Jumat, Maret 16, 2012

5 Tahun

By : Langit Mularto


Lintang menikmati keindahan pagi itu. Hari yang sempurna di awal musim penghujan. Udara bersih dengan sedikit angin yang berhembus, matahari bersinar sempurna, angkasa membiru dihiasi beberapa gumpal awan seperti kapas. Pagi yang membuat orang-orang akan selalu bersyukur karena diberi kehidupan baru. Lintang memandang ke luar jendela dan memperhatikan bahwa sinar matahari yang menerpa dedaunan tampak sebening kristal. Pagi yang sempurna.

Nisha masih di dapur dengan rutinitas paginya. Lintang masih menyesap teh yang Nisha hidangkan sesaat setelah shubuh berjamaah mereka. Sampai sekarang Lintang masih tak habis pikir, bagaimana Nisha bisa begitu rutin selama lima tahun masa pernikahannya membuatkan teh untuknya. Karena ia wanita luar biasa. Ia sangat menyayangi Lintang. Tepat hari ini tahun kelima pernikahan mereka.

“Aku tadi memanggang roti. Kau mau coba?” kata Nisha.

“Terima kasih. Kau sedang apa?”

“Membuat teh, untukku.”

“Boleh Ayah membantumu?”

“Tidak, tak usah. Tehnya sudah hampir siap. ” Nisha berjalan tenang sambil membawa dua piring berisi roti dan menghampiri Lintang yang telah menyandarkan dirinya di kursi ruang makan. “Cobalah rotinya. Rasa coklat kacang, mungkin Ayah akan suka.”

“Baik,” kata Lintang. Lintang menyobek irisan roti panggang berbentuk segitiga itu sambil melirik di balik gelas tehnya.

“Aku ingin memasakkan sesuatu untukmu, ayah ingin makan apa selain roti?”

Sambil tersenyum, Lintang berkata, “ beberapa buah telur saja,’

 “Apa yang bunda buat?” Tanya Lintang menghampiri Nisha. Lintang memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma tengkuknya menghampiri hidung pria itu.

“Membuat telur dadar. Kau ingin telur seperti apa?”

“Direbus saja, Ayah ingin makan putihnya saja.”

“Baiklah, Bunda buatkan untuk Ayah.’

Ia membawa secangkir teh itu ke meja makan dan menaruhnya tepat di seberang tempat ia duduk.

Sementara itu diperhatikan terus Nisha merebus tiga butir telur untuk mereka berdua. Setelah dikuliti, telur-telur itu diletakkan di piring lalu dibawanya di meja. Ia membawanya ke meja makan dan menaruhnya tepat di seberang tempat ia duduk.

Nisha duduk di seberang Lintang  dan menghirup teh manisnya dan mengambil sebutir telur. Ia memasukkan telur rebus itu ke dalam mulutnya, dan menyadari bahwa ternyata ia hanya makan sendiri.

Rasanya masih tersisa rasa bahagianya  semalam merayakan lima tahun pernikahan mereka. Lintang berpakaian seperti pelayan restoran dengan dasi kupu-kupu hitam tersemat di leher. Suasana formil (pada awalnya) seperti menyambut pelanggan restoran.

Nisha  berjalan menuju ruang makan yang disulap secantik mungkin, seperti restoran kelas satu.

Lintang menyambut “ Nona, berapa orang?”

“Bunda tak pesan tempat,” jawab Nisha senyum.

“Baiklah. Suka tempat ini?”

Nisha kembali tersenyum. Ia tak dapat menahan rasa gelinya melihat tingkah suaminya yang di luar kebiasaanya itu.

“Silahkan duduk.” Lintang menggeser mundur kursi. mempersilahkan puteri cantiknya terlayani dengan penuh hormat.

“Terima kasih.”

“Nona ingin disajikan apa?”

“Apa yang kau rekomendsikan?”

“Mau coba makan rekomendasi juru masak kami?”

“Boleh”

“Baiklah mohon ditunggu”

Nisha berusaha mengendalikan diri. Ia kagum dengan setting yang dibuat Lintang, cukup detil untuk sebuah makan malam yang romantis. Lintang mematikan seluruh lampu, hanya ada beberapa batang lilin yang menyala dengan cahaya api kecil. Hampir saja tadi ia tak mampu lagi membendung rasa gelinya menjadi tawa yang terpingkal-pingkal, tapi ia tak ingin merusak suasana, yang mungkin saja telah dibangun Lintang dengan susah payah.

 ‘Boleh aku menemui kokinya,” tanya Nisha.

Lintang masuk kedalam, dan dalam sekejap berubah dengan topi juru masak yang dibuat dari kertas koran.

“Nona cari aku?”

Kini Nisha tak bisa lagi menahan gelak tawanya.

“Kau seorang koki yang tampan dan berbakat,” gelembung tawanya pecah

“Terimakasih”

“Bunda boleh tanya satu pertanyaan, Mengapa membuat semua yang cantik ini untukku?”

“Alasannya panjang, boleh aku duduk dulu”

“Baiklah”

“Terima kasih.” Lintang membungkuk memberi hormat, dan melepas topi kokinya serta menaruhnya di dada. Ia kini duduk. Matanya menghujam jauh ke mata Nisha. Menyelaminya dan mereguk sepuas-puasnya mata cantik itu. Gelas berisi air putih di angkat, lalu mereka bersulang.

 “Ini white wine-nya?” Nisha bergurau.

Lintang memonyongkan bibirnya. ”Hari ini istimewa.”

Senyum Nisha belum juga hilang dari bibir manisnya. Ia menatap wajah Lintang yang mengucapkan kalimatnya dengan menunduk.

“Aku ingat seorang yang sangat penting. Dialah yang menyelamatkanku dari hidupku yang kosong. Sebenarnya dia bisa membuangku ke masa lalu yang tak kusukai. Tapi dia memilih menyia-nyiakan hidupnya menemaniku.’

Ada perasaan tersentuh yang sangat dalam di dasar hati Nisha. tak pernah ada seorangpun yang mengatakan itu sebelumnya. Terlebih tak pernah ada yang mengatakan bahwa dirinya sangat berarti.

“Aku tak tahu bagaimana berterimakasih kepadanya.”

Pandangan mereka bertemu.

 “Siapa yang mengajarimu kata-kata itu? Nanti ulangi sekali lagi aku ingin mencatatnya.” Senyumnya melebar, hingga menonjolkan kerut-kerut tipis di sekitar pipinya. Gelak tawanya hampir saja pecah, tetapi berusaha ditahannya. Syaraf-syarafnya kembali mengendur melihat tingkah laku Lintang.

*****

Mereka baru kenal beberapa bulan, tetapi bagi Lintang rasanya seperti sudah lama sekali. Dia yakin bahwa pribadi mereka saling melengkapi. Ada hal-hal lain yang disukai Lintang pada wanita itu. Selera humor Nisha sangat lembut, dia suka tersenyum dan sangat feminin. Nisha wanita yang sangat lembut, mempunyai ketegaran dan rasa percaya diri.

Mereka kenal melalui dunia maya. Dunia penuh keraguan. Maka, tak heran ayah Nisha pun ragu pada Lintang. Namun Lintang tahu, ia hanya butuh sedikit usaha untuk mendapat kepercayaan itu. Semua orang tua pasti tak ingin anaknya jatuh  pada tangan yang salah. Nisha begitu spesial di mata ayahnya, dan Lintang  tahu untuk mendapatkan gadis yang begitu istimewa haruslah lelaki yang istimewa. Setidaknya memiliki komitmen. Hingga akhirnya Lintang berjuang membuktikannya dan membuat hubungan itu tak lagi sekedar dunia maya.

“Nis, Aku ingin mengajakmu makan es krim. Kau ada waktu?”

“Benarkah? Dimana?” jawabnya antusias.

“Dekat sini.”

“Kalau begitu aku ganti pakaian dulu.’

“Aku rasa tak perlu, Nis.” Nada lelaki itu sangat halus saat menyebutkan namanya.

“Baiklah kalau begitu,” ucapnya sambil mengenakan sandalnya. “Aku sudah siap.”

“Apa kesukaanmu?”

Nisha tersentak gugup mendengar pertanyaan mendadak itu. ‘Kesukaan apa?”

“Es krim kesukaanmu. Aku paling suka cokelat, dan di sini juga ada es krim kacang hijau.”

“Aku suka cokelat.”

Lintang tersenyum padanya. “Semuanya produksi rumahan. Sangat lembut.”

Toko es krim itu penuh sesak dengan pengunjung, terutama disaat sore yang hangat ini. Lintang mengantar Nisha duduk di kursi di dekat jendela, lalu ia pergi mengantre dengan sabar. Ketika ia kembali, Nisha hampir melompat kaget ketika Lintang membawa dua mangkuk penuh es krim di kedua tangannya. “Aku tidak akan bisa menghabiskan es krim sebanyak ini.”

“Coba saja. Kau pasti akan suka.”

Untuk beberapa saat, tidak ada suara sedikit pun kecuali dengung keheningan. Menyadari bahwa Nisha tidak akan mengucapkan apa-apa lagi untuk memecahkan keheningan itu, Lintang menarik napas dan mengucapkan sesuatu yang terlintas di benaknya.

“Nisha. matamu sungguh cantik.” Lintang berusaha mengalihkan perhatian. Seketika Nisha tersipu dan tak kuasa lagi menatap Lintang. “Aku tidak tahu apakah itu karena matamu begitu besar, begitu gelap, atau karena wajahmu yang proporsional. Tapi semua pesonanya keluar begitu saja.”

“Kau merayuku?” dengan candanya ia menangkupkan kedua tangan untuk menutupi matanya.

“Tidak. Itu hanya pengamatan. Kebetulan saja aku sedang memperhatikannya, dan terlintas dalam pandanganku bahwa wajahmu begitu banyak kekontrasan. Kulit wajahmu putih, namun matamu begitu gelap, dan juga rambutmu.” Lintang sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Nis, will you walk to the road with me to the end?”

“Berikan alasan mengapa kau memintaku menjadi istrimu,” pinta Nisha seolah sedang menimbang-nimbang.

“Karena kau mampu mengisi lubang yang kosong dalam hatiku,” jawab Lintang serius. “Dalam dirimu aku menemukan apa yang aku cari selama ini.  Pencarianku akan berakhir di hatimu.”

Nisha terbayang apa yang pernah dikatakan oleh Lintang kepadanya, bahwa mencintai seseorang berarti mencintai tanpa syarat. “Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku, Lintang?” Nisha mengulangi pertanyaannya yang dulu pernah ditanyakannya.

“Apakah harus ditanyakan lagi?”

“Kalau begitu jangan minta aku menikah denganmu lalu kau menetapkan syarat-syarat untukku. Cintailah aku tanpa syarat, seperti yang pernah kau janjikan.”.

“Menikahlah denganku, Nisha. Tanpa syarat, Cuma menikahlah denganku,” Lintang terus memohon.

Nisha mengangguk. “Aku berharap setiap keputusan tentang masa depan kita nanti merupakan keputusan bersama.” Nisha membalas tatapan Lintang. Wajah Lintang sangat serius, matanya menyorot tajam memancarkan kerinduan dari lubuk hatinya. Tatapan mata yang menunjukkan bahwa pria itu sungguh-sungguh, lebih kuat bagi Nisha daripada pernyataan cintanya.

“Aku tahu, mungkin ada banyak wanita lain yang bisa membuatku bahagia bersamanya, membangun kehidupan yang pantas bersamanya. Tapi itu saja tak cukup. Aku selalu menunggu seorang wanita impian yang akan berbagi kehidupan denganku.” Matanya seakan memohon, mengatakan apa yang tidak semua dapat dilahirkannya di ujung lidah. “Aku telah menunggu selama ini. Aku mencintaimu. Aku ingin menjalani sisa hidupku bersamamu. Aku ingin menjaga dan dijaga olehmu. Aku sudah menantimu, Nisha, sepanjang hidupku.”

“Aku tahu. Aku juga sudah menantimu.”

*******

Selama lima tahun pernikahan mereka, Nisha menghadiahi seorang gadis kecil yang cantik. Sofia. Melihat gadis kecil itu seperti melihat pribadi Nisha. Senyum Nisha yang selalu memesona melekat kuat di bibir tipis sofia. Matanya bulat bagai yakut. Benar-benar jernih. Tawanya mampu meluruhkan lelah setelah seharian bekerja. Ketika ia bercerita hari-hari yang telah dilaluinya, tak ada satupun yang dapat menghentikannya, kecuali rasa lapar di perutnya.

Sofia benar-benar mewarisi garis-garis kecantikan Nisha. Rambutnya bak mayang terurai, begitu kata pujangga. Rambutnya bagaikan karangan bunga yang terbelah di tengah. Lintang senang memandanginya. Alisnya yang lebat dan bagus, hampir bertemu di atas batang hidung yang panjang dan lurus. Nisha dan Sofia menyempurnakan hidup Lintang.

Sofia saat ini masih tertidur di kamarnya. Siang nanti ia minta diantar untuk lomba melukis di playgroup dekat kompleks rumah. Begitulah mereka, selalu menghabiskan sabtu-minggunya untuk Sofia. Mengantar Sofia ke sekolah benar-benar seperti rekreasi bagi mereka. Membawa bekal makanan kecil, menggelar alas duduk di taman sekolah dan menikmati sinar matahari pagi di bawah canopy pohon akasia.

Untuk sekejap mereka merasa, mungkinkah mereka bisa tinggal di sini, persis seperti ini, untuk selamanya. Tidak harus mencemaskan apa yang akan terjadi esok hari atau hari-hari berikutnya. Tidak perlu mengejar banyak ambisi untuk sukses atau khawatir untuk gagal. Ketenangan seperti ini. Kebahagiaan seperti ini. Selamanya.


Tanah Kusir  6 Februari 2012






Rabu, Februari 22, 2012

KIDUNG KEABADIAN (Part 1)

By: Langit Mularto

Nyalakan pelita dan bakarlah setanggi di sekitar ranjangku,
dan tebarkanlah kenanga, melati, mawar, kemuning, kembang kantil
hingga tujuh aneka bunga menyelimuti tubuhku.

Basuhi rambutku dengan wangi kesturi dan seka kakiku dengan wewangian kebun bungamu,
lalu rapalkan apa yang oleh jemari kegelapan telah dituliskan di dahiku.

Biarkan aku istirahat selamanya dari lelahku di dunia dalam pelukan mimpi yang tak kenal kembali,
karena lelahlah kelopak mata ini.

Biarlah larik-larik perak yang diturunkan dari langit menyirami tubuhku.

Keringkan airmatamu karena telah kulihat sepasang sosok maut tersenyum di antara dipanku dan dinding keabadian.

Dengarlah hembusan nafasku yang terakhir, dekatkan telingamu untuk mendengar desah kepak sayap-sayap malaikat yang putih.

Bersimpuhlah di sisiku dan ucapkan selamat tinggal padaku, kecuplah mataku dengan bibir tersenyum.
Genggamlah tanganku, remaslah lembut dengan jemarimu yang halus dan merah jambu.
Tataplah dengan teduh mataku dan lihatlah bayangan-bayangan malaikat yang telah bersiap di sana.
Nantikanlah tiap detik kehendak-Nya berpacu dengan nafas terakhirku.

Lalu biarkan tangan-tangan keabadian menerobos perlahan maut itu memisahkan antara jasadku dan ruhku, mengajakku menyusuri lorong putih yang tak kenal kembali.

Lepaskan ruh kebebasanku untuk menjulang di alam yang sempurna tiada batas. Biarkan jiwaku menuruni gurun dan ladang di balik tabir putih yang tampak seperti musim semi di sahara.

Bersambung...

Selasa, Februari 07, 2012

KUL DESAK

By: Langit Mularto

Sepanjang hari langit gelap dan mendung menggelayuti serupa gumpalan-gumpalan nan hitam dengan pawana yang menderu menakutkan. Aku duduk mematung di sisi jendela menanti curahan pertamanya yang tertumpah bagai selendang bidadari yang jatuh dari langit. Sepertinya malam ini hujan akan turun lebat. Seperti biasa, aku sudah bersiap untuk berdiri di tengah hujan, bukan untuk menaklukannya. Aku hanya ingin berdiam dalam hujan tanpa argumen atau banyak tanya tentang hujan.
Sepertinya, hanya hujan yang menerima aku dalam peluk derasnya. Bukan dia, engkau, mereka atau siapapun juga. Bahkan, aku pun sulit menerima keberadaan ku sendiri. Aku masih sulit memastikan jumlah titik-titik hujan itu, apakah sama banyaknya dengan jumlah harapanku, atau malah sama banyaknya dengan jumlah keputusasaanku. Entah apa yang akan dikatakan hujan kepadaku. Ini tahun  ke-sembilan di 29 Desember aku menggaulinya tanpa Audra. Ya, 29 Desember, 9 tahun lalu, tanggal dimana aku mengutarakan rasa cinta pada Audra pada waktu hujan di dini hari.  Mungkin hujan ini pun telah terlalu lelah untukku, hingga tiga tahun belakangan intensitasnya mulai berkurang untuk memeluk kerapuhanku .
Saat ini, hujan bagiku adalah peristiwa yang mesti dinikmati bersama. Tak mampu lagi aku menikmati hujan dalam kesunyian dan memandangi hujan seorang diri. Tak ada yang lebih damai selain bercengkrama di tengah rintik hujan bersama seseorang yang aku cintai. Audra. Aku sungguh mencintai wanita itu. Seseorang wanita yang entah sekarang di mana. Mestikah aku kehilangan impian yang justru paling penting bagiku?
Aku telah menjadi tahanan cintanya dan aku tak sanggup lagi berkompromi pada diriku sendiri. Aku bahagia saat itu, meski kumerasa tak mampu lagi lebih dekat. Sempat berpikir, kelak aku mungkin akan bisa melihatnya, merasakan cinta itu setiap hari, tapi ku tahu Audra tidak pernah di dekatku. Rasa sakit menyerap ke hati. Aku tak bisa membayangkan diriku dapat mencintai orang lain seperti cintaku pada Audra.
Ketika itu, Audra datang dimana aku memang membutuhkannya. Saat ia tak ada, aku selalu membayangkan dengannya. Sebelum kehadirannya, aku membiarkan hidupku seperti apa adanya karena memang aku rasa sudah tak ada harganya. Teman-teman se-angkatanku semakin sukses menapaki hidup, sedangkan aku hanya bisa diam tak bergerak, seperti tersudut pada suatu jalan buntu. Berkali-kali aku jatuh dan terperosok. Tinggal waktu yang akan bicara akan kemanakah aku. Ketempat yang entah akan berakhir di mana. Berharap memang selalu menyiksa dan membuatku sekali lagi rapuh. Banyak yang kurasa setelah itu ; sepi, kosong, sedih dan semuanya pergi. Aku kalah.
Aku mengenal Audra tak cukup lama. Namun, begitu banyak pelajaran yang aku terima. Audra mengajarkan aku mengerti tentang hidup. Salah satunya untuk memaafkan diriku sendiri atas kegagalan-kegagalan dan kesalahan masa lalu, dan jangan sekali-kali coba menolehnya. Sebenarnya, bisa saja ia membuangku ke masa lalu yang tidak aku sukai, namun ia lebih memilih menyia-nyiakan hidupnya bersamaku.
Audra adalah mahasiswi program master di Universitas Tekhnik Delft, Belanda. Ia menyapaku terlebih dahulu di akun jejaring sosial yang ternama pada masa itu. Awalnya ia tertarik dengan tulisan-tulisanku yang bernada elegi. Setelah itu kami sering mendiskusikannya, dan mendiskusikan banyak hal lagi. Perbedaan waktu antara siang dan malam membuat kami tak leluasa berkomunikasi. Audra sangat disiplin menggunakan waktunya. Week-end waktu yang dapat membuat kami begitu intens mengusik malam atau siang di sana. Di luar week-end kami hanya mengandalkan e-mail untuk saling bercerita.
Hingga tiba di Minggu ke tiga di Januari yang dingin yang tak pernah aku lupakan. Audra mengirimkan e-mail untukku;

Dear Damar,
Damar, Minggu ini aku di Praha. Ada seminar yang harus aku ikuti. Musim dingin yang menyedihkan, tapi aku harus pergi. Damar, kelak aku ingin kamu menemaniku keliling tempat-tempat indah ini. Aku ingin engkau ada di sini. Mendampingi aku dari satu kota ke kota lain. Hingga kita bisa melihat dunia yang indah ini dan mengerti banyak hal.
Damar, ada yang ingin aku katakan padamu. Ada impian yang hendak kutitipkan padamu. Hanya padamu, Damar. Lelaki yang begitu aku cintai. Aku tahu pada dasarnya kamu begitu tangguh. Kelak, tak ada satu pun  yang akan menyulitkanmu. Damar, aku telah menemukan sosok lelaki impianku. Kamu, Damar.
Sebenarnya aku hanya berpura-pura berani, tegar dan terbuka. Sebenarnya aku pun tak berani menghadapi kehilangan, karena itu banyak cerita yang aku suka darimu adalah cerita elegi. Aku suka tulisan-tulisanmu; Kehilangan nyawa, kematian orang terkasih, kepergian orang tua dan banyak lagi. Terkadang aku bertanya apa arti semua ini?
Damar, Aku mencoba meraba mengapa Tuhan melibatkanku ke dalam kisahmu. Jadi Tuhan ingin aku dan engkau belajar ketegaran dan keberanian. Itulah yang selalu ku harapkan. Aku mendadak mengerti dan paham.
Kelak kau harus mendapat apa yang kau impikan. Tak sekedar dapat, namun kau juga harus memperebutkannya. Ingatlah, banyak orang ingin kamu berubah. Banyak orang yang mendoakanmu. Jangan pernah lemah. Jangan pernah kau biarkan hidupmu pergi sedikit demi sedikit. Kau tak boleh begitu. Aku menyukai semua yang diatur Tuhan ini. Karena aku tahu dengan memiliki keseriusanmu terhadap hidup kau bisa memberi bahagia pada orang-orang di sekitarmu.
Damar, saat membaca tulisanku, mohon jangan menangis. Kelak dengan keyakinanmu, Tuhan akan tersentuh. Aku titip kebahagiaanku di dirimu. Aku tahu kau takkan mengecewakanku. Sekarang aku tinggalkan kenangan kita untukmu dan kenangan itu takkan pergi lagi.
Damar, Aku telah jatuh cinta pada seseorang pria "tersesat" yang sedang mencari jalannya bernama Ade Damar.

Aku mencintaimu, Damar.


Di selimuti Cinta,

Audra.

Setelah e-mail itu, tak lagi ku dapati sapa Audra. Gadis itu pergi lebih cepat meninggalkan bayang-bayangnya yang masih kupeluk. Serasa gelembung kegembiraan telah usai seiring kepergiaannya. Kenangan akan Audra terus berkelebat dalam kepalaku. Aku seolah takut menghadapi pagi, dan mengahadapi kesadaran bahwa tak ada lagi Audra di sisiku. Bagiku lebih nyaman dalam keadaan tertidur dibanding ketika terjaga dan pikiranku tersiksa memikirkannya.





Wanita itu selalu mengusik pikiranku, tak pernah pikiran ini dapat beralih dari Audra, berharap ia ada di sisiku. Aku merindukan Audra, merindukan kelembutan dan perhatian yang dicurahkan terus menerus kepadaku. Ia membuatku merasa amat dicintai dengan cara yang belum pernah dilakukan wanita lain yang pernah singgah di hatiku.
Aku selalu berharap pada Audra. Berharap kehadirannya, dengan harapan itu, aku bermimpi suatu saat kita bersama menjalani hari. Mimpi-mimpi yang membuatku terus berusaha memantaskan diri jika kelak ia hadir di dunia nyataku. Aku bekerja keras untuk itu. Untuk perubahanku. Aku tahu Audra tidak begitu mementingkan hasil apa yang akan aku dapat dari perubahan itu. Ia hanya ingin aku menikmati proses dan perjuangannya. Dan aku melakukan semua itu hingga kini, hingga perubahan itu menjadi buah yang aku nikmati. Namun tetap perubahan yang tak lengkap tanpanya. Kebahagiaan yang kosong tanpa hadirnya. Aku tahu kelak Audra akan datang. Itu janjinya, "Damar, walau aku tak tahu seperti apa akhir kisah kita nanti, namun aku pastikan, kita akan bersama-sama di akhir cerita ini."
Titik-titik air yang jatuh di atap membuatku terjaga dari pikiranku tentang Audra dan menyadari turun hujan. Lumayan deras. Kaca-kaca jendela seolah dipukul-pukul oleh butiran-butiran air yang menimpa tanpa ampun, dan ujung-ujung atap rumah meneteskan air dengan bunyi gemericik berulang-ulang. Kamarku semakin temaram dan nyaman.
Titik pertama hujan turun mengetuk jendela kamarku. Oh, tunggu . Sepertinya hujan itu bersuara. Ya, hujan itu bergumam padaku, "Sampai kapan kamu terus menunggu Audra?"
Lalu titik berikutnya menyusul, "Audra telah pergi.
Dan datang gerombolan jarum-jarum hujan menusuk-nusuk atap, jendela, dinding dan semua berujar bersamaan, "Audra sedih melihatmu begini."
Aku berhambur keluar menyambut hujan, meresapi fatamorgana suara itu. Kegelapan semakin pekat menyelimuti meski suasana tetap tak sepi. Dentuman-dentuman amarah guntur bersahut silih berganti.  Hujan turun makin lama makin deras. Taufan meraung-raung menghantamkan diri pada pohon akasia dan semak belukar seperti segerombolan setan yang sedang berang. Dan setiap terkena hantaman, pohon itu terguncang seolah-olah detik berikutnya pucuk-pucuknya akan mencium tanah. Terjungkal. Dalam sekejap saja aku telah basah kuyub mulai dari kepala sampai kaki, rambut, pakaian dan segalanya.
Sesosok wanita hadir dalam badai yang mengacak alam.Aku terkejut menatapnya. Postur tubuhnya menampakkan keanggunan, caranya menggerakkan tubuh, atau caranya menatapku. wajahnya sangat cantik, benar-benar merona. Kami saling menatap beberapa saat, sama sekali tanpa mengucapkan sepatah kata. Dunia terasa diam, dan di saat yang sama kami bisa merasakannya terkuak. Ruang dan waktu melebur pada momen itu. Kesunyian dalam diam merupakan tekanan yang tak tertahankan bagiku. Aku pun mulai memecah kesunyian.   Audra, aku merindukanmu."
"Aku juga, Damar." Audra bergerak maju memelukku. "Damar, maukah kau ikut aku."
"Aku akan bersamamu kemanapun, Audra. Bukankah dulu kamu berjanji bahwa kita akan bersama-sama di akhir cerita. Aku tagih janjimu, Audra."
"Iya, Aku penuhi janjiku padamu Damar." Audra mengapit tanganku dan melangkah dengan ringan seperti melayang. Semakin jauh kami melayang meninggalkan hujan yang sama sekali belum reda. Aku menoleh ke belakang, ke sebuah pohon akasia yang terjungkal karena badai tepat di depan rumahku. Batang dan pucuknya yang kokoh benar-benar nampak tak berdaya diayun angin hingga mencium bumi, menindih sosok tubuh kurus yang telah putus asa. Lelaki yang mirip sekali aku. Ia sedang bersimbah darah terjepit batang akasia yang kokoh itu. Ya, itu jasadku sedang meregang nyawa. Dan ruhku melayang bersama Audra.