Selasa, Agustus 19, 2008

Merintis Mencari Jalan Mu

By : Langit Mularto

Saya terhenyak kaget ketika membaca sebuah buku filsafat yang menyakan “Allah Maha Kuasa, sehingga dengan kuasanya itu, Dia dapat membuat batu sangat besar yang Tuhan sendiri tidak mempunyai kesanggupan untuk mengangkatnya”. Apa iya begitu ?
Kalau memang begitu, lalu bagaimana Dzat yang bernama Allah ? bukankah untuk mnegenal Allah seorang Ibrahim haru smeneliti apakah hal-hal yang semula dianggapnya sebagai “tuhan” dapat diteliti lebih lanjut bahwa itu benar-benar “tuhannya”.
Jalan manusia menuju Allah diawali dengan kemampuan manusia untuk dipesonakan dan juga kemampuanny auntuk menyelidiki masalah yang mengantarnya kepada pesona itu. Semoga saja, saya bukan manusia yang dilahirkan dengan keinginan untuk diagungkan, karena dengan demikian saya akan sulit untuk menerima keagungan daripada unsur-unsur lainnya, termasuk untuk menerima kepesonaan Allah tadi.
Belum habis rasa bingung saya, muncul pernyataan berikutnya, “Allah tidak ada, kalau kita tidak ada”. Pernyataan ini penuh makna, Allah butuh pengakuan atas eksistensiNya, padahal kalalu kamu cuek sama Allah, Dia pasti meneng, tidak berkurang ke Maha Pengasihannya. Allah juga tidak akan misuh, terus cemburu dan menyesal menciptakan kamu.
Apakah saya –sebagai pemula- harus mempercayai ungkapan verbal yang sudah turun temurun dan mulai mnecarinya sesuai dengan petunjuk tersebut ?
Apakah kita mempunyai bekal yang cukup untuk mengenali Dzat yang bernama Allah, padahal Allah memberi pengetahuan yang sangat sedikit sekali tentang ruh, apalagi Dzat yang membahas kerahasianNya. Mungkin, sampai sini saya sependapat pada masa Al-Ghazali mencari Tuhan.
Apakah kepercayaan kepada Allah dapat menjadi suatu pengetahuan tertentu? Jika Allah harus disembah, Ia harus diketahui dengan pasti. Apa iya, akal pikiran dan 5 indera kita dapat mendeteksi secara pasti sang khalik ? atau saya dapat mengiyakan suatu kebenaran yang say aperoleh dari seseorang yang telah menjadi suatu kepercayaan umum dianut orang menjadi hasil dari pemikiran mereka ?atau mungkin ini adalah sebuah kepercayaan yang dibenarkanNya, yang dengan mempercayainya aku tidak terjerumus dan mengkhianati ke Esaan-Nya?
Apakah benar, meng-intelijen Allah adalah dengan mendeduksi (istisyhad) segala eksistensi dari pengetahuan mengenai yang Haqq ? Bukankah, itu sebuah metode yang sangat pelik dan rumit yang berada diatas kemampuan kebanyakan manusia untuk memahamiNya ? ataukah mencari Allah dimulai dengan mempelajari hal-hal yang mudah untuk dicerna oleh kemampuan yang sederhana dalam memahami dan oleh karena itu dapat dikomunikasikan dalam bentuk bahasa, bukankah memahami Allah dengan cara ini adalah sebuah pemahaman yang parsial dan sementara yang hanya menuntun saya kepada tingkat terakhir dalam pemahaman mengenai realitas dan kesatuan eksistensi ?
Mengenal Allah, melalui bahasa ?? Semudah itukah ? Bahasa yang hanya dapat menerangkan aspek-aspek “ilmiah” dari realitas namun tidak dapat menerangkan aspek-aspek realitas yang masuk kebidang spiritual yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan langsung yang bersifat pribadi. Dengan demikain, dibutuhkan sebuah “penglihatan” yang mampu melampaui tingkat pemahaman “intelektual” sebab hanya dengan kata-kata saja, tidak mampu mengetahui mengenai Allah, sifat-sifat Nya, dan aspek spiritual dan sebuah eksistensi.
Jika Allah sulit dipahami melalui bahasa secara konvensional, apakah dengan demikian Allah itu gaib ? Jika menganggap Allah itu gaib , bukankah berarti kita membuat jarak dengan kegaiban itu sendiri, dan dengan mengambil jarak dengan kegaiban akan semakin sulit kita mengenal Allah.
Jika melalui jalan gaib sudah tertutup untuk mengenal Allah, bagaimana dengan diri kita, jasmani kita, sifat kita dan perubahan keadaan kita, perubahan-perubahan hati kita dan semua tingkatan didalam gerakan-gerakan kita ataupun saat kita beristirahat. Kemudian objek-objek yang dapat ditanggapi oleh panca indera kita, dan setelah itu objek-objek yang dapat ditanggapi oleh akal pikiran dan “penglihatan” kita, yang setiap objek ini mempunyai instrument persepsi, sebuah saksi dan sebuah petunjuk untuk eksistensinya.

Wallahu alam bisshawab
By : Mularto

1 komentar:

  1. pencarian menuju Sang Pencipta takkan menjadikan manusia itu bingung

    kebingungan itu hanya proses ketika kita ingin lebih mengetahui tentang keberadaan Dzat Tertinggi

    Allah akan memberikan jalan yang bebeda-beda bagi setiap manusia untuk menuju ke hadirat-NYA..
    bkn begitu?

    *salam
    ..yulita

    BalasHapus