Selasa, Februari 07, 2012

KUL DESAK

By: Langit Mularto

Sepanjang hari langit gelap dan mendung menggelayuti serupa gumpalan-gumpalan nan hitam dengan pawana yang menderu menakutkan. Aku duduk mematung di sisi jendela menanti curahan pertamanya yang tertumpah bagai selendang bidadari yang jatuh dari langit. Sepertinya malam ini hujan akan turun lebat. Seperti biasa, aku sudah bersiap untuk berdiri di tengah hujan, bukan untuk menaklukannya. Aku hanya ingin berdiam dalam hujan tanpa argumen atau banyak tanya tentang hujan.
Sepertinya, hanya hujan yang menerima aku dalam peluk derasnya. Bukan dia, engkau, mereka atau siapapun juga. Bahkan, aku pun sulit menerima keberadaan ku sendiri. Aku masih sulit memastikan jumlah titik-titik hujan itu, apakah sama banyaknya dengan jumlah harapanku, atau malah sama banyaknya dengan jumlah keputusasaanku. Entah apa yang akan dikatakan hujan kepadaku. Ini tahun  ke-sembilan di 29 Desember aku menggaulinya tanpa Audra. Ya, 29 Desember, 9 tahun lalu, tanggal dimana aku mengutarakan rasa cinta pada Audra pada waktu hujan di dini hari.  Mungkin hujan ini pun telah terlalu lelah untukku, hingga tiga tahun belakangan intensitasnya mulai berkurang untuk memeluk kerapuhanku .
Saat ini, hujan bagiku adalah peristiwa yang mesti dinikmati bersama. Tak mampu lagi aku menikmati hujan dalam kesunyian dan memandangi hujan seorang diri. Tak ada yang lebih damai selain bercengkrama di tengah rintik hujan bersama seseorang yang aku cintai. Audra. Aku sungguh mencintai wanita itu. Seseorang wanita yang entah sekarang di mana. Mestikah aku kehilangan impian yang justru paling penting bagiku?
Aku telah menjadi tahanan cintanya dan aku tak sanggup lagi berkompromi pada diriku sendiri. Aku bahagia saat itu, meski kumerasa tak mampu lagi lebih dekat. Sempat berpikir, kelak aku mungkin akan bisa melihatnya, merasakan cinta itu setiap hari, tapi ku tahu Audra tidak pernah di dekatku. Rasa sakit menyerap ke hati. Aku tak bisa membayangkan diriku dapat mencintai orang lain seperti cintaku pada Audra.
Ketika itu, Audra datang dimana aku memang membutuhkannya. Saat ia tak ada, aku selalu membayangkan dengannya. Sebelum kehadirannya, aku membiarkan hidupku seperti apa adanya karena memang aku rasa sudah tak ada harganya. Teman-teman se-angkatanku semakin sukses menapaki hidup, sedangkan aku hanya bisa diam tak bergerak, seperti tersudut pada suatu jalan buntu. Berkali-kali aku jatuh dan terperosok. Tinggal waktu yang akan bicara akan kemanakah aku. Ketempat yang entah akan berakhir di mana. Berharap memang selalu menyiksa dan membuatku sekali lagi rapuh. Banyak yang kurasa setelah itu ; sepi, kosong, sedih dan semuanya pergi. Aku kalah.
Aku mengenal Audra tak cukup lama. Namun, begitu banyak pelajaran yang aku terima. Audra mengajarkan aku mengerti tentang hidup. Salah satunya untuk memaafkan diriku sendiri atas kegagalan-kegagalan dan kesalahan masa lalu, dan jangan sekali-kali coba menolehnya. Sebenarnya, bisa saja ia membuangku ke masa lalu yang tidak aku sukai, namun ia lebih memilih menyia-nyiakan hidupnya bersamaku.
Audra adalah mahasiswi program master di Universitas Tekhnik Delft, Belanda. Ia menyapaku terlebih dahulu di akun jejaring sosial yang ternama pada masa itu. Awalnya ia tertarik dengan tulisan-tulisanku yang bernada elegi. Setelah itu kami sering mendiskusikannya, dan mendiskusikan banyak hal lagi. Perbedaan waktu antara siang dan malam membuat kami tak leluasa berkomunikasi. Audra sangat disiplin menggunakan waktunya. Week-end waktu yang dapat membuat kami begitu intens mengusik malam atau siang di sana. Di luar week-end kami hanya mengandalkan e-mail untuk saling bercerita.
Hingga tiba di Minggu ke tiga di Januari yang dingin yang tak pernah aku lupakan. Audra mengirimkan e-mail untukku;

Dear Damar,
Damar, Minggu ini aku di Praha. Ada seminar yang harus aku ikuti. Musim dingin yang menyedihkan, tapi aku harus pergi. Damar, kelak aku ingin kamu menemaniku keliling tempat-tempat indah ini. Aku ingin engkau ada di sini. Mendampingi aku dari satu kota ke kota lain. Hingga kita bisa melihat dunia yang indah ini dan mengerti banyak hal.
Damar, ada yang ingin aku katakan padamu. Ada impian yang hendak kutitipkan padamu. Hanya padamu, Damar. Lelaki yang begitu aku cintai. Aku tahu pada dasarnya kamu begitu tangguh. Kelak, tak ada satu pun  yang akan menyulitkanmu. Damar, aku telah menemukan sosok lelaki impianku. Kamu, Damar.
Sebenarnya aku hanya berpura-pura berani, tegar dan terbuka. Sebenarnya aku pun tak berani menghadapi kehilangan, karena itu banyak cerita yang aku suka darimu adalah cerita elegi. Aku suka tulisan-tulisanmu; Kehilangan nyawa, kematian orang terkasih, kepergian orang tua dan banyak lagi. Terkadang aku bertanya apa arti semua ini?
Damar, Aku mencoba meraba mengapa Tuhan melibatkanku ke dalam kisahmu. Jadi Tuhan ingin aku dan engkau belajar ketegaran dan keberanian. Itulah yang selalu ku harapkan. Aku mendadak mengerti dan paham.
Kelak kau harus mendapat apa yang kau impikan. Tak sekedar dapat, namun kau juga harus memperebutkannya. Ingatlah, banyak orang ingin kamu berubah. Banyak orang yang mendoakanmu. Jangan pernah lemah. Jangan pernah kau biarkan hidupmu pergi sedikit demi sedikit. Kau tak boleh begitu. Aku menyukai semua yang diatur Tuhan ini. Karena aku tahu dengan memiliki keseriusanmu terhadap hidup kau bisa memberi bahagia pada orang-orang di sekitarmu.
Damar, saat membaca tulisanku, mohon jangan menangis. Kelak dengan keyakinanmu, Tuhan akan tersentuh. Aku titip kebahagiaanku di dirimu. Aku tahu kau takkan mengecewakanku. Sekarang aku tinggalkan kenangan kita untukmu dan kenangan itu takkan pergi lagi.
Damar, Aku telah jatuh cinta pada seseorang pria "tersesat" yang sedang mencari jalannya bernama Ade Damar.

Aku mencintaimu, Damar.


Di selimuti Cinta,

Audra.

Setelah e-mail itu, tak lagi ku dapati sapa Audra. Gadis itu pergi lebih cepat meninggalkan bayang-bayangnya yang masih kupeluk. Serasa gelembung kegembiraan telah usai seiring kepergiaannya. Kenangan akan Audra terus berkelebat dalam kepalaku. Aku seolah takut menghadapi pagi, dan mengahadapi kesadaran bahwa tak ada lagi Audra di sisiku. Bagiku lebih nyaman dalam keadaan tertidur dibanding ketika terjaga dan pikiranku tersiksa memikirkannya.





Wanita itu selalu mengusik pikiranku, tak pernah pikiran ini dapat beralih dari Audra, berharap ia ada di sisiku. Aku merindukan Audra, merindukan kelembutan dan perhatian yang dicurahkan terus menerus kepadaku. Ia membuatku merasa amat dicintai dengan cara yang belum pernah dilakukan wanita lain yang pernah singgah di hatiku.
Aku selalu berharap pada Audra. Berharap kehadirannya, dengan harapan itu, aku bermimpi suatu saat kita bersama menjalani hari. Mimpi-mimpi yang membuatku terus berusaha memantaskan diri jika kelak ia hadir di dunia nyataku. Aku bekerja keras untuk itu. Untuk perubahanku. Aku tahu Audra tidak begitu mementingkan hasil apa yang akan aku dapat dari perubahan itu. Ia hanya ingin aku menikmati proses dan perjuangannya. Dan aku melakukan semua itu hingga kini, hingga perubahan itu menjadi buah yang aku nikmati. Namun tetap perubahan yang tak lengkap tanpanya. Kebahagiaan yang kosong tanpa hadirnya. Aku tahu kelak Audra akan datang. Itu janjinya, "Damar, walau aku tak tahu seperti apa akhir kisah kita nanti, namun aku pastikan, kita akan bersama-sama di akhir cerita ini."
Titik-titik air yang jatuh di atap membuatku terjaga dari pikiranku tentang Audra dan menyadari turun hujan. Lumayan deras. Kaca-kaca jendela seolah dipukul-pukul oleh butiran-butiran air yang menimpa tanpa ampun, dan ujung-ujung atap rumah meneteskan air dengan bunyi gemericik berulang-ulang. Kamarku semakin temaram dan nyaman.
Titik pertama hujan turun mengetuk jendela kamarku. Oh, tunggu . Sepertinya hujan itu bersuara. Ya, hujan itu bergumam padaku, "Sampai kapan kamu terus menunggu Audra?"
Lalu titik berikutnya menyusul, "Audra telah pergi.
Dan datang gerombolan jarum-jarum hujan menusuk-nusuk atap, jendela, dinding dan semua berujar bersamaan, "Audra sedih melihatmu begini."
Aku berhambur keluar menyambut hujan, meresapi fatamorgana suara itu. Kegelapan semakin pekat menyelimuti meski suasana tetap tak sepi. Dentuman-dentuman amarah guntur bersahut silih berganti.  Hujan turun makin lama makin deras. Taufan meraung-raung menghantamkan diri pada pohon akasia dan semak belukar seperti segerombolan setan yang sedang berang. Dan setiap terkena hantaman, pohon itu terguncang seolah-olah detik berikutnya pucuk-pucuknya akan mencium tanah. Terjungkal. Dalam sekejap saja aku telah basah kuyub mulai dari kepala sampai kaki, rambut, pakaian dan segalanya.
Sesosok wanita hadir dalam badai yang mengacak alam.Aku terkejut menatapnya. Postur tubuhnya menampakkan keanggunan, caranya menggerakkan tubuh, atau caranya menatapku. wajahnya sangat cantik, benar-benar merona. Kami saling menatap beberapa saat, sama sekali tanpa mengucapkan sepatah kata. Dunia terasa diam, dan di saat yang sama kami bisa merasakannya terkuak. Ruang dan waktu melebur pada momen itu. Kesunyian dalam diam merupakan tekanan yang tak tertahankan bagiku. Aku pun mulai memecah kesunyian.   Audra, aku merindukanmu."
"Aku juga, Damar." Audra bergerak maju memelukku. "Damar, maukah kau ikut aku."
"Aku akan bersamamu kemanapun, Audra. Bukankah dulu kamu berjanji bahwa kita akan bersama-sama di akhir cerita. Aku tagih janjimu, Audra."
"Iya, Aku penuhi janjiku padamu Damar." Audra mengapit tanganku dan melangkah dengan ringan seperti melayang. Semakin jauh kami melayang meninggalkan hujan yang sama sekali belum reda. Aku menoleh ke belakang, ke sebuah pohon akasia yang terjungkal karena badai tepat di depan rumahku. Batang dan pucuknya yang kokoh benar-benar nampak tak berdaya diayun angin hingga mencium bumi, menindih sosok tubuh kurus yang telah putus asa. Lelaki yang mirip sekali aku. Ia sedang bersimbah darah terjepit batang akasia yang kokoh itu. Ya, itu jasadku sedang meregang nyawa. Dan ruhku melayang bersama Audra.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar