tetapi pikirannya mulai mengganggu, memikirkan ibunya yang hidupnya selalu tersudut karena ayahnya. Dan memikirkan bagaimana mengusir mimpi itu yang berkali-kali hadir.
 

Minggu, April 01, 2012

PERTEMUAN

By : Langit Mularto

"....Hingga aku hembuskan nafas yang terakhir dan kitapun bertemu."
Ahmad Dhani.

Ketika menikmati lirik dari band Dewa tersebut, keponakan saya yang berumur 5 tahun bertanya merujuk lirik yang metafor tersebut, "maksudnya apa Om?"
"Kalau nanti kita mati, kita bisa bertemu Tuhan," jawab saya ringan.
Kemudian tanpa diduga oleh pikiran dewasa saya dia berujar, "Kalau gitu Wisnu mau cepat mati ah, biar bertemu Tuhan."
Oh, Tuhan. Bergetar hati saya. Dahsyat sekali anak sekecil itu membicarakan mati. Fantastis bagi saya, disaat anak sebayanya hanya memikirkan gameboy, playstation dan berbagai jenis teman elektronik lainnya. Bahkan saya yang sudah dewasa ini masih mengejar tujuan-tujuan utama saya; yaitu kekayaan yang berlimpah-limpah dan kemerdekaan dari orang-orang lain karena memiliki kekayaan yang berlimpah tersebut. Sebagian hati saya yang lain berambisi pada reputasi pribadi yang luas. Menunggu ucapan manis penjilat-pejilat yang berkata terimakasih dan pujian-pujian kolega terhadap kemurahan hati dan amal baik saya. Kemudian sisi hati saya yang lain mengutamakan kekuasaan dan prestise yang besar sehingga sejawat saya mau tidak mau tunduk patuh terhadap saya.
Kita sebagai makhluk dewasa ternyata sering lupa tujuan terakhir dan kewajiban kita. Dunia ini diciptakan untuk memberi makan "binatang tunggangan" manusiad dalam menempuh perjalanan menuju "pertemuan." Saya lupa makna metafor dari kehidupan seperti hidup sebatang pohon. Tujuan dari dahan adalah buah yang matang, tidak sekedar sebatang dahan yang lain.
Dalam diri keponakan saya ini timbul untuk secara kritis memeriksa hasratnya terhadap kehidupan yang kekal dan sempurna. Mati adalah suatu hal di luar logikanya. Dengan mengingat mati seseorang dapat melepaskan dirinya dari kepentingan sesaat dari segala sesuatu itu terhadap pengembangan dirinya dari perspektif hidupnya yang menyeluruh.
Alih-alih ia menyadarkan saya. Jika tujuan pokok dalam hidup saya adalah untuk memperoleh prestise dan kesuksesan dunia, pun jika motif pokok dalam puasa saya adalah sekedar kekuatiran terhadap kesehatan, maka usaha saya dalam hidup dan puasa itu mungkin penting bagi dunia namun tidak bermanfaat bagi usaha menuntut sebuah "Pertemuan."
Keasyikan mengejar prestise akan mengecilkan saya, sementara hasrat mati dan berjumpa dengan-Nya akan membesarkan bocah polos itu. Saya yang berkesibukan mencari prestise beranggapan bahwa memiliki hal-hal tertentu adalah sangat penting, sementara keponakan saya itu yang ingin bertemu Tuhan mungkin tak acuh pada hal-hal tertentu walaupun jalannya sangat lapang di masa depannya.
Saya seolah diajarkan bahwa mati itu hanyalah saat yang membatasi dua keadaan eksistensi yang berbeda. Dunia kita (hidup sekarang) dan akhirat kita (hidup sesudah mati) merupakan dua keadaan kita. Mati itu sendiri bukanlah keadaan ketiadaan, mati adalah kebebasan dari kesibukan duniawi.
Keponakan saya ini mengingatkan saya pada sebuah contoh cerita sufistik. Syahdan ada seorang anak laki-laki sedang menangis dan meratapi peti mati ayahnya. "Ayah, mereka membawamu ke tempat yang tiada apapun yang menutupi lantai, tiada penerangan, tiada makanan, tiada pintu atau tetangga yang suka menolong." Anak yang cemas oleh uraian itu nampak tennag kembali, lalu berseru kepada ayahnya, "orang tuaku yang terhormat, Demi Allah, mereka membawamu ke rumah kita."
Sekali lagi hatiku bergetar tak habis pikir dan aku ingin masuk ke kosmos hatimu yang selalu berirama puisi pada masa Rumi.
"Salib dan orang-orang Kristen kau selidiki. Ia tak ada di salib itu. Kau pergi ke candi Hindu, ke pagoda kuno, pun tak ada suatu tanda di tempat itu. Ke tanah tinggi Herat kau pergi, dan ke Kandahar, di sana ia tak ada. Kau tanya Ibnu Sina yang filosof. Ia di luar jangkauan Ibnu Sina. Kau pandang ke dalam hatimu sendiri. Di situlah tempat-NYA, kau melihat-NYA. Ia tak ada di tempat lain."

Tanah Kusir,
13 Oktober 2005.
Langit Mularto

Jumat, Maret 16, 2012

5 Tahun

By : Langit Mularto


Lintang menikmati keindahan pagi itu. Hari yang sempurna di awal musim penghujan. Udara bersih dengan sedikit angin yang berhembus, matahari bersinar sempurna, angkasa membiru dihiasi beberapa gumpal awan seperti kapas. Pagi yang membuat orang-orang akan selalu bersyukur karena diberi kehidupan baru. Lintang memandang ke luar jendela dan memperhatikan bahwa sinar matahari yang menerpa dedaunan tampak sebening kristal. Pagi yang sempurna.

Nisha masih di dapur dengan rutinitas paginya. Lintang masih menyesap teh yang Nisha hidangkan sesaat setelah shubuh berjamaah mereka. Sampai sekarang Lintang masih tak habis pikir, bagaimana Nisha bisa begitu rutin selama lima tahun masa pernikahannya membuatkan teh untuknya. Karena ia wanita luar biasa. Ia sangat menyayangi Lintang. Tepat hari ini tahun kelima pernikahan mereka.

“Aku tadi memanggang roti. Kau mau coba?” kata Nisha.

“Terima kasih. Kau sedang apa?”

“Membuat teh, untukku.”

“Boleh Ayah membantumu?”

“Tidak, tak usah. Tehnya sudah hampir siap. ” Nisha berjalan tenang sambil membawa dua piring berisi roti dan menghampiri Lintang yang telah menyandarkan dirinya di kursi ruang makan. “Cobalah rotinya. Rasa coklat kacang, mungkin Ayah akan suka.”

“Baik,” kata Lintang. Lintang menyobek irisan roti panggang berbentuk segitiga itu sambil melirik di balik gelas tehnya.

“Aku ingin memasakkan sesuatu untukmu, ayah ingin makan apa selain roti?”

Sambil tersenyum, Lintang berkata, “ beberapa buah telur saja,’

 “Apa yang bunda buat?” Tanya Lintang menghampiri Nisha. Lintang memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma tengkuknya menghampiri hidung pria itu.

“Membuat telur dadar. Kau ingin telur seperti apa?”

“Direbus saja, Ayah ingin makan putihnya saja.”

“Baiklah, Bunda buatkan untuk Ayah.’

Ia membawa secangkir teh itu ke meja makan dan menaruhnya tepat di seberang tempat ia duduk.

Sementara itu diperhatikan terus Nisha merebus tiga butir telur untuk mereka berdua. Setelah dikuliti, telur-telur itu diletakkan di piring lalu dibawanya di meja. Ia membawanya ke meja makan dan menaruhnya tepat di seberang tempat ia duduk.

Nisha duduk di seberang Lintang  dan menghirup teh manisnya dan mengambil sebutir telur. Ia memasukkan telur rebus itu ke dalam mulutnya, dan menyadari bahwa ternyata ia hanya makan sendiri.

Rasanya masih tersisa rasa bahagianya  semalam merayakan lima tahun pernikahan mereka. Lintang berpakaian seperti pelayan restoran dengan dasi kupu-kupu hitam tersemat di leher. Suasana formil (pada awalnya) seperti menyambut pelanggan restoran.

Nisha  berjalan menuju ruang makan yang disulap secantik mungkin, seperti restoran kelas satu.

Lintang menyambut “ Nona, berapa orang?”

“Bunda tak pesan tempat,” jawab Nisha senyum.

“Baiklah. Suka tempat ini?”

Nisha kembali tersenyum. Ia tak dapat menahan rasa gelinya melihat tingkah suaminya yang di luar kebiasaanya itu.

“Silahkan duduk.” Lintang menggeser mundur kursi. mempersilahkan puteri cantiknya terlayani dengan penuh hormat.

“Terima kasih.”

“Nona ingin disajikan apa?”

“Apa yang kau rekomendsikan?”

“Mau coba makan rekomendasi juru masak kami?”

“Boleh”

“Baiklah mohon ditunggu”

Nisha berusaha mengendalikan diri. Ia kagum dengan setting yang dibuat Lintang, cukup detil untuk sebuah makan malam yang romantis. Lintang mematikan seluruh lampu, hanya ada beberapa batang lilin yang menyala dengan cahaya api kecil. Hampir saja tadi ia tak mampu lagi membendung rasa gelinya menjadi tawa yang terpingkal-pingkal, tapi ia tak ingin merusak suasana, yang mungkin saja telah dibangun Lintang dengan susah payah.

 ‘Boleh aku menemui kokinya,” tanya Nisha.

Lintang masuk kedalam, dan dalam sekejap berubah dengan topi juru masak yang dibuat dari kertas koran.

“Nona cari aku?”

Kini Nisha tak bisa lagi menahan gelak tawanya.

“Kau seorang koki yang tampan dan berbakat,” gelembung tawanya pecah

“Terimakasih”

“Bunda boleh tanya satu pertanyaan, Mengapa membuat semua yang cantik ini untukku?”

“Alasannya panjang, boleh aku duduk dulu”

“Baiklah”

“Terima kasih.” Lintang membungkuk memberi hormat, dan melepas topi kokinya serta menaruhnya di dada. Ia kini duduk. Matanya menghujam jauh ke mata Nisha. Menyelaminya dan mereguk sepuas-puasnya mata cantik itu. Gelas berisi air putih di angkat, lalu mereka bersulang.

 “Ini white wine-nya?” Nisha bergurau.

Lintang memonyongkan bibirnya. ”Hari ini istimewa.”

Senyum Nisha belum juga hilang dari bibir manisnya. Ia menatap wajah Lintang yang mengucapkan kalimatnya dengan menunduk.

“Aku ingat seorang yang sangat penting. Dialah yang menyelamatkanku dari hidupku yang kosong. Sebenarnya dia bisa membuangku ke masa lalu yang tak kusukai. Tapi dia memilih menyia-nyiakan hidupnya menemaniku.’

Ada perasaan tersentuh yang sangat dalam di dasar hati Nisha. tak pernah ada seorangpun yang mengatakan itu sebelumnya. Terlebih tak pernah ada yang mengatakan bahwa dirinya sangat berarti.

“Aku tak tahu bagaimana berterimakasih kepadanya.”

Pandangan mereka bertemu.

 “Siapa yang mengajarimu kata-kata itu? Nanti ulangi sekali lagi aku ingin mencatatnya.” Senyumnya melebar, hingga menonjolkan kerut-kerut tipis di sekitar pipinya. Gelak tawanya hampir saja pecah, tetapi berusaha ditahannya. Syaraf-syarafnya kembali mengendur melihat tingkah laku Lintang.

*****

Mereka baru kenal beberapa bulan, tetapi bagi Lintang rasanya seperti sudah lama sekali. Dia yakin bahwa pribadi mereka saling melengkapi. Ada hal-hal lain yang disukai Lintang pada wanita itu. Selera humor Nisha sangat lembut, dia suka tersenyum dan sangat feminin. Nisha wanita yang sangat lembut, mempunyai ketegaran dan rasa percaya diri.

Mereka kenal melalui dunia maya. Dunia penuh keraguan. Maka, tak heran ayah Nisha pun ragu pada Lintang. Namun Lintang tahu, ia hanya butuh sedikit usaha untuk mendapat kepercayaan itu. Semua orang tua pasti tak ingin anaknya jatuh  pada tangan yang salah. Nisha begitu spesial di mata ayahnya, dan Lintang  tahu untuk mendapatkan gadis yang begitu istimewa haruslah lelaki yang istimewa. Setidaknya memiliki komitmen. Hingga akhirnya Lintang berjuang membuktikannya dan membuat hubungan itu tak lagi sekedar dunia maya.

“Nis, Aku ingin mengajakmu makan es krim. Kau ada waktu?”

“Benarkah? Dimana?” jawabnya antusias.

“Dekat sini.”

“Kalau begitu aku ganti pakaian dulu.’

“Aku rasa tak perlu, Nis.” Nada lelaki itu sangat halus saat menyebutkan namanya.

“Baiklah kalau begitu,” ucapnya sambil mengenakan sandalnya. “Aku sudah siap.”

“Apa kesukaanmu?”

Nisha tersentak gugup mendengar pertanyaan mendadak itu. ‘Kesukaan apa?”

“Es krim kesukaanmu. Aku paling suka cokelat, dan di sini juga ada es krim kacang hijau.”

“Aku suka cokelat.”

Lintang tersenyum padanya. “Semuanya produksi rumahan. Sangat lembut.”

Toko es krim itu penuh sesak dengan pengunjung, terutama disaat sore yang hangat ini. Lintang mengantar Nisha duduk di kursi di dekat jendela, lalu ia pergi mengantre dengan sabar. Ketika ia kembali, Nisha hampir melompat kaget ketika Lintang membawa dua mangkuk penuh es krim di kedua tangannya. “Aku tidak akan bisa menghabiskan es krim sebanyak ini.”

“Coba saja. Kau pasti akan suka.”

Untuk beberapa saat, tidak ada suara sedikit pun kecuali dengung keheningan. Menyadari bahwa Nisha tidak akan mengucapkan apa-apa lagi untuk memecahkan keheningan itu, Lintang menarik napas dan mengucapkan sesuatu yang terlintas di benaknya.

“Nisha. matamu sungguh cantik.” Lintang berusaha mengalihkan perhatian. Seketika Nisha tersipu dan tak kuasa lagi menatap Lintang. “Aku tidak tahu apakah itu karena matamu begitu besar, begitu gelap, atau karena wajahmu yang proporsional. Tapi semua pesonanya keluar begitu saja.”

“Kau merayuku?” dengan candanya ia menangkupkan kedua tangan untuk menutupi matanya.

“Tidak. Itu hanya pengamatan. Kebetulan saja aku sedang memperhatikannya, dan terlintas dalam pandanganku bahwa wajahmu begitu banyak kekontrasan. Kulit wajahmu putih, namun matamu begitu gelap, dan juga rambutmu.” Lintang sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Nis, will you walk to the road with me to the end?”

“Berikan alasan mengapa kau memintaku menjadi istrimu,” pinta Nisha seolah sedang menimbang-nimbang.

“Karena kau mampu mengisi lubang yang kosong dalam hatiku,” jawab Lintang serius. “Dalam dirimu aku menemukan apa yang aku cari selama ini.  Pencarianku akan berakhir di hatimu.”

Nisha terbayang apa yang pernah dikatakan oleh Lintang kepadanya, bahwa mencintai seseorang berarti mencintai tanpa syarat. “Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku, Lintang?” Nisha mengulangi pertanyaannya yang dulu pernah ditanyakannya.

“Apakah harus ditanyakan lagi?”

“Kalau begitu jangan minta aku menikah denganmu lalu kau menetapkan syarat-syarat untukku. Cintailah aku tanpa syarat, seperti yang pernah kau janjikan.”.

“Menikahlah denganku, Nisha. Tanpa syarat, Cuma menikahlah denganku,” Lintang terus memohon.

Nisha mengangguk. “Aku berharap setiap keputusan tentang masa depan kita nanti merupakan keputusan bersama.” Nisha membalas tatapan Lintang. Wajah Lintang sangat serius, matanya menyorot tajam memancarkan kerinduan dari lubuk hatinya. Tatapan mata yang menunjukkan bahwa pria itu sungguh-sungguh, lebih kuat bagi Nisha daripada pernyataan cintanya.

“Aku tahu, mungkin ada banyak wanita lain yang bisa membuatku bahagia bersamanya, membangun kehidupan yang pantas bersamanya. Tapi itu saja tak cukup. Aku selalu menunggu seorang wanita impian yang akan berbagi kehidupan denganku.” Matanya seakan memohon, mengatakan apa yang tidak semua dapat dilahirkannya di ujung lidah. “Aku telah menunggu selama ini. Aku mencintaimu. Aku ingin menjalani sisa hidupku bersamamu. Aku ingin menjaga dan dijaga olehmu. Aku sudah menantimu, Nisha, sepanjang hidupku.”

“Aku tahu. Aku juga sudah menantimu.”

*******

Selama lima tahun pernikahan mereka, Nisha menghadiahi seorang gadis kecil yang cantik. Sofia. Melihat gadis kecil itu seperti melihat pribadi Nisha. Senyum Nisha yang selalu memesona melekat kuat di bibir tipis sofia. Matanya bulat bagai yakut. Benar-benar jernih. Tawanya mampu meluruhkan lelah setelah seharian bekerja. Ketika ia bercerita hari-hari yang telah dilaluinya, tak ada satupun yang dapat menghentikannya, kecuali rasa lapar di perutnya.

Sofia benar-benar mewarisi garis-garis kecantikan Nisha. Rambutnya bak mayang terurai, begitu kata pujangga. Rambutnya bagaikan karangan bunga yang terbelah di tengah. Lintang senang memandanginya. Alisnya yang lebat dan bagus, hampir bertemu di atas batang hidung yang panjang dan lurus. Nisha dan Sofia menyempurnakan hidup Lintang.

Sofia saat ini masih tertidur di kamarnya. Siang nanti ia minta diantar untuk lomba melukis di playgroup dekat kompleks rumah. Begitulah mereka, selalu menghabiskan sabtu-minggunya untuk Sofia. Mengantar Sofia ke sekolah benar-benar seperti rekreasi bagi mereka. Membawa bekal makanan kecil, menggelar alas duduk di taman sekolah dan menikmati sinar matahari pagi di bawah canopy pohon akasia.

Untuk sekejap mereka merasa, mungkinkah mereka bisa tinggal di sini, persis seperti ini, untuk selamanya. Tidak harus mencemaskan apa yang akan terjadi esok hari atau hari-hari berikutnya. Tidak perlu mengejar banyak ambisi untuk sukses atau khawatir untuk gagal. Ketenangan seperti ini. Kebahagiaan seperti ini. Selamanya.


Tanah Kusir  6 Februari 2012